Kapal Jelajah Flores kami melambat saat memasuki dermaga Pulau Rinca. Ini adalah tempat pertama yang kami singgahi dalam penjelajahan ini. Kami batal ke Pulau Komodo dan Pulau Kalong karena pesawat yang kami tumpangi terlambat terbang. Kacau- lah semua jadwal perjalanan. Gagal melihat Komodo hidup berdampingan dengan manusia, gagal melihat ribuan kelelawar menjelajahi angkasa Flores. Sedih! Tapi Pulau Rinca konon kabarnya juga banyak dihuni Komodo meski tidak berpenduduk.

   Kapal pun merapat ke dermaga Pulau Rinca, Loh Buaya. Airnya tenang, suasana sunyi mungkin karena diapit pulau-pulau berserak dengan pohon bakau di sekitaran teluk ini.  Sebuah tanda peringatan terbaca, “Hati-Hati Wilayah Buaya!” membuatku refleks memegangi kaki sembari tengok kanan kiri, saat menunggu giliran turun dari kapal menuju undakan di dermaga. Takut tiba-tiba disambar buaya! Kami juga bertemu dengan beberapa ekor monyet di hutan bakau dekat dermaga.

    Memasuki gerbang Loh Buaya, kami disambut dengan pandangan spektakuler Pulau Rinca yang luas dengan dataran tinggi dan rendahnya. Selamat datang ke Keajaiban Pulau Rinca! Semua serba semak-semak dengan sedikit pohon-pohon besar. Tanah lapang kosong dengan jalur buat pejalan kaki membelah Pulau Rinca disertai gapura “Selamat Datang” yang diapit dua ekor patung Komodo. Cuaca cerah namun tidak begitu panas membuat ringan langkah kaki kami.

    Semakin ke dalam, kami melihat beberapa kantor yang mengurusi Pulau ini dan makhluknya, juga beberapa tengkorak hewan seperti sapi dan kerbau yang dipancang di kayu-kayu. Konon kabarnya, hewan-hewan ini korban dimangsa Komodo! Serasa memasuki Taman Dinosaurus tapi ini nyata! Ala-ala di film-film seperti Jurassic Park. Ternyata di Pulau ini ada juga rumah-rumah panggung yang disewakan buat para wisatawan. Kebayang serunya menginap dengan komodo berkeliaran di luar dan di bawah rumahmu!

   Kami berhenti di depan salah satu kantor untuk menemui Ranger kami. Ranger adalah sebutan untuk pawang komodo yang akan menemani kami saat trekking mencari jejak komodo. Dua orang pawang akan menemani dengan senjata kayu panjang berbentuk huruf Y.  Si Ranger Kecil yang masih di SMK dan sedang magang dan Si Ranger Besar cukup diandalkan. Aman! Katanya tidak boleh membuat suasana gaduh saat trekking.

🤐🤐🤐Jangan membuat suara-suara berisik.

🤸🏃💃Jangan membuat gerakan tiba-tiba.

➕➕➕ Para wanita yang sedang ‘palang merah’ tidak boleh ikutan karena Komodo sangat kuat daya penciumannya terhadap darah.

👬👫👭 Tetap bergerombol, jangan sendirian!

   Ku camkan baik-baik perkataan si Ranger. Komodo buas dan purba. Gigitannya sangat mematikan. Sekali menggigit entah itu hewan atau manusia, akan ditinggalkannya mangsanya itu hingga mati sendiri oleh bisa dan bakteri di liurnya. Barulah mangsa disantapnya. Sungguh pemangsa yang sangat efektif.  Komodo juga jago berenang, memanjat dan berlari untuk ukurannya yang sangat besar. Pertemuan dengannya pastilah akan menjadi sebuah kehormatan, sang hewan purba yang tertinggal di bumi ini melampaui para naga dan dinosaurus yang telah punah. Dan komodo hanya ada di Indonesia. Luarbiasa!

