Kasus anak-anak hilang di pesawat terpecahkan, setelah aku dan teman menjelaskan bahwa kami bertukar tempat duduk. Suara ribut anak-anak terdengar, pramugari menoleh ke arahnya.  Kasus ditutup! Damai menurun. Rombongan kami mendapat keramahan yang luarbiasa dari para kru pesawat setelahnya. Ini sebagai apresiasi atas keikhlasan kami. Jendela mana jendelaaa. Yang ternyata harus ditutup sepanjang perjalanan karena cuaca panas di luar pesawat. Anak-anak yang hiperaktif termasuk para orang-tuanya yang arogan pun jadi sama saja seperti kami. Tak bisa melihat dunia luar. Karma memang menjengkelkan! #nyengir.

  Sesampainya di Istanbul, matahari masih tinggi di senja hari. Jetlag menerpa, berasa mengantuk terus. Keluarga besar Arab dengan anak-anaknya yang hiperaktif heboh sendiri dalam bahasanya. Mendadak mereka jejeritan tak karuan karena seorang anak yang seharusnya sudah tidak memakai baby-stroller, jatuh terjerembab se-stroller-stroller-nya. Ya Allah, kami ikhlas bener kok. Sebenarnya tak apa-apa karena lantai dilapisi karpet tebal menuju antrian imigrasi. Jejeritan orangtuanya bikin si anak makin kejer nangisnya. Ya Allah…. #prihatin

 Antrian di konter imigrasi mengular, dengan 12 petugas saja di depan. Hawa juga panas. Tentu saja kepala berambut merah selalu menarik perhatian, dari yang curi-curi lihat, jelas-jelas lihat, bisik-bisik sampai anak kecil dalam kereta bayinya nganga. Sembari menunggu aku siapkan lagi passport dan visa, menghilangkan rasa jengah. Meski visa jenis VOA, kita bisa mengurusnya terlebih dahulu lewat online kedutaan besar Turki di Jakarta. Dan biayanya lebih murah melalui online. Setelah hampir satu setengah jam mengantri, teman di depanku berhasil lolos.

  Tetap senyum meski di mana-mana petugas imigrasi itu jutek, ku serahkan semua dokumen perjalananku termasuk tiket. Pas membaca kopian visaku, mendadak petugas berdecak dan berteriak ke temannya, “Indonesia!” dilanjutkan dengan bahasa Turki yang aku tak paham. Ada nada tak sabar dalam suaranya. Dia menyerahkan visaku, terdengar merepet. Temannya mendekat, menunjukkan kolom tanggal masuk 14 April padaku, menuliskan tanggal 13 di atas kertas visa dan bertutur lagi dalam bahasa Turki. Ya ampun! Aku memohon bisa masuk. Aku dalam bahasa Inggris, dia dalam bahasa Turki. Tang ting tung tidak nyambung! Berasa sumpek dan capai, membayangkan mengurus visa lagi. Pasti antri lagi. Tak bisa dibujuk, aku pun ngeloyor ke konter Visa On Arrival.

 Ku tunjukkan visa yang sudah di-issue oleh Kedubes Turki di Jakarta. Eh petugasnya bilang kalo ini fake, palsu! E ladhalah! Hanya karena tak bisa online dan mengecek visa karena beda hari bukan berarti ini palsu. Beberapa orang dari negara lain mengalami nasib yang sama. Kami harus tinggal di bandara sampai tanggal boleh masuk yang tertera di visa. Atau kami membayar 35 Dollar Amerika untuk segera masuk ke Turki. Jika menunggu esok hari, masih empat jam lagi. Badan sudah remuk rasanya dan kami ditunggu mobil jemputan ke hotel. Uh! Sementara harga visa on arrival  mahal juga dan harus dalam matauang dollar Amerika. Dua orang dalam rombonganku ternyata mengalami nasib yang sama. Kami pun memutuskan untuk membayar VOA saja.

  Stiker visa dilekatkan, masalah lain menunggu. Berat sekali rasanya harus mengantri lagi dan sampai sekarang masih mengular naga panjangnya. Petugas konter visa menyarankan kami ke customer service bandara. Drama pun dimulai dengan wajah melas, biar gendut tapi lemah. Aku dijadikan alasan teman-teman untuk memotong antrian. Dengan bicara soal kondisiku yang bisa drop, petugas pun menyuruh kami langsung ke konter imigrasi. Nah masalahnya tak ada yang menemani kami. Kami pun nekad menerobos barisan disertai cibiran dan teriakan para pengantri. Menghentikan kehebohan, aku berinisiatif mendekati seorang pria tua yang nyinyir sekali dan berulang-kali bilang kami ‘cheating’, curang! Aku jelaskan kronologinya disertai tulisan tangan petugas imigrasi di visa-ku. Keributan ini juga membuatku takut petugas imigrasi dan keamanan akan mengusir kami berempat.

  Ternyata tidak! Meski dilayani petugas yang berbeda, stempel masuk ke Turki dicapkan ke passport kami. Lega rasanya! Sikap kurang mengecek-ulang ini harus dibayar mahal. Jadi pembelajaran untuk lebih memperhatikan lagi semua detail dokumen perjalanan di kemudian hari. Jangan anggap enteng, bisa-bisa kita diusir dari suatu negara!

 Hawa dingin menerpa begitu keluar dari bandara. Turki mulai meninggalkan musim dingin menuju panas. Tapi sisa-sisa musim dingin masih terasa. Waktu sudah mendekati pukul 21.00 tapi seperti senja hari. Dan seperti kurang masalah saja, bus penjemput tidak cukup! Terpaksa seorang teman ditinggal dan akan menyusul dengan mobil lain.

 Dalam perjalanan menuju penginapan, Blue Mosque yang terkenal itu menampakkan menara-menara dan kubah-kubahnya yang gagah di kiri jalan. Wow! Bahkan bus berjalan mendekatinya! Berhenti tepat di sebuah penginapan, kami disambut dengan tatapan keheranan seseorang yang sepertinya orang penginapan ini. “Anda sudah booking?”  Mengangguk. “Anda yakin?” Mengangguk pasti! Seseorang keluar dari hotel dan mereka bicara dalam bahasa Turki. Aku menjelaskan bahwa temanku yang memesan penginapan ada di mobil lain. Dia akan menjelaskan nanti. Sementara hatiku mencelos melihat penginapan bertingkat tradisional yang  unik  tapi tidak memakai lift. Tiga tingkat saja, tapi koper-kopernya? Terdengar keributan di belakang bus. Duh! Sopir bus tidak mau menurunkan semua koper-koper karena belum dibayar. Padahal kami sudah pengen cepat-cepat masuk kamar, bersih-bersih dan tidur. Pihak penginapan juga tidak mempersilahkan kami masuk. Waktu terasa lama hingga tubuh terasa kebas saat mobil temanku datang dan memberitahu kami salah penginapan. Capjayyyy deeehhh. Bernama depan sama, belakangnya beda! Salahnya sendiri juga tak membaca lagi itinerary yang super lengkap!

  Sopir bus kami hanya nyengir kuda dan membantu menaikkan lagi beberapa koper yang terlanjur turun. Tiba di penginapan yang benar, meski sama tanpa lift, kami disambut ramah pegawai penginapan. Tanpa ba-bi-bu barang-barang diturunkan tanpa ditahan-tahan. Koper-koper untuk lantai atas dibantu diangkatkan, teh hangat disediakan. Lega rasanya. Blue Mosque sangat dekat saat kami beringsut masuk ke penginapan.

    Tolong…. jangan ada drama lagi di antara kita. Iyakah?

(BERSAMBUNG)

Advertisements