Aku  tak bisa berenang dan itu cukup mengganggu pikiranku! Dunia ini sebagian besar isinya air dibanding daratan. Dan Indonesia itu Negara Kepulauan yang dipersatukan oleh lautan-lautan. Bahkan nenek moyang Indonesia konon kabarnya seorang pelaut, gemar mengarungi luas samudra! Beberapa kali aku ketemu bule pada beberapa kesempatan perjalanan. Dan mereka geleng-geleng kepala saat tahu aku tak bisa berenang. “Tapi kamu orang Indonesia!” serunya  dengan mimik tak percaya dan…prihatin! Alamak! 

    Kini, bukan hanya karena aku doyan lautan atau pun faktor olahraganya, kekhawatiranku lebih pada kesadaran kalau aku tak akan mampu bertahan tak lebih lima menit jika ada bencana di air. Parah! Kecemplung di kolam kedalaman dua meter saja pasti dah ‘lewat’. Kelar hidup gue! Nah  ini mau sok-sokkan ikut “Cruising Flores” yang sudah pasti akan melihat air, air, air saban harinya. Air laut lagi! Mau tak mau aku harus belajar berenang sebagai persiapan yang utama!   

   Dan berbekal les renang privat, aku pun melangkah penuh percaya diri menuju Labuan Bajo, Flores di Nusa Tenggara Timur. Paling tidak aku tidak takut lagi air, bisa mengapung dan mengerti dasar-dasar keamanan di laut seperti harus selalu mengenakan pelampung.

   Kapal-kapal berbagai jenis tampak dari atas jalanan bukit menuju ke Labuan Bajo saat mobil kami berhenti. Labuan Bajo tampak sibuk dengan kapal-kapalnya yang bersandar atau pun berlayar juga tumpukan kontainer-kontainer. Mengingatkanku pada sebuah negeri bernama Monaco yang punya banyak kapal di berita-berita dan gambar-gambar. Ternyata ada juga di Indonesia! Dengan hati riang aku melanjutkan perjalanan bersama teman-teman yang lain menuju ke jantung Labuan Bajo.

   Mobil rombongan berhenti lagi di sebuah swalayan tepat di pusat Labuan Bajo. Kami pun checklist lagi beberapa hal lagi:

  • Air tawar bersih! Kami akan hidup di laut. Walaupun pihak kapal bilang air tawar bersih disediakan, ajakan untuk punya air bersih sendiri ada baiknya juga. Kelebihan air tawar lebih  baik daripada kekurangan, lagian air dijatah per kepala di kapal.  Setelah beli jangan lupa untuk memberi label nama di kardus masing-masing. Bukan apa-apa hanya untuk membedakan dengan air dari pihak kapal  dan kamu lebih menghargai air masing-masing. Dalam kenyataannya kalian akan berbagi di tegah laut nantinya.
  • Cemilan dan beberapa makanan seperti abon, mie dan sambal perlu juga, jaga-jaga kalau menunya serba ikan. 
  • Barang-barang yang sekiranya penting tapi lupa dibawa seperti selimut, topi, kacamata, obatan-obatan standar untuk flu, batuk, pilek atau vitamin, sunblock, sabun mandi, odol, shampo dan sikat gigi. Ada juga dijual alat-alat snorkling walau hanya gugel-nya saja tanpa fin atau kaki katak

Barang-barang bawaan pun beranak-pinak dan berat.

   Lega rasanya melihat para porter yang sudah siap sedia membantu kami membawa barang-barang dengan gerobak kayunya sesampainya di pelabuhan Labuan Bajo. Bisa berlenggang-kangkung nih jalannya sambil lihat-lihat. Sebuah kapal besar bersandar. Sepertinya kapal penumpang. Di kiri – kanan kapal-kapal kecil bersandar. Orang-orang berlalu-lalang khas sebuah pelabuhan dengan kegiatan masing-masing. Ada yang sibuk menawarkan jasa porter, barang – barang di angkut, orang-orang keluar-masuk kapal, yang diantar dan yang mengantarkan, suara mesin-mesin kapal, antrian tiket, semua serba sibuk.