   Kami memilih jalur trekking yang pendek saja kali ini. Sekali lagi waktu tidak bersahabat dengan kami. Rombongan kami pun bergegas bersama Rangers kami. Di sebuah kelokan, di sebuah rumah panggung, beberapa ekor Komodo tampak tidur-tiduran di bawahnya. Wow! Ingat pesan-pesan Ranger, kami melangkah sangat perlahan dan menyembunyikan kekaguman kami dalam hati. Takut suara-suara kami mengagetkan mereka. Para Komodo lelap dalam tidurnya….pastilah nyaman tidur dibawah rumah untuk menghindari sengatan sinar matahari. Kata Ranger mereka sudah kenyang, dan hanya makan sebulan sekali. Sekali makan waktunya akan dihabiskan untuk berjemur, mencari pasangan dan bermalas-malasan.

  Dalam sunyi kami bergantian berfoto dengan berbagai trik seolah-olah kami berdekatan dengan Komodo. Saat asyik-asyiknya berfoto,  Adil balita kami tiba-tiba berlari kencang dari dataran tinggi dengan berteriak. Debu-debu berterbangan. Kami terkesiap! Emaknya langsung berlari menangkapnya, kami tercenung… beberapa Komodo bergerak malas dan salah satunya mengangkat wajahnya! Alamak! Para ranger bersiaga. Tenang, tenang, tenang… Adil didiamkan si Emak dengan mendekap erat sambil membungkam mulutnya. Hihihi, pastilah balita ini bosan setengah mati. Di tanah begini luas kok tak boleh berlari-larian! Rugi amat, ku coba menyelami bahasa kanak-kanaknya. Damai menurun….. Komodo-komodo mulai tenang lagi, kepala yang sempat terangkat memilih tiduran lagi. Syukur-syukuuurrr sambil elus-elus dada dan tersenyum kepada Adil. Bagus juga jadi ada lihat Komodo gerak. Siapa tahu tadi cuma patung? Hahahaha.

    Kami melanjutkan trekking. Dengan jarak jauh kami mungkin akan bisa melihat pemandangan yang lebih spektakuler dari atas dataran tinggi, melihat komodo sekaligus lautan Flores yang mengitari Pulau Rinca. Tapi dengan jarak pendek ini, kami masih bisa melihat seekor Komodo di dekat liang-liang dalam tanah tempat Komodo betina menyembunyikan telur-telurnya. Di samping butuh waktu lama untuk menetas, telur-telur Komodo ini juga rentan dari bahaya predator termasuk kaumnya sendiri. Kanibal juga ini Komodo!

    

   Pertemuan dengan makhluk purba ini termasuk salah satu bucket list-ku! Karena hanya  di Indonesia, komodo hidup dan berkembang-biak di alam liar.  Trekking pendek atau pun panjang, pastikan kamu mempunyai stamina yang cukup untuk menjelajahinya. Saran saya, jika waktu cukup atau pun jika kamu seorang yang gesit menyiasati hambatan waktu, pilihlah trek yang panjang. Puas-puaskan!

   Puas dengan Pulau Rinca dan adrenalin-nya, kami pun melanjutkan penjelajahan. Waktu menjelang  maghrib saat kami tiba di Pantai Pulau Padar. Dari bawah sini, aku agak ngeri juga melihat trek yang menanjak dan terjal. Untunglah aku rajin pergi ke gym sebelum trip ini. Stamina mungkin tak masalah, hanya nyali saja yang dibutuhkan untuk melewati bukit terjal di atas. Okay! Naik, naik! Berbarengan kami mendaki bukit Padar, saling tolong untuk bisa ke atas. Konon kabarnya, matahari tenggelam sangat luar biasa di lihat dari atas sini.

    Benar juga! Pulau Padar indah dilihat dari atas.  Bukit-bukitnya membentuk tiga lengkungan indah, berpantai pasir putih di ketiga lengkungannya. Kapal-kapal menghunjamkan jangkarnya, tampak berserakan di sepanjang pantai. Seiring menurunnya mentari, lampu-lampu kapal mulai dinyalakan. Ketiga bukit, mulai membentuk siluet dengan pendaran cahaya jingga di langit. Tak mau kalah, bulan mulai menampakkan diri di sisi langit satunya.

   

 Ku pandangi sepuasnya sapuan lukisan alam ini, sebelum matahari benar-benar tenggelam. Kami masih memerlukan setitik cahayanya untuk menuntun kami pulang menuruni bukit kembali. Saat siluet bukit-bukit masih menunjukkan garisnya yang tegas, pertanda masih ada cahaya, kami pun benar-benar pergi. Dengan rasa puas di hati!

(Bersambung)

Advertisements