Ku pikir keren juga rambut merah marun  menyala yang ku miliki sesaat sebelum pergi ke Raja Ampat dulu. Warna rambut yang disukai banyak temanku. Katanya cerah dan nyalanya memantul di wajahku. Iyakah? Bahkan rambut merah ini sanggup membelokkan langkah boss bule-ku dari meeting, melipir dulu ke mejaku. Pujinya, rambut dan penampilanku okay sekali. Ahahaha, langsung memerah  deh ini pipi. Demi apa coba? Sayang si boss sudah merit, jadi harus menahan diri dipuji lelaki, bule lagi. Aku cuman malu-malu bilang,”Iyakah?” dan berterimakasih. Di Papua , pesona rambutku memukau siapa saja hingga orang Papua mengajakku foto bersama. Ge er kali!  Tapi dikiranya aku penyanyi dangdut, entah siapa yang mereka maksud.  Kira-kira? Sayangnya rambut indah berharga setengah juta rupiah itu hanya berusia dua minggu. Luntur, hancur lebur begitu nyemplung ke lautan Raja Ampat. Bahkan teman-teman trip-ku mengira kepalaku bocor terantuk karang,  saat lunturannya membasahi wajahku. Muka merah seperti berdarah-darah!
Seingatku aku tidak akan ada trip ke lautan dalam waktu dekat ini. Jadi amanlah kalau mau mengecat rambut lagi. Tata dan Chris yang ku hubungi berjanji mau menemani tapi harus di hair stylist mereka berdua di Mangga Dua sana. Waduh yang pribadi-pribadi begini pasti mahal sekali. Hmmm, okay-lah sesekali.
Tuhkan benar, semua dilakukan sendiri oleh penata rambutnya. Bahkan kami bertiga rela antri demi menunggu si cicik yang tinggi dan cantik ini. Aku sih tinggal mengikuti saja. Tiba giliranku, Tata lah yang berinisiatif memberikan masukan dari model potongan pendeknya hingga warnanya. Wis manut saja! Serahkan pada ahlinya.
“Teman Chris apa Tata?” tanya si Cicik membuka percakapan dengan kastamer barunya, sambil memulai memotong rambutku. Ku jawab teman keduanya. Tinggal kami bertiga saja sekarang. Sejak pukul enam sore hingga jam sembilan malam, aku baru ke pegang. Si Cicik bercerita mereka berdua adalah kastemer lama jadi sudah tahu maunya mereka apa. Jadi, dimintanya aku menyesuaikan apa yang ku maui tinggal dia mengeksekusi. Tapi dia juga bisa memberi masukan jika diminta. Dan menurutnya potongan dan warna rambut yang dipilihkan Tata cocok! Aih professional sekali, mahal ini pasti. Dia melanjutkan dia terbiasa bekerja sampai malam kadang dipanggil juga ke rumah kastemer. Banyak artis yang datang juga, namun mereka biasanya datang selewat tengah malam. Sambil terus memotong rambutku dan mulai mewarnainya dengan telaten sekali, dia melanjutkan ceritanya,”Ceribel termasuk langgananku.”  Konfirm ini muahal sekali.
Berjam-jam rambut di kepalaku dikerjakannya dengan lembut dan telaten sekali setiap inchi-nya. Butuh tiga pewarnaan, empat keramas dan satu kali tiga jam untuk mengerjakannya. Hasilnya memang luarrrbiaaasahhh. Aku suka sekali potongan dan warnanya. Yeah, dangdut singer is back! Aku tak bosan-bosannya mengaca dan selfi mengagumi diri sendiri walau ATM tergesek jutaan rupiah kali ini. Hahaha itu sebenarnya yang menjadi alasan rajin komentari diri sendiri. Mall sudah tutup saat kami pulang, bahkan perlu mencari satpam agar pintu dibukakan. Artist dangdut mau lewat!
Seninnya aku dan penampilan baruku langsung heboh. Banyak yang suka, ada juga yang komentar warna  lain lebih bagus. Aku sendiri meresponnya dengan bilang kalau aku tidak akan ke salon selama tiga tahun setelah ini. Bagus memang bagus tapi mahal sekali. Hihihi. Dan entahlah, ada apa dengan si Rambut Merah ini? Boss bule baruku yang sudah opa-opa jadi rajin menyapa dan bilang ‘Good Morning’ saat datang. Saat pulang menepuk pundak bilang ‘Goodbye’. Hahaha. Tetap aku harus menahan diri dipuji lelaki, bule lagi, nah ini opa-opa yang merit pula.
Di usia ke dua minggunya, ‘mahakarya’ ini harus melewati ujian pertamanya saat aku harus menjalani les renang. Ku pikir tidak apa-apa karena berenangnya di kolam air tawar. Sehabis nyebur aku selalu meributkan diri ke pelatih dan teman lesku apakah rambutku luntur. Tidaaakkk, kata mereka. Oh syukurlah, uang jutaan bertaburan di kepala. Selama dua jam lebih aku berenang. Dan saat mengaca aku kaget warna rambut jadi coklat gelap. Ah mungkin karena  basah saja ini, batinku menghibur diri sendiri.
Keesokannya teman manager di kantor nyeletuk,”Jadi kalah nih sama kaporit?” Waaakkss! Aku yang lagi berjalan ke mejaku langsung ‘pause’, berdiri mematung dengan muka panik. Kaporit! Kaporit lah penjahatnya! Berlari ke meja, mencari kaca rias  dan terhenyak…terhempas oleh kenyataan pahit rambut merah menyalaku hancur oleh kaporit! Huaa…hikhik.
Segala cara ku lakukan untuk menghindari parahnya tingkat kehancurannya, dengan memakai penutup kepala saat berenang. Tapi itu tidak mampu dan hanya sementara. Rambut berubah dari coklat gelap, menjadi coklat muda dan akhirnya memirang bak bule-bule dari udik sana. Sungguh tak ku percaya nasib burukku ini. Butuh waktu tujuh jam dan jutaan rupiah untuk mendapatkannya, hancur dalam  dua jam – enampuluh ribu saja. Dari yang Papua dan kini kolam renang Cikini, usianya tak lebih dari dua minggu saja! RIP Rambut Merah Marun Menyala. Aku belum tega menghidupkanmu lagi. Kapoooookkk!!!!

image

Advertisements