   Seorang pemuda menerangkan ramah saat aku berbincang dengan temanku soal tujuan kapal besar di depan. “Kami hendak ke Bali menumpang kapal itu, mba. Mba darimana?”tanyanya sembari kami berjalan pelan-pelan.

    Aku tersenyum ramah menghargai penjelasannya. Dia mendengar pembicaraanku dan tahu temanku sama tidak mengertinya denganku. Jawabku ramah,” Kami dari Jakarta hendak ke Pulau Komodo. Berapa lama perjalanan laut ke Bali dari sini?”

   “Tiga hari mba. Wah ke Pulau Komodo! Jangan lupa bertamu ke kampung-kampung penduduk ya mba. Mba akan melihat hal-hal luarbiasa di sana,” katanya sambil tersenyum penuh  arti. Langkah kami terhenti. Kutatap dia dalam-dalam saat melanjutkan bicaranya,” Komodo memang terkenal dan jadi magnet banyak orang datang berkunjung. Tapi kehidupan penduduknya masih miris, tak sesuai dengan nama besar Komodo…”

   Aku tertegun. Raungan sirene kapal laut dan teriakan kepala trip untuk mempercepat langkah kami, membuatku tersadar. Si Pemuda berlari menuju kapalnya sambil mengucapkan selamat tinggal dan bersenang-senang dengan senyum manisnya. Aku setengah berlari mencoba bergabung dengan kelompokku. Tepat sebelum memasuki area kapalku bersandar, aku berhenti lagi hanya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada kapal besar dan para penumpangnya, termasuk si Pemuda, yang perlu tiga hari untuk sampai ke Bali. Semoga selamat sampai tujuan! Bersyukur aku punya rejeki untuk sampai lebih cepat dalam perjalananku. Dadah! Dadaaaahhh!

   Kapal punyaku  dan rombongan ini sejenis kapal layar bertingkat satu. Di haluan, layar terkembang. Di geladak bawah, tempat untuk duduk di kanan-kiri kapal dengan jendela-jendela terbuka yang akan ditutup terpal di saat panas atau angin kencang. Di tengahnya ada sebentuk meja persegi panjang dimana makanan   dan minuman dihidangkan. Ruangan didalam persegi panjang ini untuk menyimpan air kapal. Ada sebuah ruangan tertutup dengan kasur-kasur terpal dan pelampung-pelampung. Sepertinya ini untuk kamar tidur, tapi kami menggunakannya untuk sholat dan menyimpan barang-barang kami. Kami memilih tidur di dekat meja makan atau pun di geladak atas dengan kasur terpal juga kantung tidur. Persis disebelahnya adalah dapur kapal tempat kami menyelusup saat  butuh makanan. Di buritan ada dua kamar mandi di kanan-kiri kapal. Naik ke geladak atas yang hanya setengah luas dari lantai bawahnya ada ruang kemudi Pak Nakhoda dan sebuah ruangan luas hingga ke buritan untuk santai dan tidur. Sempurna! Sederhana tapi cukup untuk kami tinggali bersama.  Sebenarnya aku ingin dapat kapal phinisi yang tradisional dan gagah. Tapi belum rejeki! Hahaha. Tapi ini tak mengurangi rasa sebagai Cucunya Nenek Moyang Pelaut! Tos!

   Kapal laut besar meraung lagi, mengingatkan penumpangnya. Baru terbaca namanya di buritan. Tilong Kabila Jakarta. Kapal layarku perlahan meninggalkan Labuhan Bajo. Ku hela nafas panjang di haluan. Asin lautan terasa saat udara segarnya memenuhi dada. Sambutlah petualangan ini, wahai Anak Cucu Pelaut yang baru bisa berenang! Kami akan menjelajahi Lautan Flores hingga ke Lombok. Menikmati pulau-pulaunya, pantai-pantainya yang indah dan juga menemui makhluk purba yang hanya ada satu-satunya di dunia ini, Komodo! Komodo itu seperti dinosaurus  versi mini, tapi semini-mininya kan tetap saja Dino gitu loh! Seru!!!!

