Uh, mahal sekali penerbangan langsung Jakarta – Sorong itu! Untuk menyiasati aku harus muter ke Makassar terlebih dahulu. Ibarat sekali mendayung, lima pulau terlampaui dari tujuhbelas ribuan yang Indonesia miliki. Trip ke Papua melalui Sulawesi ini, telah membuatku menjejakkan kaki di lima pulau terbesar Indonesia!
Memang dasar rejeki anak nge-bolang dan rajin silaturahmi, temanku Erna yang tinggal di Makassar langsung mem-fasilitasi akomodasi dan transportasinya. Kebetulan kami belum pernah bertemu lagi selepas kuliah.
Aku juga sempat mau berganti Plan B dengan menginap di hotel bersama teman trip, Femmi. Karena Erna dan keluarga  harus pindah rumah ke Tangerang mendekati hari H. Namun dia tetap keukeuh aku tinggal di rumahnya dengan sopir yang siap mengantar kemana pun aku pergi. Bahkan dia juga akan mengerahkan teman-temannya untuk kami berpesta karaoke. Baik sekali temanku iniii. Kecup-kecup!
Teman-teman dekatku sendiri begitu tahu aku akan ke  Makassar langsung memberi list DON’T yang banyak! Jangan makan konro, ingat kolesterol. Jangan makan buras, dari ketan ntar perut kembung. Jangan makan sop saudara, coto, ingat darah tinggi. Kurangi yang bersantan. Lho, lho, lho kan aku pergi ke Makassar bukan ke Jogja atau Bandung dengan pecel dan lalapan sayurannya. Piye tho iki, kumaha ieu? Iyain sajalah daripada dipelototin, sambil memasukkan obat-obatan pribadi. Aman!
Pagi menjelang siang saat kami tiba di Makassar. Ini perut sudah lapar sekali! Di dalam mobil,  aku dan Femmi saling berpandangan dan untuk saling mengerti, kita mau makan makanan khas Makassar!  Sopir langsung tancap gas ke restoran yang dia bilang enak sekali. Iyes!

image

   Hanya satu pengunjung saja saat kami tiba, mungkin orang sedang bersiap-siap pergi jum’atan ke  masjid. Dua coto dan satu konro dihidangkan, dengan krupuk dan nasi putih panas pulen sekali. Makanan dengan irisan daging sapi dan jeroannya ini, diguyur kuah dengan bumbu rempah-rempah yang aku tak tau nama bumbunya. Aku tak bisa masak. Warna kuahnya keabu-abuan, tidak bersantan namun kilatan lemak daging sapi melelehkan air liur. Tambahkan sambal tauco, wah merem melek rasanya enak sekali. Bahkan restoran langganan di Jakarta tak selezat dari bumi aslinya. Sop konro, kuahnya hampir sama tapi dagingnya dari potongan besar iga sapi. Sop saudara  juga dengan irisan daging sapi namun dalam kuahnya ada bihunnya. Pokok hanya enak dan enak sekali. Secara aku jenis omnivora dengan kecenderungan berat karnivora! Aku tambah porsi coto, dilayani. Aku mau tambah porsi nasi, eh si Daeng tak nampak lagi. Ditunggu beberapa lama tak muncul-muncul juga. Jangan-jangan dia jum’atan nih, tebak Femmi. Okay deh, aku pun pergi ke tempat nasi yang berbentuk bakul dan ditutupi serbet. Ambil sendiri, makan lagi. Oh, lupakan keringat. Nikmat sekali sampai kipas-kipas. Warung makan serasa milik pribadi. Kalau kami sampai melarikan diri, tanggung sendiri perut mules. Hahaha. Dosa tahu!

