Bosan sekali melihat headline dan mendengar berita-berita mengenai selebriti dan dunia hiburan tanah air saat ini. Dari skandal prostitusi yang melibatkan beberapa selebriti, hingga sinetron-sinetron dan acara-acara reality show yang bikin emak-emak se-nusantara bingung ditanya anak balitanya , “Emang ada ya Mama, manusia setengah hewan?” Atau anak remajanya yang ikut-ikutan bergaya selangit tapi nilai ujian sedengkul. Pusing ‘pala babe! Dari Ganteng-Ganteng  Seringanga, Putrinya Kok Tertukar Ngga Kelar-Kelar?, Tukang Kubur Jualan Bakso (memang gak boleh ya?hihihihi), sampai acara  musik Damprat-lah, Fesbukan-lah yang host-nya dilaporkan ke polisi. Sebentar si Anu cerai sama si Abu, sebentar si Macan cakar-cakaran sama si Harimau (eh sama ya?). Haduuhh, rame kali dunia persilatan ini! Di pelosok-pelosok masih banyak loh penggemar tontonan beginian, sampai pada nganga mulut di depan tipi. Terus kita kudu ngomong apa?
Ganti channel, pilih siaran luar negeri eh acara Next Top Model se-Asia yang berlangsung di Singapura dimulai. Lah ini! Mending nonton ini karena ada yang bisa dipelajari. Rasanya aneh ingat alasan aku suka acara ini hanya karena owner-nya si Mbak Tyra Banks dari Amrik sono bilang hanya di pekerjaan modeling-lah wanita dibayar lebih mahal daripada pria! Wah lha ini menarik, karena di banyak pekerjaan dengan posisi dan tanggungjawab yang sama wanita dibayar lebih murah. Huh, menyakitkan! Tapi memang itu senyatanya yang membuatku tertarik sebagai orang awam.
Persinggunganku dengan dunia fashion dan industri pendukungnya hanyalah sebatas pada teman  yang menjadi designer ternama dari Semarang sana, G. Vici. Dia tak segan-segan mengomentari bajuku murahan dapat beli di pasar karena benangnya serabutan. Asem ik! Tak apa-apalah, asal boleh nebeng mobilnya sembari dikuliahi soal merawat bodi sambil sesekali diomeli jika melihat gebetannya berpeluh keringat jalan kaki, sementara aku duduk manis di sini. Yah tetap saja mahasiswi pas-pasan ini tak mampu membeli baju-baju rancangannya. Di Jakarta, ketemu teman kos penggemar berat Betty La Fea, yang ternyata pemenang Palem Emas di sebuah mall mewah. Dia menjadi perancang di brand jeans ternama dan sekolah di Lasalle, Ratna Santosa namanya. Kadang diajaknya kami melihat peragaan busana sebelum akhirnya dia balik ke Solo jadi dosen. Aku yang  bekerja di freight forwarding dari sebuah shipping line hanya bisa melihat barang-barang bermerk bersliweran menggiurkan.  Saat kecil, mesin jahit merk singer yang dibeli kakakku saat mendapatkan gaji pertama sebagai PNS,  malah ku buat mainan ayun-ayunan pengayuhnya. Hus,hus, diusirnya anak tak tahu adat dan karya seni ini. Selebihnya dari tampilan yang tomboy dan males dandan sudah jadi bawaan sejak kurus hingga melar begini. Benar, hanya kata-kata Tyra Banks yang membuatku tertarik melihat acara ini.
Tiga gadis muda dari Indonesia langsung mencuri perhatian dibandingkan peserta di dua musim sebelumnya. Tipikal anak kelahiran 90-an dengan kecanggihan jaman yang dimilikinya. Internasional banget dengan inggrisnya yang cas cis cus dan berani bersaing dengan gadis-gadis muda dari negara lain. Taruhan mereka tidak tahu dolanan jilumpet, gaprakan, pasaran, telpon-telponan pake kaleng atau boneka-bonekaan dari kertas dan kain bekas jahitan khas generasi kelahiran 70-80-an! Ketahuan umur, hahaha. Ya mereka mencuri perhatian ditengah morat-maritnya perekonomian negeri dan berita  miring dari kaum yang kita sebut ‘terkenal’.  Tanpa menunggu Badan yang namanya Ekonomi Kreatif beraksi (sampai kini pun belum terlihat aksinya) mereka menjajal suatu bidang seni  untuk menjadi nomer satu di arena Internasional. Modeling. Tidak seperti atlit, pekerja seni dan termasuk modeling selalu mencari jalannya sendiri mencapai kesuksesan. Acara semacam Next Top Model memberikan pengetahuan bahwa tidak mudah menjalani suatu profesi, apapun itu, termasuk model yang sepertinya serba glamour, wangi, dan bening.
Siapa sangka dunia model juga membutuhkan disiplin yang tinggi dan upaya keras untuk bertahan pada satu kondisi, disukai dan dipilih oleh klien! Bukan sekedar cantik dan bisa berjalan di catwalk saja. Tapi juga mempertahankan tubuh untuk ukuran sample, menjaga kebugaran, kemampuan membawakan apa yang sedang diperagakan apakah untuk komersial, editorial atau pun adibusana? Semuanya membutuhkan tidak hanya kecantikan dan keluwesan, tapi juga kepandaian. Bahkan Tyra bilang semakin aneh dan alien wajah si model, semakin unik dan keluarlah kepribadian sang Model yang membedakannya dengan model kebanyakan dan industri ini menyukainya. Tyra tak segan-segan memilih model berkulit belang-belang bahkan bergigi tonggos di acara-nya ini. Selebihnya adalah hasil dari kerja keras dan jatuh bangunnya bersama team yang lain, fotografer dan perancang busana.  Jadi emak-emak yang menjaga anaknya bak pualam  hingga dimarahi dengan keras jika lecet karena main sepeda, camkan! Ada lho kenalan yang karena ingin putri kecilnya jadi model, dijaganya kulit putih mulusnya putrinya dengan tidak boleh keluar rumah dan bermain yang ‘membahayakan’, yaelah lari-larian doang bisa bikin si emak senewen. Gubrak! Jatuh, kiamat dunia. Kasihan kan?
Dan lihatlah anak-anak muda ini, dalam perjalanannya menembus dunia internasional mereka tetap anak-anak Indonesia banget! Rani yang juga drummer menangisi dan menyesali rambutnya yang dipotong dan ganti model. Tumbang di episode ke-empat, dia gadis Indonesia yang suka berambut panjang. Indonesia banget kan? Siapa sangka Tahlia, gadis blasteran Australia-Jawa, dan Gani yang asli Jawa menangis ketakutan saat tubuhnya harus dilukis dengan hanya bra dan celana dalam untuk sebuah pemotretan mobil merk terkenal? Ah anak-anak yang manis, mereka bahkan tidak lupa di negaranya akan menjadi bahan omongan dan mungkin disensor atau dilarang. Di suatu daerah mereka bisa dicambuki. Ngeri bener! Sebuah kompromi dengan produser menyelamatkan mereka untuk tidak menghalangi menuju tangga juara dengan melonggarkan aturan berpakaian. Sayang Tahlia tereliminasi di episode ke -sembilan. Diantara galaunya hati apakah mengidap kanker, gadis belasan tahun dari Bali yang mirip Scarlet Johansen ini, tak bisa mempertahankan performanya yang berhasil mencapai puncak di episode sebelumnya.

