Lebaran tahun lalu aku sempat menyaksikan meredupnya the Legend of Simpang Jomin, sebuah persimpangan legendaris yang mempertemukan para pemudik dari dan ke Jakarta menuju utara dan selatan Jawa di Cikampek. Simpang ini bertahun-tahun di lewati jutaan kendaraan yang menjadikannya simpang dengan kemacetan paling parah, karena menjadi satu-satunya jalan ke Jawa Tengah. Aku juga merasakan dioperasikannya Tol Cipali pertamakali.  Tol terpanjang di Indonesia dengan terusan Tol Kanci. Masih baru dan minim fasilitas pendukung, Cipali menjadi magnet jutaan pemudik melewatinya sekaligus kesengsaraan saat harus antri bak ular naga panjangnya untuk memenuhi ‘panggilan alam’. Terakhir aku juga merasakan ber-rally ria bak ‘Paris-Dakkar’ dengan melewati tol yang belum jadi di daerah Brebes. Jalanan berdebu tebal hingga harus menghidupkan lampu hazard. Tak ada fasilitas pendukung sama sekali di sini seperti SPBU dan toilet. Jadi kalau bensin habis dan kebelet pipis, wassalam deh! Butuh waktu lebih dari 38 jam saat itu menapaki jalanan Pantura dengan disopiri adik lelakiku dari Jakarta ke Salatiga.      

   Di musim Lebaran 2016, ceritanya aku pengangguran setelah memilih mengundurkan diri dari pekerjaan. Iseng-iseng aku pun memutuskan menapaki jalanan utara Jawa. Sendirian! Petualangan seru! Meskipun iseng, aku tetap mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dari stamina yang fit hingga menyervis kendaraan sebelum berangkat.           Aku pun memilih perjalanan di terang hari dengan pertimbangan selain faktor cewek, kalau ada apa-apa akan mudah dan banyak pertolongan. Tak terbayang di malam hari jika terjadi apa-apa. Amit-amit jabang beibih! Ketok meja tiga kali! Walau pun kata teman siang hari panas, kan tinggal menyalakan AC gaspol. Adem kok. Selain itu, di malam hari kamu harus berhadapan dengan segala moda transportasi darat dari bus-bus malam, truk-truk kontainer segedhe bagong dan motor-motor. Oh tidak, aku pasti berhati-hati, nah mereka?          Ku tapaki jalanan menuju Jawa Tengah di pagi subuh itu. Aku ingin mengawali puasa bersama keluargaku. Tiada hambatan sama sekali. Tol Cipali sudah lengkap dengan fasilitas pendukungnya seperti rest area dan rambu-rambunya. Senang rasanya tahu-tahu sudah sampai Brebes dan melewati Simpang Pejagan dan hari masih terang. Aku butuh 9 jam 24 menit untuk sampai ke rumah di Salatiga. Marhaban Ya Ramadhan.

  Janji menghadiri beberapa acara di Jakarta membuatku harus balik lagi. Dan tetap aku memakai mobil pribadi. Namun perjalanan balik ini tidak sesuai rencana. Begadang semalaman membuatku terlambat bangun dan harus mengawali perjalanan saat matahari sudah meninggi. Dan entah apa yang ada dipikiranku saat berkendara di Tol Semarang, bukannya memilih tol arah Jakarta ke kiri eh malah terus ke Surabaya!                                                    Kepanikan melanda melihat jalanan yang tak ku kenal. Saat melihat papan informasi Poncol aku pun keluar tol. Pikirku, Poncol itu dekat stasiun kereta api, pasti ada petunjuk arah ke Jakarta. Dan salah besar! Harusnya aku tetap lurus, keluar tol dan balik arah! Belok kiri, aku disambut kemacetan parah di jalanan sempit yang dipenuhi oleh berbagai jenis kendaraan! Dan aku ngeri sendiri saat tahu biang kemacetan selain jalan dan volume kendaraan yang tak seimbang adalah rob! Air melimpah hingga ke jalanan karena air laut pasang! Alamaaaakkk!!! Kakakku yang ku hubungi bilang aku harus putar balik masuk tol lagi! Tidaaaakkk. Berarti aku harus dua kali mengalami kemacetan di sisi lain jalan dan berjibaku dengan kubangan air rob! Ini saja berdoa setengah mati air tidak masuk kabin mobil dan tidak karatan body-nya. Huaaa..hiks…hiks.

