Terus-terang, kesan pertamaku tentang Papua itu menakutkan. Berita tentang OPM dan perang suku di sana, membuatku berpikir ribuan kali untuk mengunjunginya. Aku takut dipanah beracun…hiks. Namun kali ini aku mengakui jatuh hati pada pandangan pertama saat temanku menunjukkan foto-foto keindahan alam Papua. Hmmm, tidak pergi karena takut dipanah atau pergi dengan Bismillah?
Bismillah. Rejeki nomplok! Lagi jetlag-jetlagnya dari perjalanan udara Makasar – Sorong,lanjut Sorong-Waisai dengan kapal laut  selama dua jam, eh brondong manis ‘tak sempat tukar baju batik dari kantor’ di resort Raja Ampat tiba-tiba nyeletuk,” Mandi yuk mba?” Hayuk lah! Hahaha. Di bilik maseng-maseng!
Pertamakali ke Papua memang saat itu masih ada penerbangan Merpati sehingga biaya tiket bisa ditekan walau muter-muter. Namun sekarang Merpati sudah tidak ada lagi jadi hanya penerbangan langsung dari Jakarta yang sudah pasti muahal. Tambahan, tidak seperti pengetahuan awalku, ternyata Raja Ampat itu luas dan wisatanya berserakan dimana-mana. Sebut saja empat besarnya Wayag, Misool, Pianemo dan Wagyo. Dan semuanya memerlukan sewa kapal yang mahal. Saat itu, Wayag juga lagi ditutup. Sebuah insiden membuat warga, melarang siapapun mengunjungi Wayag. Padahal Wayag adalah destinasi wajib di Raja Ampat.Hiks.  Okay lah, daripada dipanah hayo lo?
Di Resort yang menjorok di laut dan paling ujung pun kami juga dilarang keras menginjakkan kaki ke tanah sebelah yang milik orang asli Papua! Waks! Semua perjalanan akan dari laut ke laut. Kunjungan ke Waisai, Ibukota Kabupaten Raja Ampat, hanya dimungkinkan jika kami mau saweran biaya sewa kapal-kapal. Aduh lupakan dulu PR ini. Kami mau ‘happy-happy’ dulu di Pianemo.
Pianemo biasa disebut juga sebagai Wayag mini. Bukit karang atau atol ini cukup tinggi dan terjal dengan karangnya yang tajam. Tiada pantai berpasir di sini, jadi sekali naik harus terus atau tinggal sendiri di kapal, manyun! Terjal dan tajamnya bukit karang ini membuat kami harus ekstra hati-hati. Belum lagi jika tubuhmu montok dan tidak berolahraga  super duper usahanya! Diperlukan sepatu gunung, sarung tangan, tongkat kayu, akar dan batang pohon , juga tangan temanmu saling bahu- membahu membantu pendakian. Seorang teman yang pecicilan sempat hampir terjatuh. Doh! Untung cuman lecet-lecet! Horeee, akhirnya aku sampai juga di puncak Pianemo! Tetap sih nomer buncit.
Wah, indah sekali pemandangan dari atas sini. Bukit-bukit karang abu-abu yang ditumbuhi hijaunya pepohonan menyatu dengan lautan biru kehijau-hijauan yang jernih dan tenang. Sejauh mata memandang bukit karang berserakan di lautan. Sesekali kapal-kapal bersliweran membuat ‘hidup’ lautan di Pianemo. Langit cerah dan bersih. Inilah yang paling dicari para pelancong. Gugusan atol berbanyak bilang di lautan, tak hanya satu. Cukup lama kami menikmati Pianemo karena kami satu-satunya rombongan di sini.

image

image

image

image

   Di bukit kedua yang lebih tinggi dan terjal kami bahkan bisa melihat gugusan atol yang menyatu membentuk sudut sebuah BINTANG! Kolam bintang berair hijau jernih dan sangat tenang. Tak puas-puasnya kami memandang keindahan alam yang konon kabarnya diwariskan oleh Empat Raja di Papua.

image

image

    Namun sebuah insiden terjadi. Rombongan yang datang belakangan memaksa kami segera turun untuk gantian berfoto. Kami pun mengalah dan memilih turun. Masalah menjadi runyam saat si gadis bergaun putih panjang tidak mau mengikuti jalur pendakian dan dengan menyebalkan bilang,”Aku mau lewat jalan itu!” Sambil menunjuk ke…orang yang salah! Femmi temanku yang manis dari Solo, tinggi semampai tapi kuat ini, langsung menatapnya dengan murka sambil berkata dengan kalem,”Wah, Anda mau mencari masalah?!” Si gadis bergaun putih panjang jiper dan memilih melalui jalan yang benar. Fuih, untung cepat sadar! Pertumpahan darah pun terhindarkan. Sepanjang perjalanan kami bahas ini sampai tertawa terpingkal-pingkal teringat wajah Femmi yang murka dan si gadis bergaun yang jiper. Tenang Femmi, kami mendukungmu dari jaoh! Takut jatoh! Hahaha
Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Goa Timbul! Sebuah goa di tengah lautan yang pintu masuknya terbuka saat air laut surut!  Sepanjang perjalanan saja kami disuguhi pemandangan yang spektakuler dengan bukit-bukit karang di sana-sini. Bahkan ada yang membentuk gapura saat kami menembusnya, seolah-olah mengucapkan  ‘Selamat Datang!’ Gapura di lautan lepas! Ini kan keren!

