Hohoho aku harus berpikir panjang dulu saat diajak rafting di sungai Pekalen, Probolinggo, Jawa Timur sono. Satu, air sungai yang tawar tidak membuatmu mudah mengambang seperti air laut yang kadar garamnya tinggi. Lagian aku tidak bisa berenang. Dua, rafting  itu pasti di sungai yang berarus deras dan dalam, kalau perlu bergolak hebat, tidak seperti snorkeling di laut yang tenang. Lagi-lagi aku tidak bisa berenang! Tiga, batu-batu besar menghadang di jalur berkelok-kelok membutuhkan stamina kuat dan ketrampilan mendayung agar perahu tidak terbalik. Lagian aku tidak berolahraga.
Walau masih ragu-ragu aku tetap jalan karena sahabatku ingin merayakan ulang tahunnya di Bromo yang dekat dengan Probolinggo. Lihat saja nanti bagaimana. Mungkin aku akan jadi team hore-hore saja alias penonton di Pekalen dan lebih fokus ke Bromo, bermain-main di bukit teletubbies-nya.
Namun, semuanya mendadak berubah di hari ‘H’. Tiba-tiba sahabatku meng-cancel trip Pekalen-Bromo karena ada ‘tugas negara’ dadakan ke Taiwan. Mendadak juga aku berganti baju rafting dengan pelampungnya yang erat di badan dan helm terpasang kuat di kepala. Tak tahan lihat rombongan pada ceria tak ada takut-takutnya! Tahu-tahu  pula aku sudah berdiri paling tegak di depan sambil memegang dayung di samping kiri  badan, mendengarkan dengan cermat briefing dari rafting operator.

image

   Jreng, jreng, jreeeeng…. Katanya, “Rafting di sungai walaupun kita sudah mempersiapkan diri sedemikian rupa tapi kita tidak bisa memprediksi kondisi alam. Siapa tahu di hulu atau hilir sungai banjir? Atau mendadak hujan turun deras membawa balok kayu? Atau tebing sungai longsor?” Refleks aku mundur ke belakang, takutnyaaa. Tapi pantatku didorong ke depan lagi oleh temanku yang di belakang. Alamak…. Tak bisakah mundur? Tak bisa!!! Karena perahu sudah dibagi orang-orangnya. Kasihan yang seperahu denganku kalau aku mundur, jadi kekurangan orang. Kalau ada apa-apa, bagaimana perasaanmu? Meninggalkan begitu saja terus ada bencana, pasti akan jadi penyesalan dan dihantui rasa bersalah seumur hidup! Pasrahlah aku, berdiri tegak lagi di depan. Ditegar-tegarkan.
Kami diajari cara memegang dayung dan mengayuhnya yang benar. Memegang bagian atas dengan tangan kiri dan dekat dengan sayap dengan kanan jika posisimu di kanan perahu, dan sebaliknya. Mengayuh pun harus benar, kalau tidak benjol bahkan gegar otak teman terdekatmu di perahu terhantam dayung. Atau berdarah-darah wajah dan mulutnya, gigi bisa rompal! Ngok! Ada mendayung tegak lurus, ada mendayung ke samping yang ke semuanya tergantung kondisi arus sungai. Semuanya harus mengikuti arahan kapten perahu dari rafting operator. Ku lihat ke sekeliling, mayoritas  termasuk aku tatapannya blo’on dan pasti lupa kalau sudah di dalam sungai. Waduh!

image

   Kami diangkut dengan mobil bak terbuka dengan pagar besi di kiri dan kanannya menuju sungai. Perjalanan menanjak di desa Pekalen dengan pemandangan hutan dan ladang-ladang desa. Semacam  mau pergi bertempur saja kami semua. Berdiri tegak dengan dayung sebagai senjata. Ku ulangi berkali-kali teori yang diajarkan terutama bagian memegang dan mengayuh dayungnya sembari dibenarkan jika salah oleh kapten perahuku.
“Aku ga bisa berenang,” jelasku kepada si Kapten. Maksudku biar dia mengerti keadaan anggotanya. Sama! Jawabnya sambil tersenyum lebar. Uh ga percaya dia.
“Aku berat sekali,” jelasku mengenai problem lain yang mungkin mempengaruhi pembagian tempat duduk di perahu nanti. Tiga yang lain termasuk kategori berat, dua lainnya tipis-tipis. Kan bisa tenggelam atau melayang jatuh di sungai nantinya kalau tidak diatur duduknya. Sama! Jawabnya lagi dengan genit. Eh eh eh…
“Aku suka sesak nafas dan kurang sehat sebenarnya,” jelasku segamblang-gamblangnya. Sama!!! Kataku berbarengan dengan dia yang membuat orang se-mobil tertawa. Pasrah lah.
Mobil berhenti di ujung desa yang tak beraspal. Kami harus berjalan sepanjang beberapa kilometer menuju tepian sungai. Kata kapten cuma butuh 25 menit melewati semak-semak di jalan setapak ke sungai. Uh, sekali lagi tetap saja butuh stamina yang kuat. Perjuangan pun dimulai sedari darat karena jalanan naik dan turun. Aku tercecer di belakang bersama bapak-bapak dan para orang separuh baya yang tak seberapa banyaknya. Kapten perahu mulai sadar kalau aku tidak main-main. Badanku juga sudah mulai hangat. Kami kehujanan di Surabaya malam sebelumnya.  Setelah membutuhkan waktu hampir satu jam, aku pun sampai di tepian sungai yang deru arusnya terdengar bergelora. Ya Tuhan. Semua orang menanti komplitnya peserta hingga para tercecer bisa berangkat sama-sama. Baiknyaaaa.

