Banyak anak terlihat berkumpul di pekarangan sebuah rumah minggu sore itu. Dua orang perempuan bermain badminton, sementara yang lainnya berteriak menyemangati. Beberapa lainnya berkumpul membentuk kelompok bermain sendiri. Normal, laiknya anak-anak bermain. Mereka berlarian kesana kemari, bersenda gurau. Di dalam ruangan, saat aku dan temanku berbicara dengan pengurus rumah, seorang anak perempuan beralas kaki sebelah kiri saja, terpincang-pincang mencari sebelah alas  kakinya. Dengan ceria dia bercerita sandalnya  disembunyikan teman-temannya. Aku dan Desy, temanku, tak kuasa menahan tawa. Kami pun ikut-ikutan mencarikannya. Sebelah sandal dengan warna yang sama di bawah kursi ternyata bukan pasangannya, karena sebelah kiri semua! Hahahha itu berarti ada ‘korban’ lain selain anak gadis ini!

image

image

   Semua nampak normal selayaknya rumah dengan anak-anaknya. Bermain. Saling iseng satu sama lain.  Yang menjadikannya luarbiasa, sebenarnya rumah dengan pekarangan luasnya ini adalah tempat tinggal seratusan anak-anak jalanan dan terlantar lainnya. Mereka karena masalah sosial dan ekonomi, menggelandang dan hidup di jalanan. Dan tak mempunyai akses sama sekali untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan dan hal-hal mendasar yang menjadi kebutuhan manusia seperti sandang, pangan dan papan. Bahkan hak dasar sebagai anak-anak seperti bermain, dirawat dan dilindungi.  Beberapa menjadi tulang punggung keluarga dari penghasilan mengemis dan mengamen di jalanan. Beberapa dibiarkan begitu saja oleh keluarganya. Beberapa bahkan tak ingat dan tak tahu keluarganya. Diselamatkan dari jalanan oleh Negara, mereka dibawa ke rumah ini yang sore itu aku kunjungi bersama temanku. Untuk mengenal mereka lebih dekat lagi.
Tidak mudah untuk membuat anak-anak ini betah di rumah dan menerima segala rancangan tentang masa depan mereka yang lebih baik. Mereka terbiasa dengan keras dan bebasnya kehidupan jalanan. Beberapa terlalu sakit menerima kenyataan orang tua atau pun orang dewasa lainnya membiarkan mereka menghadapi kerasnya kehidupan tanpa bimbingan sama sekali. Membuat segalanya ‘normal’ kembali seperti hidup teratur dengan jam makan dan tidur normal selayaknya anak-anak yang beruntung di sana, belajar di kelas seharian, hidup dengan aturan, sungguh menjadi perjuangan tersendiri buat anak-anak ini. Kerasnya kehidupan dan pengalaman di jalanan atau pun  ditelantarkan oleh yang dianggap keluarga, membuat mereka tidak percaya begitu saja kepada orang asing yang menawarkan bantuan. Hidup untuk bertahan di hari ini saja membuat mereka tak punya mimpi melihat esok hari apalagi berharap keadaan lebih baik lagi. Mereka ‘mengeras’ seiring waktu berjalan. Cara bertahan yang hanya mereka tahu.

image

    Mereka yang terselamatkan akan dipantau khusus di Ruang Penyesuaian di awal-awal kedatangan mereka. Ruang untuk anak-anak ini beradaptasi dengan lingkungan baru yang lebih teratur dan melupakan kehidupan kelamnya dengan bimbingan para psikolog. Di sinilah awal cerita dimulai. Tentang perjuangan anak-anak berusia 14 hingga 21 tahun berjuang demi dirinya sendiri dibantu mereka yang peduli. Ada airmata, doa dan perjuangan di sini. Beberapa berhasil melewatinya dan siap menempuh kehidupan baru di dalam rumah yang akan memberikan mereka pendidikan budi pekerti, ketrampilan, ijazah juga pekerjaan. Ada juga yang diambil paksa kembali orang tuanya karena mereka satu-satunya tulang punggung keluarga. Dalam keterbatasan yang mereka miliki dan tawaran tentang masa depan, mereka tetap memilih keluarganya. Cinta yang dalam dan tanpa syarat membuat mereka memilih orangtuanya daripada hidup ‘enak’ di rumah ini. Beberapa terlalu tersesat di jalanan yang berkelok-kelok dan gagap dengan kehidupan ‘normal’ ini, sehingga kabur dan memilih ke jalanan lagi. Semua orang berjuang di sini, di rumah ini. Anak-anak itu sendiri, para pengurus rumah untuk memastikan semua program terlaksana dan anak-anak betah di rumah, para profesional seperti guru dan dokter yang mendidik dan menjaga anak-anak tetap sehat.
Serombongan teman yang terketuk pintu hatinya datang lagi ke rumah ini delapan hari kemudian. Cerita tentang anak-anak luarbiasa ini membuat mereka begitu peduli hingga mau meluangkan waktu dan berbagi kepada mereka. Kebetulan pula hari itu bertepatan dengan bulan suci, bulan Ramadhan. Kami datang bukan sebagai tamu, melainkan menjadi teman yang akan menyemangati anak-anak ini untuk tetap tinggal di rumah ini bersama saudara-saudara baru mereka. Saudara baru yang memiliki mimpi yang sama, meraih kehidupan yang lebih baik dan membekali mereka dengan pengetahuan yang cukup untuk menjalani hidup.

