Lima menit ketinggalan pesawat itu menyesakkan dada dan menipiskan dompet seketika. Hangus tiket! Walhasil harus membeli tiket baru dengan penerbangan terakhir di pukul sembilan malam. Padahal sekarang baru pukul empat sore. Segala pengaturan di Izmir di-jadwal ulang semua. Peraturan baru ditegakkan untuk saling mengingatkan dan datang tiga jam lebih awal ke depan. Bersiap!!! Bersabar kami di bandara Ataturk. Begitu konter check-in dibuka, kami rombongan besar ini langsung maju bersama yang pertama-tama. Petugas wanita itu hanya bisa geleng-geleng kepala sembari tersenyum bisa-bisanya 14 orang telat terbang semua.

  Dan hati ini tambah ngenes saat tiba-tiba ada pertanyaan.

  “Apakah di sini ada yang hamil?’ Rekan kerjanya itu menyapu pandangan ke kami semua. Tidaaakkk. Tidak lagiiii. Berkali-kali aku dicurigai sedang hamil di bandara-bandara Indonesia, sekarang Turki? Untuk lebih ngenesnya, pertanyaan ini langsung disambar teman-teman… Apakah anda bertanya karena melihat dia? Oh dia hamil dengan usia kehamilan sembilan tahun! Iya, hamil anak gajah! Huaa.

   Tengah malam tiba d Izmir, kerlap-kerlip lampu kota Selchuk tampak indah dari penginapan berdataran tinggi. Di Izmir sendiri kami akan menjelajahi tiga kota yakni Selchuk, Kushadasi dan Sirence. Kota-kota kecil di Turki yang membuatmu melihat sisi lain kehidupan Turki yang terkenal akan keramik-keramiknya, karpet-karpetnya, anggur, selain peninggalan-peninggalan peradaban masa lampau.

SELCHUK

    Trip ke Izmir melalui agen perjalanan. Jadi kami sudah disiapkan dengan bus dan tour guide-nya. Hisham sang pemandu kami dan sang sopir memang paket lengkap untuk melihat orang-orang Turki dari dekat. Sebagai grup yang terdiri wanita semua, kegantengan mereka membuat semangat perjalanan ini membara. Hisham yang sangat membantu ini bahkan mengungkapkan rahasia besar kepada kami!

    “Cikis dan Cikis itu beda artinya!” terangnya di tengah perjalanan sambil melafalkan satu kata secara berbeda. Cikis dengan lafal ‘cekes’ seperti ucapan ‘e’ dalam kata ‘ke’ artinya keluar, exit. Tapi cikis dengan lafal ‘cikis’ seperti ucapan ‘i’ dalam kata ‘di’ artinya bercinta, making love,ML! Oh tidaaakkk. Semua menjerit. Aku sendiri langsung menghitung dalam hati berapa kali aku bilang cikis yang ML di area publik. Ayo cikis, ayo cikis, itu di sana cikisnya! #tutupmulut

*Benteng Ayasoluk dan Reruntuhan Kuil Artemis

     Kedua tempat ini dilarang dimasuki. Jadi kami hanya melihatnya dari atas dataran tinggi. 

    Benteng Ayasoluk, sebuah benteng di atas bukit ini bahkan bisa kami lihat dengan jelas dari penginapan. Benteng yang dibangun dari masa Bizantium ini di bawah kekuasaan Ottoman menjadi tempat mengawasi pergerakan dari dan ke Selcuk melalui darat dan laut. Sekaligus menjaga Selcuk. 

   Kuil Artemis adalah peninggalan Yunani kuno di abad ke-6 Sebelum Masehi dan masuk dalam Tujuh Keajaiban Dunia. Reruntuhan di Kuil Artemis tempat memuja sang dewi Artemis, dewi yang memiliki payudara banyak ini melambangkan dewi penolong wanita melahirkan dan  perburuan alam liar. Artemis dipercayai sebagai anaknya Zeus dan kembaran Appolo dalam mitologi Yunani. Reruntuhan kuil ini kini hanya menyisakan satu pilar saja dengan bebatuan berserak di sana-sini termasuk satu meja persembahan. Di masa jayanya, kuil pemujaan ini memiliki 127 pilar dan sebuah bangunan yang megah. Kita hanya bisa melihatnya di dalam buku saja atau miniaturnya bagaimana kuil ini di masa lampau. Kebakaran dan bencana alam telah menghancurkannya. Pembangunan ulang tidak lah memungkinkan karena kendala biaya dan juga batu-batunya diambil untuk pembangunan mahakarya lain seperti Hagia Sofia dan juga bangunan di sekitar kuil ini sendiri.

   Sejauh mata memandang terdapat beberapa bangunan bersejarah di sekitar Kuil Artemis. Ada benteng Ayasoluk. Ada gereja Basilika Santo John dengan empat pilarnya. Ada masjid berkubahnya bernama Isa Bey. Keberagaman ini menunjukkan Turki setua peradabannya dari jaman Pagan, Kristen hingga Islam.

    Hisyam tak bisa menyembunyikan rasa bangganya saat menunjukkan bangunan-bangunan nun jauh di sana. Tiba-tiba dia berkata,”batu-batu di Kuil Artemis memang ada yang diambil untuk membangun beberapa tempat ibadah ini. Ini masa lampau! Tapi ada lho yang dari jaman modern! Lihat itu yang bersinar dari atap-atap!” lanjutnya sambil menunjuk ke perumahan sekitar bangunan-bangunan itu. Kami mencoba mengerti arah pembicaraannya.

