Penjelajahan ini sampai juga ke titik akhir, sebelum kami benar-benar bertolak dan berlabuh di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Tiga hari tiga malam, hidup di atas lautan memberi banyak pengalaman buatku secara pribadi. Di laut, tepatnya hidup di atas kapal membuatmu lebih pengertian dan saling bantu satu sama lain. Laut yang tak bisa ditebak sama sekali, kadang tenang, kadang bergolak. Seperti juga perasaan dan kondisi masing-masing orang yang di kapal, naik dan turun. Saat laut bergolak bersama angin dan hujan, dalam doa sunyi kami bersama mencoba menenangkan diri dan yang lainnya. Saat bersahabat dengan Langit, Lautan yang tenang akan memberimu keindahahan angkasa dengan bintang gemintangnya yang menyala terang. Sayang aku tak bisa membaca bintang, tapi sinarnya yang terang berserak di angkasa sangat menenangkanmu juga teman-temanmu. Perjumpaan-perjumpaan secara tiba-tiba dengan makhluk-makhluk lautan dari ikan lumba-lumba, penyu, ikan-ikan beragam jenis, membuat penjelajahan ini semakin berwarna. Membuatmu berlarian kesana-kemari sambil jejeritan tak terkendali berharap mereka terus menampakkan diri. Pulau-pulau berserak sepanjang timur hingga ke barat Nusa Tenggara. Ditambah dengan atraksi alam, matahari terbit-matahari tenggelam di cakrawala lautan. Luarbiasa!

     Pulau Satonda, pulau terakhir yang kami singgahi, membayang di hadapan. Konon kabarnya di pulau itu ada sebuah danau air asin. Jika kamu berenang di dalamnya dan berhasil mengambil batu kecil di dasar danau, kamu bisa menggantungnya di sebuah pohon disertai sebuah harapan. Apapun harapanmu, gantungkan. Kebanyakan sih katanya harapan akan cinta. Manisnya!

    Kami langsung menuju ke Danau Satonda, walau pun sebenarnya danau tersebut akan lebih indah bila dilihat dari atas bukit. Tapi untuk menaiki bukit yang bisa memakan waktu 1,5 jam hingga 2 jam untuk yang terlatih (tak janji yang tak terlatih!), setelah berhari-hari di lautan kami semua tak sanggup. Dan cukup mudah menuju ke danau Satonda karena ada jalur yang dibangun membelah pulau menujunya.

    Teduh di antara bukit-bukit dan pepohonan. Sunyi. Hening. Tenang. Menghanyutkan. Ada perahu di pinggiran. Tak ada yang berenang riang. Meski banyak orang lalu-lalang.

   Begitu kesanku akan perjumpaan pertama dengan danau Satonda yang melegenda. Aku pun mengurungkan niatku untuk berenang dan mengambil batu di dasar danau. Seperti ada ‘kekuatan’ yang menahanku dan memberikan aura hormat akan alam yang kuat. Aku akan tahu kemudian hari bahwa Danau Satonda ribuan tahun yang lalu, konon kabarnya adalah air danau tawar. Gunung Api Satonda yang lebih besar dari Gunung Api Tambora yang legendaris itu pernah meletus dan menimbulkan tsunami besar. Tsunami itulah yang menurut cerita para tetua menggantikan air danau yang tawar menjadi asin hingga sekarang. Juga sebagai pulau larangan atau terkutuk untuk ditinggali. Pulau ini menjadi pulau buangan seorang puteri bernama Dae Minga yang jadi rebutan banyak raja-raja. Daripada menimbulkan banyak pertikaian, dibuanglah putri cantik ini ke Pulau Satonda. Hiks. Ah, syukurlah aku menuruti intuisi tidak sembarangan dan berenang-renang di danau ini. Dan memilih menikmati keindahannya dari tepian danau saja.

    Namun aku akui suasana syahdu di Danau Satonda ini menenangkan jiwa. Dikitari banyak bebukitan sejauh mata memandang, desau anginnya sangat lembut di telinga. Air-nya beriak halus, hampir tak nampak. Dan benar di tepiannya, ada pohon-pohon dengan batu-batu kecil bergantungan pesan-pesan dari para pengunjungnya. Balik ke niatan masing-masing, ntah untuk iseng-iseng saja atau memang benar-benar menaruh harapan, konon kabarnya semua harapan yang digantungkan ini akan dikabulkan. Percaya tidak percaya.

    Dan baju renang benar-benar terpakai justru di tepian pantainya yang hanya berjarak 200-an meter saja dari danau Satonda. Meski tidak berpenghuni, ada penyewaan alat-alat snorkeling, penjualan souvenir-souvenir, cemilan dan minuman di pulau ini. Penduduk sekitar hanya akan datang di pagi hari untuk liburan atau berjualan untuk kemudian balik lagi ke pulau masing-masing dengan menyewa kapal atau menaiki kapal-kapal yang beroperasi ke pulau Satonda. Mereka membekali diri dengan makanan berlimpah karena tak ada yang berjualan makanan.

    Pulau Satonda.  Sebelum matahari benar-benar tenggelam, kami sudah bertolak meninggalkannya. Dengan segala harapan, cerita legenda dan misterinya.

Advertisements