image

Gani terus melaju  di kompetisi ini. ‘Pertikaian’ dan persaingan ketatnya dengan gadis model perwakilan Filipina membawa acara ini ke ranah yang tak terduga, perang cyber di dunia maya antar pendukung mereka. Aku yang juga mengikutinya di Facebook, karena belum kenal Instagram, juga ikut merasakan panasnya perang antar pendukung. Perasaan campur aduk antara ketawa geli, jengkel, geleng-geleng kepala, panas-dingin, terharu, bahagia, sedih mengikuti perang di dunia maya. Orang-orang Indonesia dengan keterbatasan bahasa inggrisnya dibanding Filipina membela mati-matian tak peduli kemampuan bahasa inggrisnya dihina dan di- Rest in Peace-kan. Hahaha.  Ah bangsaku, amanlah kau jika ada yang menyerang! Bersatu kita teguh, bercerai balik lagi buat bela anak negeri! Hanya memuji Gani bisa dimaki-maki mereka dengan prinsip senggol bacok, nah lho nyenggol aja kagak. Tholhong…. Peperangan memuncak hingga ditengahi dengan hastag #justlovenohate karena sudah pada tingkat yang rasis dan memuakkan. Para host acara sampai turun mengingatkan para penggemar acara mereka.  Seingatku, Indonesia bukan yang memulainya.  Orang bahasa inggris saja masih di atas sedikit elementary test lulusnya, hihihi aku juga.

