‘Tensi’ panasnya situasi di Turki, terlihat dari banyaknya polisi yang berpatroli di sudut-sudut kota Istanbul. Tentara-tentara bersenjata lengkap menjaga di pintu masuk dan dalam tempat wisata. Tas dan pengunjung diperiksa serasa di bandara. Alih-alih menakutkan, ini menimbulkan rasa aman bagi turis. Bahkan satu dua anggota grup-ku tidak takut kelayapan malam-malam. Namun sempat pesan ajakan ber-traveling buat temanku dicurigai oleh  polwan. Setelah dibantu dijelaskan, kakak polwan itupun membantuku mengambil foto berpesan. #legaaa. Istanbul juga ketimpahan banyaknya pengungsi dari Afganistan dan Suriah. Terutama Suriah, mereka memenuhi jalanan meminta donasi.

  Dan sebagai negri dengan penduduk muslim sebagai mayoritasnya, Turki terlihat seperti Indonesia. Cara berpakaian bebas bagi para perempuan. Bahkan mereka fashionable sekali dengan empat musim yang dipunyainya. Pemisahan lelaki dan wanita hanya terjadi di masjid-masjid saja saat beribadah, selebihnya tidak ada perbedaan. Suara azan berkumandang lima kali sehari.  Orang Turki cakep-cakep, lagi-lagi mungkin ini perpaduan darah Asia dan Eropa dan ramah. Mereka tak segan mengajak ngobrol walau dengan bahasa Turki. Jadilah kami memakai bahasa tarzan dan selalu ku akhiri dengan wa alaikum salam. Hehehe.

  Dan sepertinya Indonesia cukup terkenal di Turki. Mereka tersenyum ramah saat ku sebut asal negeriku. Dan tak segan-segan mengajak foto bersama. Apalagi orang Indonesia bisa dikenali dari rombongan yang paling heboh dan doyan selfie. Di Festival Tulip, saat musik dimainkan, kami bikin acara fashion show yang sukses diberi tepukan dan diabadikan dari berbagai penjuru. Rambut merahku dan kesukaan foto dengan melompat tinggi, langsung dikenali dan gaya melompat diikuti oleh banyak orang di Tugu Sultanahmed Square. Di hari terakhir bahkan sebuah toko begitu heboh saat aku memasukinya. Pegawainya yang orang-orang Suriah memanggil boss-nya yang lalu menyambutku dan memuji penampilanku. Mereka ternyata memperhatikanku sejak hari pertama lalu-lalang. #malu…. Haleefa, gadis muda dari Suriah itu bahkan berkaca-kaca saat ku bilang aku akan balik Indonesia segera dan memelukku. Jadi terharu ih…. ‘Keuntungan’ lain ku dapat saat memasuki Blue Mosque. Pada hari jum’at mesjid ditutup untuk turis dari pagi sampai pukul dua siang untuk ibadah. Banyak turis yang dilarang masuk. Namun saat ku bilang kami dari Indonesia dan muslim, langsung diperbolehkan masuk!

    Dengan penginapan yang dekat pusat kota, tinggal jalan kaki saja, wisata mainstream di Istanbul langsung aku nikmati. Aura magis tercipta melihat rupa Istanbul dari dekat. Perpaduan Asia-Eropa, Timur-Barat selaras dengan indahnya. Melalui bangunan-bangunan cantiknya, jalan-jalan ber-paving di dalam kota, sistem transportasinya dari public transport semacam kereta/trem dan bus-bus, makananya dan juga orang-orangnya. Modernitas tanpa membuang keunikan budaya Istanbul lewat bangunan-bangunannya membuatku jatuh cinta. Seperti melalui lorong waktu dari jaman kekaisaran Bizantium, saat Istanbul masih bernama Konstantinopel di tahun 660 dengan Romawi dan Kristen sebagai rujukannya. Hingga kekaisaran Ottoman dengan Sultan Mehmed II merebutnya di tahun 1453. Dan menjadikan Istanbul sebagai simbol budaya Islam. Turki menjadi republik di tahun 1923 yang mengubah wajah Turki menuju ke arah modern dengan Presiden sebagai Kepala Negaranya hingga sekarang ini. Mustafa Kemal Pasha menjadi Bapak Bangsa Turki modern setelah melawan Pemerintahan Sekutu yang mengalahkan Kesultanan Ottoman sebelumnya.

