Penjelajahan Flores ini membentang dari Timur ke Barat, dari Labuan Bajo di Timur Nusa Tenggara menuju ke Barat Nusa Tenggara. Memasuki hari ke-tiga menuju perairan Sumbawa, penjelajahan Flores lewat lautan ini pun mulai memakan ‘korban’. Ada yang masuk angin parah hingga hanya bisa tiduran saja dan diolesi obat gosok. Mabuk laut mulai menyerang. Juga pusing kepala. Aku sendiri yang sedari awal mengalami iritasi mata, semakin parah saja tingkat kegatalannya. Untungnya aku bawa obat tetes mata dengan resep dokter.  Mata yang merah cukup membuat ku panik, takut menular ke se-isi kapal. Aku pun rajin menetesinya dan memakai kacamata untuk menghindari penularan. Sakit mata dan kelelahan juga membuatku irit bicara. Demikian juga para balita, dua orang, yang mulai bosan dengan batasan teritori di kapal. Hanya sepanjang geladak kapal bagian bawah saja mereka boleh bergerak. Itu pun disertai teriakan larangan, perintah berhati-hati dan penangkapan penuh kengerian saat Ilal balita umur 2 tahunan yang jalannya belum lempeng, mendekati tepian kapal. Alamak takut kecebur di laut!

   Di malam itu, cuaca kurang bersahabat dan laut pun bergolak. Angin mendesau liar dan di beberapa tempat dalam perjalanan ke Pulau Moyo, hujan turun. Tirai-tirai kapal dipasangkan untuk menghindari angin masuk ke dalam.  Aku yang bosan tidur di geladak bagian bawah, malam itu memilih pindah ke atas. Dan di cuaca seperti ini, jelas ini pilihan yang salah. Guncangan kapal sangat terasa. Angin memukul-mukul tirai kapal terdengar liar. Susah sekali memicingkan mata. Walhasil sepanjang malam sibuk berdoa bersama teman-teman dalam diam.

    Kapal kami melaju di tengah lautan luas, ditingkah hujan dan angin kencang.

   Saat tiba di Pulau Moyo cuaca cerah seperti tak terjadi apa-apa malam sebelumnya.  Kembali kapal tidak bisa mendekati bibir pantai. Kami pun diangkut perahu motor. Lega rasanya begitu menginjak daratan lagi. Kami pun berbincang tentang keadaan semalam dan bersyukur kami tak kurang suatu apa.

   Di Pulau Moyo, tujuan kami adalah mengunjungi air terjun Mata Jitu. Aku sempat ragu saat diberitahu kami harus trekking melewati hutan terlebih dahulu. Alamak, terbayang ngerinya ke Pulau Sempu di Malang, Jawa Timur dulu. Menembus hutan hingga perlu dua jam-an lebih sekali jalan.  Se-ekstrim itu kah? Tidak! Kata orang-orang kapal dan kepala suku trip meyakinkanku. Ini hanya perlu 30 menit bahkan kurang untuk mencapainya. Jalannya juga cenderung datar dan hanya menanjak sedikit mendekati air terjun.

  

    Dengan mata masih bengkak dan jalan seperti terombang-ambing, aku pun memutuskan pergi ke Mata Jitu. Apalagi ini pulau pernah dikunjungi oleh Lady Diana, meski pastinya di bagian lain pulau dengan resor-resor mahalnya. Beda naseb! Tu wa ga mpat! Ayo jalan meski lambat-lambat. Tercecer adalah kebiasaanku. Tapi untungnya selalu ada yang menemani dan bersabar denganku. Hutan di sini tidak selebat hutan di Sempu dan pohon-pohonnya pun bukan jenis yang berdiameter besar. Dan benar jalanan cenderung datar. Kami hanya melalui satu sungai saja yang kebetulan airnya sedang surut. Sedikit menanjak saat mendekati Mata Jitu, akhirnya sampailah kami. Sayang sekali, surutnya air di sungai berimbas juga di air terjun ini. Lekukan kolam-kolam bak pemandaian para bidadari terpampang jelas. Air mengucur dari ketinggian, dingin dan bersih, namun tidak menderas.

   Kami tetap bersenang-senang dengan kondisi yang ada. Bermain air, ber-narsis ria disertai teriakan mengingatkan untuk tidak pipis sembarangan! Apalagi yang di atas! Hahahah. Air yang tidak menderas menyebabkan kami bisa menempel di tebing air terjun! Bahkan beberapa sampai naik ke atas air terjun dan bertemu dengan anak-anak lokal yang ntah datangnya dari mana! Berenang-renang bergembira di air terjun tersembunyi tak jauh dari pantai pesisir Sumbawa.