image

   Temanku Tata akhirnya mengingatkan Kapten bahwa kami semua tidak mahir berenang, aku bahkan tidak bisa  sama sekali. Kami juga tidak ingin perahu sengaja di balikkan. Kapten setuju! Apalagi ada cik Kris yang kami tua-kan, huh jangan nakal! Duduk pun dibagi sesuai dengan berat badan , Kapten di tengah-tengah bagian belakang menghadap ke depan,  aku di samping kiri belakang di depan  Kapten! Tos kegemukan!!! Tata, Cik Kris dan Dessy di samping kanan, semakin ke depan semakin ringan.  Ni Wayan dan aku di samping kiri. Tos keseimbangan! Diulangi lagi teori, cara memegang dayung, mengayuh dan mengistirahatkan.  Dan kami pun naik ke perahu karet, siap meluncurrrr.

image

   Perahu akhirnya meluncur ditengah derasnya arus sungai. Kami ikuti semua arahan Kapten untuk mengayuh dayung saat arus tidak begitu kuat, menegakkan dayung saat hendak melalui batu-batu besar atau pun mengistirahatkan dayung saat, saat Kapten merasa upaya kami sia-sia. Cik Kris sepertinya yang paling lupa semua teori! Berkali-kali salah pegang dan posisi dayungnya membahayakan yang duduk di belakang dan di sampingnya! Wajah maaakk bisa berdarah, gigi maakk bisa rontok! Tata teriak-teriak mengingatkan. Arus deras dan perahu karet membuat kami kadang terpental ke tengah atau pun ke depan perahu. Kami tertawa dan teriak-teriak heboh setiap terpental dan saat melewati jeram-jeram sungai yang ekstrem! Bahkan kami juga tetap berteriak heboh walau tidak ada apa-apa! Kami tidak tahu peserta lainnya, tapi rasanya perahu kami yang paling heboh dan kencang teriakannya. Kerasnya menghunjam ke tebing-tebing sungai yang ditumbuhi pepohonan tinggi dan besar di kiri dan kanannya. Berisik!

image

    “Ayo tegak lurus!” teriak kapten saat melihat ada batu besar sekali di depan! Aaaaaaggghh kami hampir saja menabrak batu besar itu! Kapten dengan ketrampilan dan pengalamannya berhasil membelokkan perahu sembari menyuruh kami mengangkat dayung ke atas, dan anggota badan tetap dalam perahu. Semuanya dalam hitungan detik. Perahu bisa saja terbalik atau kami panik membuang dayung dan terantuk batu kepala atau tangan kami. Belum sempat bernafas, alur air menurun deras ke bawah. Kami berteriak-teriak ngeri. Nasib kami di tangan Kapten karena kami lupa semua teori!
Kapten benar-benar bekerja keras untuk kami para amatiran ini. Dia tersenyum puas mendengar teriakan ngeri kami dan menyuruh kami mendayung sesampainya di bagian yang lebih tenang arusnya. Selamat-selamat. Di sebuah kelokan kami melihat pemandangan yang menakjubkan. Sebuah gua dengan air terjunnya yang deras di depan mata! Tinggi sekali, hingga kami harus menengadahkan wajah! Tempias airnya bahkan menyapu wajah-wajah kami. Segar.

image

   “Aaaaaaa!” teriak Ni Wayan tiba-tiba sambil ngesot mundur ke belakang mengagetkan kami semua. Dia tinggalkan dayung di depan perahu begitu saja dan panik ingin memeluk siapa saja. Ternyata dia takut kelelawar yang berterbangan dan bergelantungan di atap gua. Ribuan kelelawar memadati gua, terlindung oleh air terjun yang deras mengucur dari atas sana. Sementara kami terkagum-kagum, dia menutup mata sambil menggelengkan kepala tak mau melihatnya. Padahal kami akan melalui dua sampai tiga gua dan air terjun nantinya. Selama itu pula Kapten bekerja ekstra keras menjalankan perahu karet karena absennya peserta yang fobia kelelawar! Hihihi, maaf Kapten!

image

   Memenuhi janjinya, Kapten sama sekali tidak membalikkan perahunya. Di salah satu spot yang sangat tenang dia meminta kami berenang-renang tapi tidak mendekati tebing sungai. Aku ingat pepatah, air beriak tanda tak dalam.  Karena ini sangat tenang pasti lah dalam. Dan menjauhi segala masalah kami mematuhinya. Berenang-renang di dekat perahu dengan pelampung kami. Untuk menenangkan diri dan mengumpulkan tenaga kembali.

image

   Rafting di Pekalen cukup panjang kilometernya. Kami bahkan harus istirahat untuk minum teh hangat dan makanan kecil seperti roti dan pisang di satu pemberhentian. Ini pengalaman rafting pertamaku, jadi aku tidak bisa membandingkan tingkat adrenalinnya dibanding sungai lain. Bagiku ini pengalaman luarbiasa dan gua dengan air terjun menderas airnya itu bukan lagi bonus tapi bagian dari rafting Pekalen yang mungkin tiada tandingannya.

image

Advertisements