   Kabar tak menyenangkan disampaikan Sang Kapten kapal, yang membuatku mengutuki yang mengaku sebagai Rajanya Angkasa. Karena penundaan penerbangan, kami tidak punya waktu ke Pulau Komodo dan Pulau Kalong. Aku teringat pesan si Pemuda dan sedih. Kami harus memilih dan berkejaran dengan waktu ke Pulau Rinca, tempat para komodo dikembangbiakkan jauh dari pemukiman dan ke Pulau Padar, melihat matahari tenggelam. Ah, sudahlah! Ku liat teman-temanku berempat-belas dan dua balita juga para kru kapal. Kami akhirnya setuju dan bisa menerima pengaturan baru Sang Kapten. Mari lanjutkan penjelajahan lautan ini! Pasang kacamata hitammu! Pegang tiang layar! 

   Kapal melaju ke perut lautan lepas, melayari lautan selama empat hari lima malam. Di hari terang kami akan sibuk dengan pertemuan dengan lumba-lumba, penyu, mengobrol seru-seruan, menjemur pakaian, atau goler-goleran. Karena ada balita, kadang kami bermain bersama mereka. Ooopss aku jadi tersangka saat Adil, balita umur pas lima tahun ini merengek minta menu sate ikan lumba-lumba ke ibunya…kaburrr! 

Di malam hari, selain mengobrol, kami lebih suka menikmati langit dengan segala kemegahannya. Sendiri-sendiri atau berkelompok. Kapal layar, manusia, lautan, langit! Tersadar kecil sekali terapung di lautan luas ini.

   Hidup berhari-hari di lautan mengajariku untuk bisa menerima kondisi yang ada dan berpasrah. Air tawar adalah benda termewah dan termahal! Jadi untuk mandi, kami memakai air sulingan yang tetap terasa asin. Air tawar yang kami punya hanya untuk bilas dan gosok gigi. Apapun makanan yang ada pasti kami sikat habis, apalagi kalau itu buah-buahan.

   Kami juga saling menjaga, karena tidak semua bisa tetap fit staminanya.Pusing, mual, mabuk laut, lemas, kulit terbakar atau terkelupas, batuk, iritasi mata, disorientasi waktu dan arah adalah beberapa penyakit yang menjangkiti para penjelajah lautan. Serangan panik, resah dan gelisah saat hape lowbat (listrik hanya hidup di jam-jam tertentu di malam hari), susah sinyal padahal cuaca sedang buruk. Meski ada juga yang baru kenal di trip ini, kami cepat menjadi teman seperjalanan yang asyik. Senasib dan sepenanggungan. Di hari buruk saat angin kencang menerpa, kami sama-sama berdoa dan menguatkan. 

   Aku juga baru tahu bahwa tidur semalaman di haluan kapal dengan kantung tidur, demi melihat bintang jatuh tidak lah mungkin. Karena  dalam waktu cepat badanmu akan basah oleh embun yang terbawa angin laut. Di malam yang buruk, kamu akan mendengar desauan angin yang liar dan jika ada di geladak atas goyangan hebat akan terasa. Saat itulah kamu benar-benar pasti kamu sangat kecil, di dunia yang bukan milikmu sepenuhnya…wahai makhluk daratan. Selebihnya adalah ketakjuban akan keindahan saat matahari tenggelam, saat matahari terbit di cakrawala lautan dan  makhluk-makhluk lautan menampakkan diri mereka dengan anggunnya. Dan kamu menikmatinya bersama dengan teman-teman seperjalananmu. Sungguh Tuhan Maha Besar, Indah dan Pemurah

(Bersambung)

Advertisements