  Puas bermain air tawar, kami pun pulang. Aku cenderung pendiam semenjak mata memerah dan badan kurang fit. Entah apa yang terjadi, saat berjalan selepas hutan sambil ber-selfie ria dengan tongsis tiba-tiba aku jatuh berdebam tumbang bak pohon besar. Begitu kerasnya jatuhnya hingga debu beterbangan. Mengagetkan mama Adil yang pegang tongsis dan Mira “Duo Setengah Jalan” yang mengekor tepat di belakangku. “Mbaaa, ngapaiiinn???” terdengar pertanyaannya seolah tak percaya dan bingung.

   Aku yang juga bingung segera cepat berdiri. Tak ada lecet di lutut, tak ada luka serius di tubuh. Hanya bajuku saja jadi berdebu. Aku menoleh ke kanan-kiri dan belakang hanya untuk melihat tiga orang temanku kebingungan dan meledak dalam tawa. Konon kabarnya jatuhku yang bak pohon tumbang itu lucu sekali. Hehehe. Mereka masih terkekeh-kekeh, mama Adil bahkan kecewa tak sempat mem-videokannya. Pun sampai di pantai, mereka masih bercerita heboh tentang “kejatuhanku”. Ada-ada aja deh!

    Tapi tanpa aku sadari, aku mendadak super cerewet. Begitu kata teman-temanku. Sepertinya kepalaku jadi ‘koclak’ atau terguncang hebat isinya. Membicarakan apa saja yang sudah terlewatkan.  Eka, yang teler sepanjang perjalanan di kapal semalam, hanya bisa pasrah saat aku dengan cerewet bilang bahwa akan ada acara snorkeling di Pulau Moyo. Bolak-balik nitip barang-barang yang akan ditinggal buat snorkeling. Untung tak digetoknya kepalaku! Karena ternyata memang tak ada acara snorkeling karena kami harus segera ke Pulau Satonda sebelum mengakhiri penjelajahan ini di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

   Tak cukup hanya mendadak cerewet, ‘kegilaan’ melandaku saat memutuskan berenang dari Pulau Moyo ke kapal! Padahal aku baru satu-dua bulan lalu belajar berenang. Itu pun di kolam renang bukan di perairan terbuka. Entah keberanian apa yang mendorongku. Hanya berbekal kacatama renang dan pelampung, aku dan Nath temanku berenang bareng menuju kapal. Saat perahu bolak-balik membawa rombongan teman-temanku, kadang mereka bertanya apa aku menyerah atau sekedar mengingatkanku untuk tak lupa melihat ke bawah. Melihat keindahan bawah laut Pulau Moyo.

    Mengingat balik ini semua, aku kadang bergidik ngeri. Aku memang sempat melihat keindahan bawah laut Pulau Moyo meski hanya berbekal kacamata renang. Bahkan aku sampai di sekitaran kapal dan sempat bermain-main sebentar. Namun ada saat di dekat kapal aku merasa terus ditarik mendekati lambung kapal. Arus bawah? Beberapa kali mencoba berenang menjauhi, tapi terus kembali seolah-olah tersedot. Tiba-tiba aku ngeri sendiri dan takut kalau aku tersedot di bawah kapal. Aku pun berteriak menceritakan kondisiku ke Nath yang masih asyik berkecipak-kecipuk di seputaran kapal dengan nyamannya. Pertama-tama dia tak ‘ngeh’ dan mengira aku bercanda. Baru setelah teman-teman yang di atas kapal menyadari kondisiku dan mengulurkan galah ke arahku, Nath pun menarik tubuhku hingga mendekati tangga kapal. Wuuuffff! Selamat naik ke atas kapal, ditarik rame-rame. Hhaha menyusahkan!

    Tumbang dan bangkit lagi di Pulau Moyo, aku melihat sekali lagi pulau dengan air terjunnya yang indah ini terakhir kali. Tapi bukan bergaya ala-ala princess ya, apalagi Lady Di. Ah bagus juga aku tak menyerah! Aku pun berdiri di haluan kapal penuh kebebasan dan kemenangan. Tak menyerah pada diri sendiri!  Lamat-lamat hingga menghilang pulau Moyo dari pandangan. 

Advertisements