Teriakan teman-teman seperjalanan di subuh ini, membangunkanku. Yang terlelap oleh perjalanan dari Pulau Padar semalam. Laut bersahabat dengan kami. Perjalanan cukup nyaman dan aman.  Meski langit mendung, hujan tak jadi turun. Hanya saja aku gagal melihat bintang jatuh dari haluan kapal. Dan keinginanku untuk tiduran di haluan pun juga tak memungkinkan. Dalam beberapa menit saja, kantung tidur dan muka jadi terkena embun laut. Sadar akan kekalahanku, aku beringsut masuk ke geladak kapal bagian bawah. Tidur.

    Awww… rupanya teman-teman sibuk menyambut matahari muncul! Tak ingin ketinggalan aku pun bergegas membersihkan diri secukupnya dan langsung berlari ke bagian atas kapal. Ditemani Nakhoda kapal dan beberapa teman, aku sibuk mengabadikan momen langka “Matahari Terbit” di tengah lautan luas. Tak cukup bagiku hanya memotretnya, aku pun mem-videokannya. 

   Sibuknya hidup membuat kita seringkali alpa dengan fenomena alam ini, matahari timbul – matahari tenggelam.  Dia hanya menjadi ritual biasa saja bagi orang-orang kota. Tapi di sini, di lautan ini saat kamu bisa bebas menikmatinya tanpa diburu waktu, ironis sekali bahwa alam sebenarnya memberikan keajaiban dan hiburan gratis setiap hari pada kita. Gradasi warna dari hitam pekat ke jingga pekat hingga jingga, menguning dan memutih, adalah sapuan kuas yang Maha Kuasa di kanvas alam semesta milik-Nya.

    Kami dalam perjalanan menuju Pink Beach atau Pantai (dengan pasir) Merah Muda. Hendak menyaksikan sapuan kuas lukisan Dia yang lainnya. Konon kabarnya, warna merah muda pasir pantai ini disebabkan oleh koral, pecahan kerang dan juga sejenis makhluk bernama foraminifera yang memiliki cangkang kemerahan (Sumber: SainsMe).

   Sesampainya di Pink Beach, kapal ternyata tak bisa berlabuh di bibir pantai. Jadilah kami harus diangkut dengan perahu motor menuju pantai. Sebagai rombongan pertama yang tiba, pantai berpasir merah muda ini masih sepi. Begitu menjejakkan kaki, aku dan temanku Liani langsung berlari ke bukit pantai. Apa yang ku bayangkan terpampang jelas. Garis pantai dengan pasirnya itu benar-benar berwarna merah muda atau pink! Itulah kenapa orang menamainya sebagai Pink Beach! Pantai Merah Muda! Campuran makhluk-makhluk dan benda-benda laut yang berproses menjadi butiran-butiran halus itu membuatnya berwarna pink saat air laut membawanya ke pasir nan putih. Cantik!

   Di Pink Beach, kegiatan selain bermain dan berjemur di pantainya adalah snorkeling. Bagian bawah lautnya cukup bagus. Bukit-bukitnya sebenarnya bagus juga, tapi untuk memasuki lebih dalam lagi tanpa ranger kami ngeri juga. Karena konon kabarnya ada juga komodo di sini. Tapi hanya dengan pantainya yang indah dan sepi ini, sudah takjub dan beruntung sekali bisa menjejakkan kaki di sini! Sekali lagi, CANTIK!!! Apalagi letaknya yang terisolir, membuat Pink Beach bak serasa pulau pribadi. Tak ada infrastruktur apapun di sini, semuanya serba alamiah. Kembali ke alam.

    

   Hangatnya pasir dan mentari di Pink Beach berbanding terbalik saat kami tiba di Gili Lawa. Hari sudah siang saat itu. Tapi itu tak mematahkan semangat kami untuk mendaki bukitnya yang cukup tinggi. Sekali lagi, keindahan gugusan pulau dan lautan Flores dari ketinggian menjadi tujuan kami. Jalanan setapak berkerikil dengan semak menguning di kiri – kanan jalan. Musim kering, membuat semak bukit menguning. Ada plus-minusnya. Saat musim hujan, semak menghijau namun jalanan setapaknya pastilah licin. Saat musim kering, semakin ke atas, tingkat keterjalan semakin tinggi dan batu-batu kerikil bisa menjatuhkanmu meski jalanan kering dan berdebu.

   Di satu kelokan mendekati puncak Gili Lawa, beberapa teman tertahan. Aku pun ikut terhenti. Sekelompok bule cowok nampak menge-block jalanan karena sibuk berfoto. Dan salah satunya memakai kaos dan celana dalam saja! Ya ampun! Hahaha. Hawa yang sudah panas menjadi ‘semakin panas’, terlebih untuk kaum hawa! Mana mereka benar-benar tak memberikan jalan karena sibuk mencari spot yang paling bagus untuk berfoto ria lagi! Benar-benar kelokan ‘maut’. Kami dipaksa melihat pemandangan yang ‘itu-itu’ saja. “Tutup muka dengan jari-jari menganga”.

    Di sini pula hatiku tercabik dalam kebimbangan. Kelokan ini adalah batu ujian terberat pertama sebelum kami terus ke Puncak Gili Lawa. Sebelumnya adalah semacam ngarai yang landai, untuk menuruninya pun harus ‘ngesot’ kalo perlu (dan beneran ngesot daripada jatuh terguling-guling saat turun!). Sebongkah batu besar memisahkan ke jalan terus, di sisi sebelahnya adalah jurang. Benar-benar sempit. Bule-bule pemberani termasuk si Sempak bahkan berfoto di batu besar di tepian jurang. Ngilu lihat atas – bawahnya hahahahaha. 

Dan terlihat jalan ke atas yang masih panjang dan terjal. Empat orang termasuk aku akhirnya memutuskan berhenti di kelokan ini. Toh pemandangan bisa terlihat jelas juga di sini. Bersama Mira, temanku yang berperawakan sama denganku, bohay nan montok pun bergandengan tangan saling bantu menuruni bukit sembari mengabadikan keindahan Gili Lawa. Benar-benar ‘Duo Setengah Jalan’ sejati yang tetap tak mau rugi dengan kendala stamina dan kemontokan kami! Hahaha.

    ‘Duo Setengah Jalan’ pun lupa pada papan nama saat kami memulai pendakian. ‘Gili Lawa Darat. Taman Nasional Komodo’. Ah kami kan temannya si Komo yang suka bikin macet itu! Lho??? Nah iya, mereka kan sodara-an, jadi tak mungkin kami dimakan. Hahhaha. Gili Lawa dengan semaknya ini pun membuat kami bisa berlari-lari bebas di alam tanpa takut sedikit pun. Sementara teman-teman yang terus berjanji akan memberikan foto alam dari puncak asalkan aku meminjamkan smartphone-ku dengan kamera supernya. (Nanti aku tahu, mereka malah kebanyakan narsisnya. Huh! Ku ancam saja mau ku hapus! Hihihi). Terus atau Setengah Jalan, Gili Lawa tetap memberimu tawa lebih dengan keindahan alamnya.Renyah dan puas berlarian bak kanak-kanak!


Advertisements