Kehebohan trip ke Turki di mulai sejak teman baikku mengirim pesan ada tiket promo murah meriah ke Turki. Meski harus ke Kuala Lumpur, Malaysia terlebih dahulu. Harga tiket yang hanya 4,2 juta pulang pergi ini langsung membuat mata membeliak tanda nafsu jalan ke sana! Tanpa ba bi bu, aku balas pesan temanku dengan kata,” IKUUUT!!!”. Kami akan berbagi biaya dan backpacker-an menjelajahi Turki yang eksotis dengan perpaduan Timur-Barat-nya, Asia-Eropa-nya. Apalagi visa yang diberlakukan adalah VOA- Visa On Arrival. Tempat-tempat wisata mainstream di Turki semacam Blue Mosque, Hagia Sofia dan juga Balon Terbang di Cappadocia, membayang di pelupuk mata!

   Euforia di awal ini menurun jelang hari-hari keberangkatan. Bukan rahasia, jika tiket promo biasanya berlaku untuk perjalanan beberapa bulan kemudian. Pun demikian dengan rencana trip Turki kali ini. Butuh empat bulan lebih dari pemesanan tiket hingga jalan. Dalam rentang waktu itu apa saja bisa terjadi. Kehidupan politik di Turki tiba-tiba bergolak hebat yang berimbas pada upaya makar ke pemerintahan resmi, suasana kacau.Travel Warnin dikeluarkan banyak negara untuk menghindari Turki.  Semua takut Turki akan berakhir seperti Suriah dan Irak mendekati akhir tahun 2016. Pesan-pesan pun bersliweran di antara kami. Menggunjingkan nasib trip juga tiket pesawat yang terbayar lunas. Dan mendekati hari-hari keberangkatan di April 2017, berita-berita tentang bom di tempat wisatanya jug referendum untuk mengakhiri kekuasaan Parlemen ke Presiden, membuat was-was akan keberhasilan trip ini. Referendum itu sendiri dilakukan saat kami di Turki, kalo jadi…. Safety first!

  Dalam cemas kami, masalah lain bermunculan. Trip dengan tiket promo ini mencantumkan sebagai trip berombongan. Itu artinya semua nama yang tercatat dalam booking-an tiket harus berkomitmen untuk berangkat semua. Kami yang terpecah dalam tiga kloter pun harus menghadapi dilema ketika dalam rentang waktu empat bulanan itu, masing-masing peserta mengalami permasalahan yang bisa berakibat gagal jalan! Maskapai sudah memperingatkan tak akan ada refund. Jika pun ada, peserta yang tersisa harus membayar 7 jutaan per kepala sebagai kompensasinya. Alamak! Kemungkinan “No Show” seperti berjudi, takut ketahuan maskapai. Dan trip yang memakan waktu 12 hari pas ini mewajibkan tiap orang untuk menyesuaikan jadwal pribadi atau kerja.

   Drama memuncak dari yang barusan dapat kerjaan baru, ada yang mengundurkan diri dari pekerjaan (demi, demi!), tak diijinkan boss di tempat kerja, ada proyek penting yang tak bisa ditinggalkan, hingga masalah passport diumpetin lakinya. Ya Allah Ya Tuhanku… mewek mewek deh! Tiap hari ratusan pesan bersliweran dengan penjelasan-penjelasan bernada memohon, berbantahan dan pencarian solusi. “Oke, kita deketin lakinya biar kasih passport-nya… ah check-in ajah di KL trus ga usah terbang… minta tolong hrd dan boss-nya lah … mana sanggup bayar segitu lagi… aku dah resign iniiiii …. aku baru kerjaaa …. udah tanggung renteng aja bagaimana? …” dengan segala bumbu emoticon dari pasrah, marah, nangis, pesimis….

   Hingga, kecuali soal passport yang ‘diumpetin laki’ dan bisa di-nego dengan maskapai sebagai force majeur, semua berakhir bahagia dengan emoticon cinta, pelukan, lega di pesan-pesan kami. Mengharukan juga, maklum kami beda kota dan beberapa baru akan kenal di bandara nanti. Semua siap berangkat dengan pertaruhannya masing-masing, meski dibayangi akan kondisi politik dan keamanan di Turki yang tak pasti. Bismillah.