image

image

   Goa timbul sendiri sebenarnya bukit karang yang mempunyai ruang cukup luas di dalamnya. Satu persatu kami menuju mulut gua. Ada yang berenang. Ada yang diseret-seret dan berjalan di antara karang mati, itu aku sih (malu). Memasuki gua ada air setinggi 50 cm dengan dasar pasir yang super lengket. Ku liat beberapa teman sedang merangkak menuju bagian atas gua. Beberapa bahkan sudah sampai di atas yang berlubang besar sehingga matahari bisa menyinari dan ada pepohonan di sana.

image

image

   Wah! Namun jalan berair di gua ini sungguh berat! Biar memakai sepatu gunung mereknya yahud, tetap saja lengket dan membebani langkahku. Setiap melangkah aku berteriak ‘Ah,Uh,Oh’ menyiasati rasa frustasiku. Suaraku  bergema di dalam gua. Tiba-tiba saja ada teriakan dari atas sana,”Woiii siapa sih yang lagi orgasme di bawah???” Sial, kata ku dalam hati sambil tersenyum kecut. Suara pria lagi. Tapi tetap aja aku bersuara ‘Ah,Uh,Oh’.
Aku baru saja melangkah setengah jalan menuju ke atas saat tiba-tiba pemandu bilang air laut mulai pasang! Kepanikan melanda. Gua akan terendam air dan mulut gua  hanya bisa dilalui dengan menyelam! Oh tidak! Kembali aku diseret-seret menuju mulut gua yang hampir tertutup. Arus mulai deras dan berombak di mulut gua. Syukur, syukur bisa keluar juga dan sampai di kapal! Deg-degan setengah mati.

image

   Tapi di kapal malah ada yang gemetaran sambil merepet di pojokan. Kan Mama Monce tidak ikutan turun ke gua! Kok bisa? Dia terus merepet kalau saja tadi dia tidak ditolong, kami semua bisa diparanin tujuh keluarga! Hahaha. Mama Monce yang tidak bisa berenang ini mendadak ingin menyusul kami. Berbekal pelampung dan tidak mau menunggu pemandu langsung aja nyebur. Byuurr, sandal jepit pinjaman copot satu, terapung-apung. Mama Monce pun panik dan berteriak minta tolong, tapi hanya mau Icha dan bukan yang lainnya! “Icha, tolong aku (blep). Kamu turun, tolong aku. (Blep, blep,blep). Ga mau, Ichaaa,” ditepisnya si pemandu. “Awas kamu diparanin tujuh keluarga, Icha.” Hihihi Icha yang malas basah dari awal pun terpaksa terjun ke laut. Basah deh!
Untuk mencairkan suasana yang sedari tadi tegang kami pun bersnorkeling di area yang lebih tenang. Inilah kelebihan Raja Ampat! Di atas bukit , di bawah laut semuanya indah. Beli satu, dapat dua! Bahkan pemandu kami memberi atraksi dengan terjun bebas dari atas piramida karang yang tidak tinggi. Tepuk-tepuk! Dan kembali aku dipandunya kesana-kemari melihat kehidupan bawah laut Papua. Karang-karangnya masih hidup dengan aneka jenis ikan-ikan bersliweran. Yang punya kemampuan penyelaman pasti mendapatkan lebih lagi. Sementara dengan snorkeling saja luarbiasa melihat terumbu karang meliak-liuk hidup, menari-nari bersama ikan-ikan termasuk Nemo.

image

image

   Puas bersnorkeling aku pun balik ke kapal. Nomer buncit lagiii. Saat muncul dari anak tangga kapal teman-temanku berteriak kaget dan cemas,” Mba Ima kepalanya luka! Itu berdarah, ngucur!”
Bengong. Bego. Aku tidak merasakan sakit apa-apa. Tidak membentur karang atau pun digigit hiu kok berdarah. Ku usap kepalaku dan OH! Dengan malu aku berkata,” Ini…ini…cat rambutku luntur….”
Hening di udara. Grrr, tawa pun pecah seketika. Yah rambutku ku warnai merah menyala dua minggu sebelum pergi. Rambut merah seharga setengah juta rupiah dan sempat mempesona boss bule di kantorku ini, luntur seketika di lautan Raja Ampat. Itu membuat kepalaku seolah-olah bocor dan muka merah berdarah-darah. Pantes saja pada kaget!

(Bersambung).

image

image

Advertisements