Tawaran ke  Singapura  mengejar dan bertemu Ayu Gani ini menarik! Aku tidak pernah bepergian keluar negeri kecuali bisnis trip.  Itu pun sudah dirancang sedemikian rupa dari yang menjemput di bandara siapa, tinggal di hotel mana, antar jemput dari hotel ke kantor pulang-pergi dan acara  yang padat dari pagi sampai petang hari. Dan sebelum akhir pekan sudah balik Jakarta dengan PR laporan perjalanan dinas ini ke kantor. Hu hu hu. Dan anehnya aku juga tak ada keinginan untuk explore kota-kota yang ku kunjungi.  Dedikasi banget sih!
Kalo tantangan ini ku terima, berarti aku harus siap-siap mandiri. Berani sih berani! Pertanyaannya bisakah? Di Indonesia saja aku tak  bisa baca  peta. GPS bilang tinggal 10 menit lagi dari lokasi yang dituju, eh perasaan sudah di ‘shiratal mustaqim’ alias jalan yang lurus dan benar kok tiba-tiba GPS bilang kurang dua jam lagi begitu belok kiri! Aku juga hanya akan mengingat jalan ke rumah dan kantor pulang pergi dan jika harus pergi ke tempat lain harus ada navigatornya. Itu pun kesulitan membedakan mana kanan, mana kiri.  Hingga temanku berinisiatif membedakannya dengan aba-aba ‘belok cebok dan belok makan’. Tanganku yang pegang setir lebih mudah mengenali, oh kiri buat cebok, oh kanan buat makan. Parah!!!! Setiap parkir di mall, aku harus memotret tempat dan nomer parkir, lift dan toko dekat lift. Sekalinya tidak, wassalam muter-muter  cari mobil di parkiran. Itu soal  jalan, belum lagi soal makanan! Perutku yang kampungan susah menerima makanan asing apa itu sushi, tomyam bahkan spaghetti. Maunya nasi, tempe, ikan teri. Jadi masih mau ke Singapura sendiri?
Ku baca email temanku Ira berkali-kali. (Gani maju berdua  bersama Monika menemui sang Host, Georgina. Fesbuk masih sibuk dengan perang yang berdarah-darah antara lovers dan haters). Singapura lebih aman dari Jakarta, pikirku menimbang-menimbang. Mereka juga berbahasa inggris. (Berdua ditanya bagaimana perasaanya hingga di final two. Keduanya sangat bahagia. Monika telah berjuang keras untuk sampai ke posisi ini setiap harinya. Gani membuktikan kepada orang yang meragukannya di luar sana bahwa dia bukan model yang bagus, dia pendek, mereka semua salah.  Fesbuk semakin menggila dan haters tak bisa lagi menahan diri. Segala ucapan kasar dan sampah bersliweran).  Aku juga berencana melakukan perjalanan ke luar negeri dengan backpackeran, ini bisa jadi ujicoba yang cukup aman. Aku terus berpikir di depan komputer pribadiku. (Georgina menyatakan mereka berdua layak di final two. Diakuinya perjuangan keras Monika dan membenarkan bahwa semua orang salah tentang Gani. Semua menahan nafas dengan degup jantung memacu lebih cepat saat Georgina menggantung kalimatnya. Pemenang Asia  Next Top Model adalah…..). Semuanya seperti bersliweran di depan mata, tentang para lover dan hater, tentang gadis muda yang berjuang membanggakan bangsanya yang morat-marit ekonominya. ( adalah ….GANI).  Kamu pasti bisa! Kataku menyemangati diri sendiri.
“Ya, aku akan ke Singapura!”  Klik. Pesan terkirim.