 

BLUE MOSQUE

   Kegembiraan diijinkan memasuki Blue Mosque di Jum’at pagi, membuatku lupa waktu. Tertawan hati ini dengan indah dan megahnya Blue Mosque yang luas dipadu keramik-keramik biru indahnya, berpilar-pilar dan hiasan kaligrafi di setiap bagian hingga kubah-kubahnya. Masjid tinggalan Sultan Mehmed  disebut juga sebagai Masjid Sultan Ahmed, mewariskan perpaduan gaya Islam klasik dan masa Ottoman.

   Sebagai muslim tentu saja kami langsung sholat di dalamnya. Masjid yang luas ini, ternyata hanya memberikan ruang yang kecil saja untuk jama’ah wanita. Dan karena sedang direnovasi, tempat wudhu yang unik dengan tempat duduknya ini sangat jauh buat wanita. Di sini juga tersedia Al Qur’an dalam berbagai bahasa, gratis.

   Lama di Blue Mosque membuat kami berdua terpisah dari rombongan yang tak tahu kami memasukinya begitu diijinkan. Kami sungguh menikmati luas dan indahnya Blue Mosque dan segala sudut sangat Instagramable! Apalagi halaman luarnya sangat luas dengan taman bunganya.

   “Are you a photomodel?” tanya petugas jaga di pintu keluar.  Oh oh oh… aku hanya bisa cengar-cengir. Cekrek! Bertiga.

Hippodrome

   Taman luas dengan Tugu menjulang ini terbentang dari luar kompleks Blue Mossque hingga Hagia Sofia. Di era kekaisaran Romawi, ini adalah tempat pacuan kuda. Taman terbuka ini kini dihiasi dengan tugu, air mancur, bunga-bunga terutama tulip dan juga Germain Fountain hadiah dari Kaisar Wilhem II. Bergaya neo-Byzantine, air yang memancar di sekeliling bangunan ini bisa dinikmati langsung. Taman ini dikenal juga Sultanahmed Square.

  Jadi kalau kecapaian berkeliling, beristirahatlah di Sultanahmed Square. Di terang hari, banyak turis-turis baik lokal maupun asing. Dan sepertinya ini juga menjadi ajang ketemuan muda-mudi Turki bahkan keluarga. Di gelap hari, pertunjukan air mancur mewarnai dan penjual makanan penghangat ragawi ada di sana-sini, tetap rapi, bersih dan harga dicantumkan. Kastanye rebus, jagung bakar dan rebus.

Hagia Sofia atau Aya Sofia.

  Bersebrangan dengan Blue Mosque, kemegahan Istanbul lainnya berdiri. Didirikan oleh Kaisar Bizantin, Justinian, di tahun 532-537, Hagia Sofia adalah sebuah gereja. Kejatuhan Konstantinopel ke tangan kekaisaran Ottoman merubah fungsinya menjadi masjid. Walau di kemudian hari, fungsi sebagai masjid utama digantikan oleh Blue Mosque. Itulah mengapa  ada kemiripan di sana-sini antara keduanya. Hagia Sofia dirubah menjadi museum di tahun 1935 oleh Pendiri dan Bapak Turki modern, Mustafa Kemal Ataturk.

   Hiasan kaligrafi di Hagia Sofia memberikan cerita bagaimana perubahan itu terjadi. Pasang surut dari masa Bizantium hingga Ottoman: kejayaan, kejatuhan dan kebangkitannya. Sehingga tidak heran jika di dalam bangunan kuno yang megah ini,  Allah, Yesus, Bunda Maria dan Muhammad saling berdampingan.

  

 

   Ada mimbar buat imam berpidato dan memimpin sholat. Ada ruangan buat mu’adzin mengumandangkan azan untuk sholat. Ada pemandian untuk pembaptisan. Ada lonceng gereja. Dan menempel dengan Hagia Sofia, lewat pintu masuk dekat Istana Topkapi, terdapat kompleks pemakaman beberapa Sultan, pangeran dan permaisuri masa Ottoman. Beberapa pengunjung termasuk aku langsung mendoakan para mendiang yang muslim dan telah tiada.

TOPKAPI PALACE

  Museum Topkapi yang berhalaman super luas dan berbatasan langsung dengan laut selat Bhosporus ini merupakan kompleks istana di tahun 1459. Di bawah Sultan Mehmed II, Topkapi menjadi pusat pemerintahan dengan bangunan dan fasilitas lengkap masjid, asrama-asrama termasuk harem-harem, sekolah, masjid, perpustakaan bahkan rumah sakit dan tangki air bawah tanah raksasa. Tangki air ini dinamai Baslica Cistern dan pernah muncul di film James Bond dan Inferno! Sayang bagian ini terlewatkan karena sempitnya waktu.