   “ Yang itu sih diambil dari China!” Itu adalah atap untuk tenaga surya. #nyengir.

*Meryem Ana – The House of Virgin Mary

    Kami di Izmir saat perayaan Misa di seluruh dunia. Teman-teman kristiani pun memilih Meryem Ana sebagai gereja untuk ibadah misa. Terletak di atas Gunung Koressos atau Mount Nightingale, Meryem Anna juga terlihat dari penginapan kami. Untuk mencapainya, bus di parkir hingga di kaki bukitnya dan kita bisa mendakinya lewat undakan yang tidak seberapa banyak. 

    Meryem Ana dipercayai oleh peziarah Katholik sebagai tempat penampakan Bunda Maria, Ibunda Yesus Kristus. Rumah Kapel di tengah bukit itu ditemukan pada abad ke-19. Dan orang Katholik percaya, Bunda Maria tinggal di Kapel ini hingga Kenaikannya. Dilarang memotret bagian dalam kapel ini. Kapel sendiri tidak lah besar. Ada patung Bunda Maria di dalam kapel dengan meja persembahan untuk menyalakan lilin dan berdoa. Dan di kanan kapel terdapat sebuah ruangan yang dipercayai sebagai tempat Bunda Maria tidur. Sementara itu, gereja untuk kegiatan ibadah harian berada di atas bukit.  Pada Misa kali ini, Pastor memakai bahasa inggris karena jema’ah berasal dari berbagai negara termasuk Indonesia. Temanku menyebutkan dengan bangga asal negeri kami saat ditanya Pastor di antara banyak negara seperti Belanda, Amerika, Jerman, Philipina dan juga lokal Turki.

    Di jalan hendak keluar situs ini, terdapat Tembok Harapan di mana para peziarah menempelkan kertas-kertas atau kain-kain berisikan do’a-do’a dan harapan mereka. Ada juga keran air yang setembok dengan Tembok Harapan. Air ini dipercayai peziarah mempunyai kekuatan ajaib untuk menyembuhkan penyakit dan menambah kesuburan bagi pria dan wanita. 

*Kota Kuno Ephesus

     Tak jauh dari kedua situs kuno di atas, keajaiban dunia lainnya berada. Ephesus! Membentang sejauh kurang lebih empat kilometer untuk menjelajahinya, reruntuhan kota kuno peninggalan Yunani kuno ini dibangun pada abad ke-10 SM. Di masa Yunani kuno, Ephesus menjadi kota yang dipersembahkan untuk Dewi Artemis dan merupakan kota pelabuhan. 

    Dan di masa Romawi kota ini dibangun lagi dan mencapai masa-masa kejayaannya. 

    Di masa kekuasaan Romawi, Ephesus adalah kota kedua terbesar di dunia setelah Roma. Dan melihat reruntuhannya sekarang ini, tak bisa diragukan lagi Ephesus adalah kota Metropolis di jamannya. Kejayaan jaman pagan hingga kristiani jelas-jelas tergambar dari kota ini melalui rupa kota dengan patung dewa-dewinya, tempat ibadahnya, sanitasinya, rumah sakit, perpustakaan Celsus dengan pilar-pilar megahnya di sana-sini, transportasi dengan tempat tambat kuda, rumah sakit, tempat pertarungan gladiator hingga grand theater tempat pertunjukkan drama dan musik di masa lampau. Bahkan kalau kita cermati ada sebuah tapak kaki dengan ukiran bunga dan uang yang menunjukkan ke arah rumah bordil!

   Bagi umat kristiani, Ephesus memberi makna penting karena di sinilah Santo Paulus menuliskan injilnya. Dan kenyataan bahwa Meryem Ana tidak jauh dari kota Ephesus. Pada abad ke – 5 kota ini menjadi tempat pertemuan umat kristiani yang disebut Konsili. Konsili Ephesus sangatlah terkenal di kalangan umat kristiani.

   Kejayaan Ephesus memudar seiring waktu dengan berubahnya pelabuhan menjadi daerah sedimentasi, peperangan dan juga bencana alam. Reruntuhan ini menjadi sebuah cerita bagaimana orang-orang di masa lalu peradabannya dalam menata kota bisa menjadi acuan untuk masa modern. 

  

   Hari menjelang sore saat kami mengakhiri perjalanan ini. Besok kami akan melakukan perjalanan ke Kushadasi dan Sirence. Matahari masih tinggi di pukul 7 malam. Mendadak seorang teman berlari memasuki kamar dengan cemas menanyakan apakah kami melihat smartphone terbarunya. Kaget. Tidak kami tidak melihatnya atau menyimpannya. Dengan lemas temanku bercerita itu bahwa itu hape baru hadiah suaminya dan sepertinya ketinggalan di Ephesus arah menuju Perpustakaan Celsus. Seorang teman dan tour guide berbaik-hati balik ke Ephesus untuk menjejaki hapenya. Namun biar pun sampai gelap hari dan ditemani polisi, hape itu tidak ketemu juga.

  

  

   “Mungkin Dewa Nike atau Artemis tanpa sengaja menemukannya dan asyik selfie niiihhhh!” ujarku menghibur dirinya. “Relakan saja bu.” Garuk-garuk kepala, drama oh drama. Kapan kamu berakhir ya? #nyengirkudalagi.
   
    

   

Advertisements