image

   Semuanya serba dadakan di wiken itu. Tipikal aku banget, tak mau ribet yang nanti dipikir nanti. Pesan pesawat Jakarta-Singapura dadakan sudah pasti mahal. Buru-buru tukar dollar Singapura di money changer di lantai dua  gedung kantor. Baju tak perlu banyak karena pergi sabtu pulang minggu. Penampilanku juga agak berubah akhir-akhir ini. Meski tidak dandan habis, bedakan, pakai lipstick dan pensil alis lumayan rajin. Jadi hobby belanja baju, sepatu dan tas. Ada yang memuji, ada yang menertawakan dan tak percaya sampai geleng-geleng kepala. Yang terakhir pastilah teman-teman dekatku yang tahu aku paling bete belanja-belinji. Aku hanya bisa meringis. KAG! Korban Ayu Gani! Tapi kadar sophaholic-ku masih mending, nah mereka bisa muterin mall sampai gempor hanya untuk beli barang yang dipilih di toko pertama tadi! Capai deh, barbie!
Tuhkan aku lupa bawa pullpen! Terpaksa  “Excuse me, bole pinjem pulpen?”  ke sesama penumpang. Isi data. Ku lihat hape sudah berpindah ke area Singapura namun tetap dengan biaya lokal setelah sebelumnya aku minta di-registerkan oleh provider. Jadi aku bisa tetap berkomunikasi dengan Ira temanku di Singapura  sekiranya kesasar. Berjalan mantap ke bagian imigrasi, seperti biasa ditanya-tanyai. “Ah, Isnin harus kerja ya?” ujar petugas ramah saat ku jawab aku hendak menemui teman dan minggu sudah pulang. Tumben ramah, biasanya jaim dan serem kan petugas imigrasi itu.
Keluar dari imigrasi kebingungan melanda. Bukan, bukan itu yang aku tuju…tempat dengan deretan taksi berjajar rapi. Bukan juga pintu keluar tempat mobil jemputan menunggu. Aku harus menemukan kode-kode  ini. Ayu Gani seperti terasa tersenyum menyemangati. Ku amati sekeliling, memang beda antara Soekarno-Hatta dan Changi. Dari segi kemutakhiran jauh berbeda. Moda transportasi yang terintegrasi dan internet yang melambangkan kecanggihan teknologi bebas dan kecepatannya luarbiasa. Aku pun duduk-duduk menikmati.  Brosur ataupun papan informasi di mana-mana. Aku berjalan kesana-kemari, membeli kartu transportasi yang terintegrasi dan capai sendiri. Ira cemas aku ada dimana dan ku bilang aku sudah tiba dan baik-baik saja.
Aku berlari ke bagian informasi, bertanya pemberhentian bis dimana. Mba-mba berwajah India membaca alamat Ira dan dengan manis berkata,”Sudah naik taksi saja. Atau suruh temanmu menjemputmu.” Yeeeee nanya apa dijawabnya apa. Okay, makasih!
Aku kembali ke gerai ticket. Bertanya tempat bis. Ditunjuknya jalan lurus ke depan dan menyuruh ke lift yang akan membawaku ke bis-bis. Mantap! Masuk lift , pencet dua ke bawah, jalan sedikit mengikuti papan informasi sampailah ke bis-bis. Sepi. Hanya aku sendiri dengan pagar-pagar rendah di antara pilar-pilar.

image

image

image

   Naik bus no. 858 arah Woodland International via  Yishun, tulis Ira. Bis -bis datang dan pergi tapi belum ada nomer 858. Aku lihat pagar-pagar, pasti ini ada pengaturannya tapi aku tak bisa membacanya. Beberapa orang datang dan menempatkan diri di pagar-pagar tertentu. Hmmm…aku pun mendekati seorang gadis di pojokan di pagar terjauh, bertanya tentang bis 858 dan fungsi pagar-pagar. Si gadis tersenyum dan menunjukkan pagar terjauh dan baru aku ngeh, ada tulisan angka-angka di masing-masing pagar. Pantas aku tak melihatnya. Berterima-kasih aku pun kembali ke antrian yang benar menunggu bis datang. Sepertinya Ayu Gani bangga padaku. Hahaha.