image

   Si Daeng kurus, tinggi dan lebih sering menunduk ini tiba-tiba muncul lagi. Dia hentikan langkah sambil menyimak tanpa memandangku saat aku informasikan aku ambil nasi sendiri tadi. Kelamaan nunggu Daengnya sih. “Ntar hitung aja sekalian semuanya,” kataku mengakhri.
Eh la kok si Daeng lari cepat menuju bakul nasi dan membuka serbetnya tanpa basa-basi. Aku melongo saat dia menoleh kearahku sambil tertawa malu-malu. Wajahnya lega sekali. Sesekali dia melirik-lirik ke arahku sambil senyum-senyum sendiri.
“Ya elah Daeng, masak iya sih nasi sebakul aku habiskan sendiriiii,” kataku prihatin tapi malah bikin si Daeng, Femmi dan Sopir tertawa terpingkal-pingkal.  Abis tampang khawatirnya si Daeng itu loh. Hihihi, asem sekali Wong Jowo montok kelayapan ke Makassar. Disangkanya kuat sebakul nasi!
Malamnya gantian Femmi yang sakaw pisang epe. Weee apapula ini? Aku taunya Es Pallubutung yang berisikan bubur sumsum, pisang, dikasih es serut dan diberi sirup, segar sekali. Atau Es Pisang Ijo yang hampir sama dengan Pallubutung tapi pisangnya dibungkus kulit kue berwarna hijau. Wah ternyata mantap juga Pisang Epe! Pisang yang masih antara mengkal dan mateng ini ‘disiksa’ sedemikian rupa dengan gebukan si ibu penjual hingga menjadi rata dan pipih bentuknya. Kemudian pisang dibakar di atas arang membara, dibolak-balik hingga rata kematangannya. Pisang disajikan dengan guyuran santan gula merah yang beraroma durian. Sedapnya. Kita juga bisa meminta tambahan coklat dan keju kalau mau. Ditambah segelas kopi atau teh panas, manis dan kental lengkaplah ke-maknyusan pisang epe ini. Femmi sampai harus beli bawa pulang saking sakawnya. Hahaha. Jangan lupa minum obat! Kami yang tadinya berencana berkaraoke yang ada fasilitasnya di rumah Erna, malah kekenyangan dan mengantuk berat. Untungnya beberapa teman Erna yang dikerahkannya untuk menemani kami pada mengerti kami harus berangkat di dini hari dan subuh esok hari. Party di rumah dekat pantai ini pun ditiadakan.

image

image

   Dalam kurun waktu lima belas jam berikutnya sebelum ke Papua kami melakukan city tour ke  landmark-landmark-nya kota Makassar. Ke Pantai Akarena  terlebih dahulu yang memang dekat dengan rumah. Biarpun hanya berdua ditemani sopir yang merangkap sebagai fotografer kami, tetap saja hepi dan heboh dengan gaya narsis kami. Angin sangat kuat saat itu, jadi kami menikmati desauan angin di dermaga Pantai Akarena tidak bermain-main di air pantainya. Pantai Akarena, pantai yang unik dengan barisan bangku-bangku lucu di tepiannya. Pantai yang ditembok dan menyediakan sedikit pasir di sepanjang garis pantainya, mempunyai taman yang luas dengan air mancur berlubang ditengahnya. Sayangnya saat itu dimatikan, namun kita bisa mengintip laut dari lubangnya. Dermaganya yang memanjang dan melebar ke laut sungguh asyik untuk menikmati deburan dan angin lautnya.

image

image

image

image

  Kami pun melanjutkan ke Pantai Losari dengan masjid biru-nya yang terapung di laut sana. Pantai Losari merupakan ruang publik bagi warga Makassar sehingga ramai orang datang mengunjunginya. Tua, muda, besar, kecil, penjual dan pembeli berkumpul menikmati keindahan laut Makassar dengan orang-orang Bugisnya yang terkenal sebagai pelaut ulung sejak jaman dahulu kala. Masjid Birunya sungguh luarbiasa rancang bangunnya. Indah dan megah! Kami menikmati Pantai Losari dan suasananya juga makanan-makanan khas Makassar hingga senja tiba.

image

image

image

image

   Kami baru teringat bahwa kami belum mengunjungi benteng Fort Rotterdam. Maghrib hampir berkumandang saat kami tiba. Teringat akan pengalamanku di Museum Fatahillah (Cerita : Diikuti Noni Belanda Dari Kota Tua), aku tidak berani pecicilan dan macam-macam. Benteng pertahanan era kolonial Belanda mempunyai cirikhas yang sama. Gedung-gedung bertembok tebal ala Eropa yang terbagi-bagi antara gedung perkantoran, rumah para jenderal, bagian logistics dan persenjataan, penjara-penjara dan halaman luas yang dilingkari tembok tinggi sekali.

image

image

image

image

image

   Tiba-tiba sopir Erna mengajak kami ke sebuah pantai yang berisikan kapal-kapal tua yang sudah dipensiunkan. Tak mau berlama-lama di benteng kami pun mengiyakan. Sungguh syahdu melihat kapal-kapal mati di senjakalanya hari.

image

image

image

   Aku dan Femmi benar-benar dimanjakan Erna yang sekarang ribuan kilo jauhnya di seberang pulau sana. Tak ingin kami sendirian, teman-temannya mba Titin dan teh Diah menemani kami sepanjang malam dengan mentraktir kami makan malam yang serba ikan.

image

image

image

image

   Persaudaraan antar sesama perantau bisa sangat kuat meski mereka berbeda suku dan agama. Rasa rindu akan tanah kelahiran atau pun tantangan beradaptasi dengan lingkungan pastilah membuat mereka merasa senasib dan sepenanggungan. Dan mereka tidak ingin merasa kami kesepian atau ditinggalkan. Awww so sweet! Jadilah malam terakhir di Makassar dipenuhi gelak tawa dan kecerian, lupa kalau kami baru saja bertemu tapi sudah seperti teman lama.

image

image

image

image

Advertisements