    Dua jam lebih aku berjibaku menemukan jalan yang benar. Betul-betul buang waktu. Dipandu kakakku lewat hape, akhirnya aku menemukan jalan yang ku kenal untuk kembali ke Jakarta. Di perempatan Krapyak, begitu kendaraan di depanku maju aku pun tancap gas melaju. Disalip mobil ber-plat B juga, aku tidak terpancing. Beberapa kilometer kemudian, sebuah motor patroli polisi dari sebelah kanan memberikan kode dengan tangannya. Ku lambatkan mobil untuk dia melintas, setelah itu melaju lagi. Eh beberapa kilometer lagi kok motor yang sama melintas dan kasih kode lagi! Wah ada apa ini? Perasaan tak ada salah! Aku pun menepi.          Ku turunkan kaca mobil dan pak polisi menjelaskan aku dan mobil di belakangku telah melanggar lampu lalu lintas dengan tetap melaju saat lampu sudah merah. Walah itu pasti sepersekian detik saja karena arah-arah sebaliknya belum jalan sama sekali. Tapi aku malas berargumentasi. Lagian aku lelah lahir batin sebelumnya. Pak Polisi sendiri sepertinya jatuh iba melihat tampangku yang ku pastikan seperti wanita teraniaya ditinggal suaminya! *Muka memelas*. Hingga tak tahu dihentikan polisi, pastilah parah masalah wanita ini. Hihihi.                   “Sendirian saja? Mau kemana? Muslim? Puasa?” tanyanya beruntun yang ku jawab dengan anggukan lemah dan muka dramatis. Pak Polisi luluh dan melepaskanku diiringi petuah untuk berhati-hati. Makasiihhh Pak! Saya tak bohong loh!                     Hari beranjak senja saat memasuki tol Kanci. Dan apa yang ku takutkan tentang perjalanan malam terjadi. Tol Kanci dan Cipali itu tidak ada lampu jalannya! Jika beruntung di hari cerah kamu ditemani rembulan dan lampu mobil sendiri.Romantis kan? Huh! Tapi ini mendung! Kanan-kiri hanyalah sawah-sawah. Dan yang membuat ngeri lagi, beberapa ruas jalan sedang diperbaiki! Kan tak lucu kita ngebut terus banting setir ke kanan dalam hitungan menit karena baru lihat tanda perbaikan jalan. Ya kalau sendiri, kalau ada kendaraan lain? Nangis, nangis deh! Perempuan nekat ini juga semakin menyadari bahayanya jalan di malam hari karena kendaraan lain terutama truk-truk itu banyak yang ngirit lampu! Bahkan ada yang mati sebelah! Sudah begitu warna body-nya gelap! Berkali-kali aku harus menyalakan lampu jauh takut kalau menabrak truk dengan muatan berat, berjalan lambat tanpa terdeteksi. Butuh waktu 10 jam 42 menit menapaki jalanan balik ke Jakarta.

    Begitu pun perjalanan malam ini menjadi pengalaman berharga bagiku. Setelah menunaikan semua janji di Jakarta selama seminggu, aku pun balik ke kampung halamanku lagi. Pakai mobil pribadi lagiiii. Nagih nih! Dan sudah pasti akan melewati malam lagi karena aku berangkat dari Jakarta saja sudah siang menjelang sore hari. Itu berarti terkena macet di tol arah Bekasi dan Cikampek.                                            Aku pun ngebut setelah lepas dari kemacetan. Aku tidak ingin gelap-gelapan di tol Cipali dan Kanci. Yang membuatku terkejut, dalam waktu seminggu titik perbaikan jalan sudah jauh berkurang! Baguslah! Tak terbayang kalau masih diperbaiki padahal musim mudik sebentar lagi. Dan sebuah kejutan lagi, tol baru sudah dibuka! Setelah meredupnya Simpang Jomin, tahun ini Simpang Pejagan dengan rel kereta apinya di Brebes hilang pamornya. Kecuali kamu memang ingin belanja bawang merah dan telor asin di Brebes. Tol baru ini memendekkan jalan di Brebes Timur dan tahu- tahu kamu sudah memasuki Tegal! Horeee!!!!

   

   Di Pekalongan jalanan tersendat. Perbaikan dua jembatan besar di wilayah ini ditambah malam hari volume dan jenis kendaraan tak terperikan, macet parah di dua arah tak terelakkan. Sabar-sabar. Ini wilayah sendiri jadi aku tidak takut. Wong Jowo di Tanah Jowo je. Tapi aku sungguh berharap dua jembatan ini bisa dilalui saat arus mudik benar-benar tiba nanti. Pasti chaos kalau tidak.                         Tantangan ada justru saat tiba di Alas Roban, Batang mendekati tengah malam. Insting-ku mengatakan untuk beristirahat dulu saja di sebuah restoran. Tapi entah kenapa aku terus melaju, melewati gerbang sempit menuju gelap, sunyi dan wingitnya Alas Roban dengan tebing dan hutan di kiri-kanannya. Tambahan jalanan sepi dari kendaraan yang lalu lalang. Sendirian, mobilku melaju di jalanan menurun. Terdengar suara mencicit dan aku hidupkan lampu hazard, sembari membaca doa-doa. Aku tetap fokus di jalanan depan, tak berani melihat kaca spion di luar atau pun kaca tengah untuk melihat ke belakang. Ku balas suara cicitan dengan doa-doa dijauhkan dari setan, jin dan manusia jahat. Siapapun  yang ada di depan pasti ku tabrak, aku ingat ada juga bajing loncat! Ratusan kilometer telah ku tempuh, tapi jalanan di Alas Roban yang paling panjang, lama dan menakutkan menurutku.                                                Sampai di Salatiga mendekati pukul dua pagi, lega sekali rasanya. Aku langsung menggelosor di Angkringan langgananku. Dan tanpa bertanya si Ibu Angkringan langsung menghidangkan wedang ronde dan teh hangat. Welcome Home, Ima….

Note:

Aku siap jadi sopir AKAP nih. Hahahha. Bukan tujuan, tapi menikmati perjalanan itu lebih penting. Pengalaman dan Pengetahuan membuat dirimu terbarukan, tak usang! Lanjutkan bertualang!

Advertisements