  Bangunan di Istana Topkapi yang kini dirubah sebagai museum ini berisikan berbagai barang dan pajangan peninggalan masa Ottoman. Seperti senjata, baju-baju kekaisan, mahkota sultan, perhiasan kerajaan, Al Qur’an raksasa, keramik-keramik, miniatur ka’bah dan banyak lagi. Namun peraturan yang ketat di sini dilarang memotret! Jika nekad kamu akan ditegur penjaga.

GRAND BAZAAR

   Pasar tertua di dunia ada di Istanbul dan dilindungi sebagai warisan dunia oleh Unesco. Berusia lebih dari 550 tahun, pasar ini menjual berbagai barang dari karpet, keramik, baju, jaket, pernak-pernik souvernir, perhiasan, kerajinan kulit, jajanan turki, dan segala kebutuhan. Ini membuat Grand Bazaar menjadi tempat belanja favorit lokal maupun turis.

  Memiliki 4400 toko, Grand Bazaar bisa ‘menyesatkan’ para sophaholic! Badan sekaligus dompetnya! #nyengir. Hati-hati juga dengan pencopet. Seorang teman hampir saja kecopetan, untungnya segera sadar meski dompet berisi passport-nya sempat jatuh ke tanah. Pencopetnya kabur dengan cepat.

SPICE MARKET

  Sesuai namanya, tempat ini menyediaan banyak rempah-rempah, bumbu-bumbu dapur, buah kering, teh, kopi dan manisan. Tentunya Spice Market akan ‘memabukkan’ buat para penyuka makanan dan masakan.

  Spice Market terletak dekat Jembatan Galaga, di distrik yang lain dengan kompleks Sultanahmed Square. Bisa naik trem untuk mencapainya. Namun kalau malas mengantri tiket yang cukup panjang, bisa juga sih jalan kaki dengan mengikuti jalur trem seperti yang dilakukan teman-temanku! Niat!

FESTIVAL TULIP

   Festival Tulip terjadi di akhir April. Di masa ini, bunga-bunga tulip menghiasi kota-kota Turki. Aku menyaksikannya di Istanbul dan Konya saat itu. Taman-taman dadakan berisikan bunga-bunga tulip beraneka warna dan jenis. Orang-orang bisa melihatnya dari samping atau panggung tinggi di kiri-kanannya. Melihat kenyataan, bahwa tulip ada di setiap tempat Turki, menurutku justru Turki yang pantas disebut sebagai negara tulip.

   Di jalan keluar kompleks Topkapi Palace pun ada taman tulip yang sungguh luas dan indah. Taman ini dihiasi dengan jembatan-jembatan kecil, kolam-kolam dan sebuah patung Ataturk.

 Terpisah dari rombongan membuatku rugi dua belas. Kami harusnya mendapatkan Museum Pass seharga 85 Turki Lira (TL) dan bisa memasuki 12 Museum untuk lima hari! Di Hagia Sofia, aku dan seorang temanku harus merogoh kocek pribadi 40 TL per orang dan antrian yang panjang. Tak heran banyak calo tiket di sini. Museum-museum lain berserak di berbagai tempat yang tak mungkin dihabiskan dalam satu – dua hari di Istanbul. Aku menebusnya lewat wisata menjelajahi selat Bosphorus, meski hanya melihat museum-musem itu dari kejauhan. Ada Maiden Tower yang ada di tengah-tengah selat. Masjid Ortakay. Dolmabahce Palace. Topkapi dari Selat. Benteng Rumeli Hisari. Jembatan Galage yang menghubungkan kota lama dan baru Turki bagian Eropa. Dan Galage Tower.

   Spot-spot wisata yang ada di Istanbul sungguh-sungguh Instagramable! Saking asyiknya untuk mendapatkan foto, seorang temanku kakinya terkilir saat foto pose lompat… Hicks, ngilu. Bengkak dan diperban, aku memohon semoga ini menjadi drama yang terakhir di Turki. Bagaimana ceritanya coba, acara akan full jalan kaki karena di Turki tak ada ojek, apalagi yang gendong!

  Namun nyatanya keesokan harinya, saat mobil jemputan terlambat datang ke hostel untuk terbang ke Izmir. Dan macet melanda Istanbul jelang referendum… perjalanan ke bandara Attaturk yang hanya 15 menit normalnya menjadi bencana! Mobil sudah dikebut melalui gang-gang di sekitaran Sultanahmed Square, menerobos antrian di bahu jalan. Turun di parkiran, lari-lari memasuki bandara, terengah-engah di konter check-in Turkish Airline….

  “Maaf, pesawat sudah terbang ke Izmir lima menit yang lalu.” Kata petugas dengan menyesal. Tidaaaakkkkk. 😭😭😭

(BERSAMBUNG)

Advertisements