Rapat di kantin Resort berlangsung seru. Kami sedang mencari jalan keluar untuk bisa mengunjungi Waisai, Ibukota Kabupaten, Raja Ampat tempat kami sedang liburan saat ini. Sewa kapal sangat mahal biarpun kami belasan, sementara kami tidak boleh menginjakkan kaki seujung kuku pun di penginapan sebelah. Uh padahal aku pengen menyelusup malam-malam ke situ karena selalu full music saban malam dan anak si empunya funky benar sampai saling panggil ‘Bro-bro-an’! Perdebatan terjadi antara ‘Profesor Dokter’ Mama Paus dan Anak Paus ‘Sekolah Aja Nyogok’ tentang perlunya mencoba jalan darat sesekali. Bosan juga di laut berhari-hari. “Miaw,miaw,” kucing kantin  ‘Bunda Putri’, bener itu namanya, sepertinya setuju dengan si Anak Paus. Ketok palu, kepala suku trip akan sewa mobil untuk ke Waisai! Dan untuk menghindari masalah, sewanya melalui si Bro anak si empunya penginapan sebelah! Beres, mari lanjut ngupi-ngupiiii.
Aku merasa tidak akan ada masalah. Orang-orang Papua sangat manis dan ramah. Walau pun pada awalnya seperti curiga dan menjaga jarak, aku cukup mengerti. Tapi jika kita datang dengan hati tulus mereka akan sangat ramah dan menganggap kita saudara.  Di Desa Yenbuba kami diterima dengan baik. Kami menikmati Pasir Timbul yang putih bersih saat laut biru menyusut. Langit begitu cerah.  Anak-anak Yenbuba bermain ceria dengan kapal kardus styrofoam mereka. Paduan manusia berbeda  fisik dan warna kulit  memberi warna pelangi di lautan biru nan kehijjau-hijauan Yenbuba dengan pasir putih timbulnya. Kami seperti merasa di satu dunia yang terpisah dari dunia lain, terpencil, namun semua milik kami sendiri. Tenang, damai dan indah sekali.

image

image

   Di Sawinggrai  sebuah desa yang terkenal dengan ikan-ikannya di antara rumah-rumah panggung mereka, pun kami kunjungi. Sebuah rumah panggung dengan kisi-kisi papan pintu terbuka lebar dan para lelakinya menatap waspada kami yang sedang  akan merapat di dermaga desa.  Mereka sepertinya sedang mengadakan pertemuan kampung atau desa.  Aku yang kebetulan berada di buritan depan kapal langsung berdiri, menangkupkan tangan di dada dan dengan khidmat berkata,”Syallom, Bapa! Selamat sore. Terimakasih sudah mengijinkan kami kesini.” Wajah-wajah melunak berganti senyuman lebar dan ramah.
Kami pun bebas berjalan kesana-kemari diiringi anak-anak Sawinggrai dan senyum ramah para orang tua. Beberapa teman ber-snorkeling, beberapa cukup duduk-duduk di tangga rumah panggung. Cemplungkan remahan roti-roti, ikan-ikan indah berdatangan sendiri dari berbagai sudut. Sawinggrai.  Ini adalah desa aquarium dengan ikan hias alaminya yang terindah yang pernah ku kunjungi.

image

image

   Saat bercanda dengan anak-anak Sawinggrai di jalanan panggung yang menyatukan rumah-rumah, seorang wanita yang berdiri di depan pintu rumah melambaikan tangannya ke arahku dengan ramah. Dari bentuk fisiknya dia bukan asli Papua. Mungkin Manado karena putih kulitnya. Ada apa ini, adakah yang salah? Ternyata si Ibu hanya senang dengan kehebohanku dan menanyakan namaku. Oalahhh kirain. Setelah ngobrol ringan aku terkejut karena dia asalnya dari Semarang! Wah tetangga dong di Jawa sana. Bahasa pun langsung ku ganti ke bahasa jawa yang basic biar seru. Si Ibu terharu, sudah duapuluh dua tahun dia di Papua bersuamikan orang asli Sawinggrai.  Ah peluk-peluuuk. Mari menari bersama anak-anak Sawinggrai dan ikan-ikan indah di sini Ibu. Di Jawa sungguh hiruk-pikuk dan tak sesegar udara di sini.
Di desa wisata Arborek, kami bahkan di sambut anak-anaknya sedari dermaga. Desa di satu daratan pulau ini khusus,menjajakan cinderamata khas Papua. Sayang pas ke sana sedang tutup. Jadi kami nikmati dengan berkeliling desa. Desa yang termasuk lengkap fasilitas nya, ada gereja, sekolah dan puskesmas. Senang rasanya berjalan di jalanan desa yang berpasir namun masih bisa tumbuh tanaman hias di sana. Bunga-bunga sedang bermekaran saat kami tiba di Arborek.

image

   Di Arborek pula aku belajar bahasa Papua. Satu dua kata aku masih bisa. Namun saat diminta menirukan sebaris kalimat, aku hanya bisa ber-bla-bla-bla yang membuat mereka tertawa. Yang paling ku ingat adalah ‘Injo’ artinya Terimakasih! Saat bercanda tiba-tiba seorang mama berujar,”Mama pernah liat Nona di tivi,” diiringi anggukan mama-mama yang lain. Waks! Ga salah liat mama? “Iya, Nona nyanyi dangdut!” Wuaapppaa? Hahaha. Semua tertawa. Yaelah, Ayu Tingting bukan, Cita Citata apalagi. Ivan Gunawan kali?  Ah rambut merah menyala lagi-lagi membuat pesona sampai Papua, wakwakwak.

image

image

   Kami bercanda gembira , seperti keluarga. Anak-anak Arborek bahkan menyanyikan lagu tentang burung Maleo dan Papua  untuk kami dengan sepenuh hati. Injo, Papua…terharu ihhh.

image

    Kedekatan dan kehebohan kami dengan warga Arborek membuat ‘iri’ rombongan  si gadis bergaun putih panjang yang datang belakangan. Kami pun mengajak mereka bergabung apalagi ada bule-nya disitu yang kelihatan ingin berbaur dan berfoto bersama.  Yup! Mari berdansa He Yamko Rambe Yamko Nona, tak perlu bertengkar. Peace, love and gawl! Hahaha.

image

   Yah aku percaya besok akan baik-baik saja. Orang Papua baik. Bahkan Kepala Suku Trip ini pun mengakui baru pertama kali ini awak kapal mau membantu peserta. Biasanya mereka cuek dan tak mau berbuat lebih selain urusan kapal. Lagi pula si Bro ini terkenal di Raja Ampat. Kami yang lupa bawa pin yang kudu harus wajib ditempelin setiap berkunjung ke spot-spot Raja Ampat, beres saat menyebut namanya kepada petugas yang datang memeriksa. Bapaknya Bro pasti baik-baik saja besok. Sekarang….Selamat malam Jagat Raya.

(Bersambung)

Advertisements