image

image

  Dan yang  menyemangatiku, Patricia Gunawan, seorang model terkenal yang baru saja ku kenal sangat mendukung kegiatan sosial ini. Meski kegiatan sosial bukan hal baru untuknya, dukungannya sangat berarti untuk tidak berhenti sampai di sini saja. Keterlibatan Patricia sangat ku rahasiakan di awal-awal kegiatan di media sosial. Aku tidak ingin orang terfokus pada Patricia sebagai seorang selebriti dan melupakan prioritas kami terhadap anak-anak luarbiasa ini. Dan banyaknya teman-teman yang terlibat tanpa tahu keterlibatan Patricia membuatku berbesar hati. Kami semua bekerja dalam sunyi.
Di hari itu, seorang anak manis dari Flores memilih kabur dari rumah menyisakan kekhawatiran banyak orang. Dia tak punya siapa-siapa di Jakarta. Kami berharap dia baik-baik saja dan akan kembali segera. Namun di hari itu pula, tujuh belas anak-anak direkrut Yamaha untuk ikut serta di ajang Pekan Raya Jakarta. Sebuah kebanggaan buat para pengurus dan para pengajar. Anak-anak belajar untuk bekerja yang benar. Di hari itu pula kami mengikuti kelas-kelas ketrampilan di rumah harapan bagi mereka yang terabaikan. Ada kelas Salon dan Kecantikan, Kelas Tata Busana untuk mendesain dan menjahit baju, kelas Komputer yang paling banyak peminatnya dengan guru dari Korea, kelas Las, kelas Otomatif untuk bengkel kendaraan bermotor, kelas service AC, kulkas, hape dan perangkat komputer, juga kelas yang akan segera dibuka, furniture. Anak-anak ini memilih sendiri ketrampilan yang ingin mereka asah. Pihak pengurus rumah juga membekali mereka dengan penyetaraan ijazah dan pendidikan budi pekerti.
Kami sungguh beruntung mendapatkan kesempatan bertemu dengan anak-anak ini. Wajah-wajah ceria dan penuh semangat ini menyentuh dan menundukkan hati kami semua. Saat memberi, saat menerima tiada lagi batasnya. Senyatanya kami saling memberi, saling menerima. Apa yang kami bawa tidak seberapa, saat melihat binar bahagia di wajah mereka. Dibalasnya kami dengan janji untuk terus bersemangat di rumah harapan ini hingga selesai pembekalan setahun penuh. Dihiburnya kami dengan permainan musik, pembacaan puisi, menari dan kemampuan menjadi MC. Mereka juga berdoa untuk kami. Ya kami saling memberi dan menerima. Surga sejengkal saja dihadapan, saat orang membuka hati untuk peduli….Begitu damai dan bahagia.

image

image

image

image

   Patricia yang datang belakangan sungguh menjadi magnet dan oase tersendiri. Kehadirannya yang selalu membuatku gagap malah membuatku tercekat dan tercenung alih-alih menyambutnya. Tapi dengan kepribadiannya yang hangat dan pandai menempatkan diri, suasana langsung hidup bersamanya. Kehadirannya menyihir anak-anak di rumah harapan ini untuk mendengarkan cerita hidupnya yang inspiratif. Kesamaan Patricia dan anak-anak ini adalah mereka sebenarnya penampil, meski dengan panggung yang berbeda! Sebagian anak-anak jalanan ini terbiasa mengamen. Disinilah Patricia menyentuh hati anak-anak untuk tidak takut tampil di muka umum, tidak pantang menyerah seperti dia sedari kecil naik angkot ke sekolah dan tidak malu jualan pulpen, dan terus bersekolah. Dia berbicara dengan gayanya yang khas, jenaka. Dan anak-anak menyukainya.

image

image

image

   Pendukung terbesar kegiatan ini dan yang memberikan ijin untuk memakai bendera fans club-nya, The Gouwers, adalah oase ditengah hausnya anak-anak di rumah harapan akan kepedulian dari banyak orang. Bukan materi yang mereka butuhkan tapi semangat dan penyadaran dalam perjuangan mereka melupakan masa lalu yang kelam. Dihubungkannya kami semua dengan dokter Eli dari komunitas Charitypedia. Sebuah organisasi yang menjembatani panti-panti di Jakarta dengan perusahaan-perusahaan rekananya. Tergantung kebutuhan sebuah panti, perusahaan-perusahaan tersebut akan menyalurkan bantuannya. Di masa depan, setelah kegiatan ini aku melihat anak-anak di rumah harapan ini akan mendapatkan motivator-motivator handal, psikolog atau pun dokter berpengalaman, juga perusahaan-perusahaan yang mau merekrut anak-anak ini.

image

image

   Surga sejengkal saja di hadapanmu, dia tidak menunggumu tapi kamu bisa membangunnya dengan batu pondasi bernama PEDULI. Dengan balasan saat itu juga, kebahagian di hati yang tak bisa kamu ukur dengan materi. Salam ya Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan.

image

image

Catch the light!
Shinning down on you from Heaven
Simple yet beautiful
Catch the light!
You are extremely blessed

Thanks to : God, Patricia Gunawan, Eli-Charitypedia, The Gouwers and Friends, Big Family-Taruna Jaya Tebet

Advertisements