    

   Hmmmm, perasaan drama belum berhenti nih. Sehari sebelum berangkat saja, acara pewarnaan rambut menjadi ‘bencana’ saat merahnya ‘nge-jreng’ seperti pentol korek api menyala. Tak ada waktu memperbaiki, be confident saja! Saling tunggu di bandara Soetta, menyebabkan aku yang sudah dua jam sebelumnya tiba justru telat memasukkan koper ke bagasi. “Bawa saja sampai ke tangga pesawat, nanti kami urus,’ kata petugas check-in. Whuaaa! Ini berat, belum lagi pemeriksaan imigrasi! Teman yang sama-sama dari Jakarta sudah panik saja karena di kopernya ada barang-barang cair melebihi yang diijinkan. Namun petugas tetap menyuruh kami membawa barang-barang bawaan kami melewati imigrasi dan menjamin semuanya aman. Tentu saja tidak! Imigrasi langsung curiga koper sebesar gaban ini kok dibawa ke kabin. Apalagi temanku yang diharuskan buka koper! Minggir berdua, diperiksa! Temanku yang menghindari pembukaan bagasi segera berlari menuju ke gate maskapai meminta pertanggungjawaban. Aku dan petugas imigrasi tak bisa berbuat apa-apa, tak berani buka. Sambil menunggu, tampak beberapa orang dicekal keluar barang-barangnya. Seorang India bersikeras dia sudah memakai parfumnya dan tinggal sedikit.  Tapi tetap saja ditahan karena yang jadi patokan adalah kemasannya. Dalam perbantahan ini, aku bantu menjelaskan ke si India dalam bahasa inggris. Beberapa orang lainnya diharuskan menghabiskan air minumya di tempat. Temanku datang tanpa petugas maskapai, gawat! Dia bersikeras pihak maskapai-lah yang menyuruh kami membawa koper-koper terlebih dahulu. Entah apa yang terjadi, justru petugas imigrasi menemani kami ke gate dan memastikan ucapan-ucapan kami. Lega rasanya, apalagi kemudian pihak maskapai bilang,”Tinggal saja di sini. Kami yang akan urus.” Horeee tak perlu bawa sampai ke tangga pesawat! Tahu kan di Soetta itu gate di mana, pesawat di mana, sampai harus naik bus! Pesan moralnya, jangan tunggu-tungguan! Begitu sampai, langsung check-in!

   Dua kloter yang berangkat duluan ini pun, bertemu dan berkelana dari bandara ke bandara. Dari tiga kota di Indonesia menuju Malaysia dan Qatar, tempat transit sebelum ke Turki. Di Doha, Qatar setelah tujuh jam di udara kami pun berjalan cepat untuk segera check in. Apalagi aku yang punya pengalaman tak enak sebelumnya. Bandara Doha luas dan kami tak menguasai medan. Sembari melemaskan kaki dan menggendutkan pantat yang serasa tepos pos, aku berjalan setengah lari. Itu pun masih di-warning orang di belakangku. ”Red hairrr…. beep beep, red hair beep beep…” Seorang pria arab berjas berlari melewatiku, menoleh sambil tersenyum manis. Baru aku sadar, orang-orang memperhatikan rambutku. Mak! Berlagak cuek dan percaya diri.

   Lega. Ketemu juga counter check-in nya. Melewati pemeriksaan passport dan visa, eh ditanya-tanya petugas pula apa tujuannya ke Turki, sampai kapan. Padahal yang lain-lain tidak. Tunggu aku di sini, Abang! Hahaha. Duduk manis di kursi pesawat menghadap jendela, bersiap untuk lima jam penerbangan berikutnya. Tapi kok sudah hampir setengah jam di dalam tak jalan-jalan?

   Sebuah keluarga besar Arab dari kakek hingga cicitnya ngeyel berat tak mau duduk jika tidak mendapatkan kursi dekat jendela! Bantahan keluarga besar itu, bujukan para kru dan pilot tak selesai-selesai. Rombongan Indonesia akhirnya mengalah disertai ucapan terimakasih tak henti-henti dari maskapai juga pemberian dua gelas wine bagi yang mau. Capai deh, mana keluarga itu tak ada ucapan terimakasihnya dan sempat galak saat mau duduk. Hello! Assalamu’alaikum! Sabar-sabar, orang sabar pantat gendut menepos biarkan. Pasang earphone, buka selimut, menikmati penerbangan dan bersiap melupakan drama-drama…. mendadak seorang pramugari dengan mimik cemas berat tampak berbicara kepadaku. Ku buka earphone hanya untuk mendengar pertanyaan,”Di mana rombongan anak-anak di sini tadi ya?”

   Aku melongo….. Mba pramugari kudeeeettttt ahhh.

(Bersambung)

Note: kudet= kurang detail

Advertisements