image

   Bis datang, aku memilih mundur tiga antrian ke belakang. Aku tidak tahu cara menngunakan kartu transportasiku. Ku lihat dua orang di depanku men-tapkan kartu di dekat sopir. Aku pun mengikuti untuk kemudian duduk di belakang sopir. Bis besar dan bersih, juga tak  berdesak-desakan. Bis selalu menginformasikan di layar tempat-tempat persinggahan. Tak  ada kernet atau pun petugas di bis kecuali sopir. Semuanya serba mandiri dengan asas saling mempercayai. Di suatu tempat nun jauh di sana, bis yang sesak belum tentu cara tap efektif, malah rugi kalau satu menge-tap serombongan ikutan turun. Hihihi dimana ya kira-kira? Setiap keluar bis ku lihat orang men-tapkan kartunya lagi. Ok, tinggal tirukan.
Dari 858 kamu turun di Jalan Kayu. Bis stop no. 68111 BEF Selatar Camp. G. Kalau bingung tanya sopir, tulis Ira. Ku lihat si Sopir karena aku tak  yakin bisa turun dengan benar apa tidak. Ah, di Indonesia saja dilarang keras bicara sama sopir, masak iya disini boleh. Ditabok jangan-jangan? Ayu Gani mengiyakan. Aku memutar kepala ke belakang, seorang pemuda berwajah India tersenyum ramah. Aku pun bertanya soal bis 68111. Katanya masih jauh dari sini dan nanti akan terpampang di layar informasi. Dia tidak bisa menunjukkan karena harus turun sebelumnya. Wah baik sekali, terimakasih! Aku pun menikmati perjalanan yang memang jauh ternyata. Tapi lihatlah negara kota ini, sangat bersih, rapi dan asri. Jalanan tidak semrawut sehingga bus berjalan lancar dan nyaman.
Si pemuda benar. BEF Selatar Camp. G terpampang di layar. Aku pun turun dengan men-tapkan kartuku sekali lagi. Sebentar lagi aku ketemu Ayu Gani! Bis no. 68111  datang dan bersama rombongan besar dengan mantap aku naik ke dalam. Semua bis sama, besar, bersih, terawat dan dengan teknologi tap. Bis penuh kali ini. Tapi anak-anak mudanya memilih berdiri memberi kesempatan duduk ke yang lebih tua. Mereka dengan kesadaran sendiri langsung berdiri tidak langsung mencari kursi. Aku tersenyum sendiri, ingat ada yang berebutan kursi sudah begitu langsung pura-pura tidur, padahal kursi yang didudukinya untuk para manula, penyandang cacat, anak-anak dan ibu hamil. Aku pun duduk manis, merasa nyaman dan aman.
Duduk di sebelahku sebuah keluarga kecil berwajah oriental dengan sepasang anaknya yang lagi cerewet-cerewetnya. Setelah orangtuanya menenangkan mereka, aku pun mulai bertanya  Yio Chu Kang Road, tempat Ayu Gani berada di Castle Green Singapore sekarang ini. Ternyata dekat saja tempatnya. Setelah melewati jalan yang sepertinya jalan layang, berhenti di satu lampu merah dan belok kiri, tak seberapa jauh si Bapak menunjuk Castle Green di seberang jalan! Aku pun turun di shelter-nya dengan berterima kasih banyak sebelumnya.
“I don’t believe it!” Begitu kata Gani saat ditanya perasaannya menjadi juara Asia’s Next Top Model Musim Ke-3. Pun begitu aku sesampainya di Castle Green. Ira menunggu sambil tersenyum bahagia bisa bertemu lagi setelah sekian lama. Dia selama ini tinggal di Swiss dan juga Singapura.  Kami berpelukan, Ira kelihatan lega aku tak kesasar.  Dan dengan semangat tinggi aku menuju ke dalam. Ayu Gani sudah menunggu!
Di atas meja  balkon apartment Castle Green, Harper’s Bazaar Singapore edisi Juli 2015 tergeletak. Masih dalam kemasan plastiknya. Ku raih cepat dan gadis sampulnya dengan tatapan ganasnya menatapku seolah- olah berkata,”Apa kabaaarrrr? Ketemu juga kita!”

image

   Ya kita bertemu dan lihat dirimu yang berhasil membuat cover Harper’s Bazaar Singapura begitu mewah dan elegant. Ku buka halaman demi halaman dengan foto-foto Ayu Gani di dalamnya. Ini semua bukti nyata bahwa kamu layak menjadi juara dan cerita hidupmu semoga menginspirasi banyak orang meraih mimpi-mimpinya.
Aku mendongakkan kepala dan melihat Ira tersenyum simpul, katanya, “Itu majalah pas banget, tinggal satu-satunya di toko buku. Syukurlah! Aku sebenarnya bisa saja mengirimnya lewat pos. Tapi, yah aku senang kamu disini!”

image

   Ku peluk dia, berterimakasih. Aku juga sangat merindukan dia dan putri kecilnya. Dan hey, kami harus update teman-temanku di Indonesia kalau aku berhasil bertemu Ayu Gani di Singapura  dengan segala kecacatan parahku akan jalan dan membaca peta. Mereka pastinya sudah cemas setengah mati. Cekrek!  Aku, Ira dan Ayu Gani (walau dia di cover majalah saja). Suatu saat, suatu kesempatan pasti bisa bertemu langsung nanti!

image

(TAMAT)

Advertisements