image

   Suasana panas semakin memuncak di hari final. Gani tinggal sendirian dari kelompoknya yang terkenal ,  ‘Para Ubur-Ubur’, dari Jepang, Malaysia, Vietnam, Hongkong dan Indonesia.  Di final Fliperenas plus one yang dari Filipina dan Singapura  vs ‘the one and only’ Jellyfish. Salah kibas rambut, ubur-ubur mental. Gadis dengan struktur rahangnya yang kuat dan  ‘keganasan’ tatapannya, sungguh memikat segmen editorial dan adi busana. Namun dia termasuk pendek untuk ukuran model yang tinggi-tinggi menjulang di atas catwalk. Final ini adalah pembuktiannya.
Setiap break, ku cek fesbuk dan ribuan komen bersliweran di dunia maya. Baik yang yang pro dan kontra. Aku jadi tahu kejamnya haters, bashers karena sebelumnya hidup di dunia maya yang lebih beradab. Aku tetap mendukung dengan tidak terpancing apapun. Lagian aku punya teman kerja yang berkomunikasi tiap hari di Manila sana. Uh, tapi geram juga. Sampai ku cari profil Mr. Bean dan ku tulis ‘Haters go to hell, Winner go to London’. Upload. Epic, langsung ramai. Dimaki juga tetap. Gani berjuang sekuat tenaga menghilangkan keminderan dan ketidakpercayaan dirinya yang pendek dengan berjalan luarbiasa indahnya di catwalk. Juri yang tadinya meremehkan akhirnya merevisi ucapannya dan mengakui Gani yang terbaik. Fesbuk gempar lagi. Di tantangan photoshoot sebelumnya, dia bangkit dan berjuang lebih dari seratus persen menghasilkan foto editorial terbaiknya. Ubur-ubur menyengat, untuk berubah menjadi kucing gahar yang mengincar juara Top Model Asia dari Indonesia untuk pertama kalinya. Dia telah memenangkan kategori group, campaign dan editorial sebelumnya.
Saat Gani dinyatakan sebagai juara di kompetisi ini, euforia penggemar acara ini dan juga dunia fashion Indonesia memuncak. Aku percaya para pendukung beratnya ikut menangis haru bersamanya. Seluruh dukungan dan resikonya terbayar. Segala makian terlupakan.  Kami benar-benar bahagia dan bangga.

image

   Sayang media-media mainstream sepintas lalu meliputnya. Ah ya, bad news is good news lah. Padahal di tengah carut-marutnya ekonomi dan pertanyaan tentang mau kemana anak-anak muda negeri ini, Rani, Tahlia dan tentu saja Gani bisa  menjadi contoh  tentang menjadi yang muda yang berprestasi. Dengan harapan membuka pengetahuan anak-anak muda  akan sebuah profesi dan tanggung-jawabnya. Bukan melulu cerita ngeri tentang sisi gelap selebriti. Atau pun merasa hidup seribet Putrinya Kok Tertukar, atau hidup semudah Ganteng-Ganteng Seringanga. Industri fashion sangat besar  karena melibatkan banyak profesi dan industri dari fotografi, design, industri tekstil, penjahit baju, alas kaki hingga industri pergudangan, pengiriman dan pengapalan barang ke seluruh dunia.  Para pelaku  ekonomi kreatif memang masih harus kreatif dengan cari cara sendiri. Gani melaju tak terbendung setelahnya dengan membuat brand-nya sendiri dan berkiprah di dunia modeling Eropa. Dan dia baru 23 tahun saja.
Sebuah email masuk dan terbaca, “Kalau mau nemuin Ayu Gani, datang ke Singapore. Gak ku jemput, jalan sendiri. Ini nomer-nomernya!” Wohohooo ini bukan biz trip yang diatur sedemikian rupa sehingga tinggal duduk manis terima jadi. Berani?

image

(Bersambung)

Advertisements