Suara seorang lelaki sedang marah besar terdengar, saat aku berjalan bersama beberapa teman menerobos kebun menuju mobil yang akan membawa kami ke Waisai, Ibukota Kabupaten, Raja Ampat. Beberapa teman memilih mundur untuk mencari kepala  suku trip, aku tetap merangsek ke depan. Pemandangan sungguh menakutkan. Beberapa temanku yang sudah pergi duluan, berdiri berjajar terdiam di depan seorang lelaki tua yang berjalan mondar-mandir dengan golok di tangan! Tapi tenang, bukan panah kan?  “Mana itu si Anna! Tak boleh ada tamunya yang lewat sini! Sudah minta ampun-ampun pula dia dulu! Sekarang berani pula! Mana dia!”
Tak seperti yang kami harapkan, ternyata si Bro harus pergi keluar pagi-pagi buta sekali. Dan dia lupa memberitahu Bapa-nya tentang kami! Ampun dah! Runyam nih urusan. Sopir mobil yang mencoba menjelaskan tidak dipercayainya. Dia tetap marah tak karuan. Mata kami berdua bertatapan dan entah kenapa aku merasakan ada kepedihan di situ….Iba. Dia menunduk dan tetap mondar-mandir meracau, tapi aku merasa sudut matanya melihat ke arahku. Kesempatan! Aku merangsek lebih maju ke depan, mencoba menenangkan dengan bilang bahwa kami menyewa mobil anaknya dan minta ijin lewat. Nanti Kepala Trip yang akan lebih menjelaskan dan menyambungkan ke telepon hape dengan anaknya. Dia sedikit tenang  walau tetap menyesali kenapa si empunya Resort tidak datang padanya.

image

   Bapa yang kemudian ku tahu bernama Inyong pun masuk ke dalam rumahnya. Uh aman sementara! Ku amati sekitar. Rumah si Bapa sangatlah sederhana dengan dinding papan dan sofa lusuh di depannya. Ayam-ayam dan kucing peliharaannya bebas berkeliaran di halaman luasnya. Dia mempunyai beberapa rumah pantai di sisi sana. Seandainya saja pantai itu dibersihkan pasti nyaman juga tinggal di pondokannya. Karena tidak seperti resortku yang berdiri di atas laut, pondokan Bapa Inyong masih punya pasir pantai di depannya. Ketiadaan modal juga membuat fasilitas pondokannya sederhana. Di sisi lain aku melihat sebuah warung yang ternyata dijaga wanita Manado istri si Bapa. Aku pun mendekatinya untuk mengobrol dan menjelaskan situasinya. Dia mengerti dan minta maaf atas perlakuan suaminya.

image

   Aku sempat mengobrol dengan Bapa Inyong di sofa lusuhnya sambil menunggu Kepala Trip menyambungkan telpon. Matanya berbinar saat ku singgung anaknya dan betapa bangganya dia dengan si Bro. Dia baik sebenarnya tapi seperti kebanyakan penduduk asli dia tergagap-gagap dengan datangnya para pendatang yang sudah tinggi jiwa bersaingnya dan punya modal. Pedih dan iba. Saat semua beres, aku pun menyalaminya untuk pergi. Adik perempuannya yang sedari tadi ikut mendengarkan memelukku dan minta berfoto bersama. Katanya aku mirip penyanyi dangdut di tivi. Halaahhhh siapa siihhh?  Hahaha. Tidak terjawab sampai sekarang pun.

image

   Dalam perjalanan menuju Waisai, kami menembus bukit-bukit yang dipapras untuk dijadikan jalan raya. Sungguh asyik dan mendebarkan karena rambu-rambu belum terpasang. Naik-turun, berkelak-kelok. Rumah jarang terlihat, hanya hutan lebat di kiri kanan. Mendekati Waisai, laut di sebelah jalan. Untungnya aspal jalanan terbilang mulus, jadi kami bisa cepat sampai ke Waisai. Kota Kabupaten ini berdiri di atas bukit. Jadi kami bisa melihat lautan Raja Ampat jika memutar badan 380 derajat. Laut, laut, dan laut. Pelabuhan Waisai terlihat dari  Tugu Selamat Datang.

image

image

image

   Kami pun melanjutkan langkah menyusuri kota Waisai yang masih sederhana saat itu. Toko-toko kecil menjual barang dan makanan kebanyakan dimiliki pendatang. Beberapa warga asli menjual sirih dan hasil ladang beralaskan tikar di pinggir jalan. Rumah tembok kecil, bertetangga dengan rumah papan sederhana. Jalanan aspal dan trotoar belum sepenuhnya terselesaikan pengerjaannya. Sangat sulit mencari fasilitas selayaknya kota kabupaten seperti ruang publik, bank dan hotel.  Jika kamu melihat peta Papua yang bak kepala burung, Sorong dan Raja Ampat tepat di ujungnya. Aku berharap keajaiban dan kemegahan alam  Raja Ampat akan segera menjamah Waisai yang memang layak untuk mendapatkannya. Kota kabupaten yang menaungi warisan empat raja Papua. Satu, Wayag, ditutup juga karena masalah pembagian hasil keuntungan yang belum terselesaikan. Kita semua ingin kemajuan yang dibarengi dengan merangkul warga asli Papua. Lagu dan bendera kita tetap satu, Indonesia Raya. Dari Timur ke Barat kita merindukan hal yang sama, tentang kemakmuran dan kemajuan yang merata, tentang kebesaran sebuah bangsa.

image

image

image

   Malam saat kami tiba kembali, Bapa Inyong sedang duduk di sofa lusuhnya dengan kopi dan sebatang rokok di tangannya.  Tersenyum tulus dia kepada kami. Diundangnya pula jika kami ingin berpesta dan berkaraokean di pondoknya nanti malam. Damai menurun dari langit ke ujung pulau Papua.  Aku menengadahkan wajah ke Langit, cerah berbintang. Injo Papua. Terimakasih  Papua. Ada rasa haru berkecamuk di dada. Aku tinggalkan hatiku di Papua bersama teman-teman seperjalanan yang luarbiasa.
Sudah jangan cengeng, jangan nangis. Let’s dress up and be ready for party! Berlari kami menerobos kebun kembali ditemani cahaya bulan dan bintang menuju resort kami.

image

(TAMAT)

Advertisements