Nah pindah kos lagi aku di sekitaran kantor! Ini berarti dekat dengan Sudirman. Ini berarti bisa ikutan car free day-an lagi di tiap hari minggu. Horeee! Sepeda lipat siap! Kaos, celana olah raga, sepatu kets siap! Botol minuman, full isinya! SMS masuk,”Ku tunggu di Intiland yaaa.” Tulis temanku Inang yang memang sudah janjian bersepeda bareng hari ini bersama suami dan dua orang anaknya. Kring, kring, gowes, gowes, capcus!

image

  Car free day itu menyenangkan. Tumpah ruah warga Jakarta memadati sepanjang jalan Sudirman dan Thamrin. Tua, muda, besar,kecil berjalan sehat menikmati jalan-jalan protokol yang di setiap harinya dipadati hanya oleh kendaraan -kendaraan bermotor yang memuntahkan asap-asapnya. *Hela nafas, pasang masker*.  Enam hari yang sibuk, udara berpolusi, suara yang hingar-bingar menjadi tenang dan segar di hari minggu saat semua kendaraan dilarang memasuki Sudirman-Thamrin. Keluarga-keluarga bercengkerama, keluarga muda mendorong bayinya dalam kereta bayi,  nenek dan kakek bergandengan sambil berjalan sehat, anak-anak muda bermain skateboard, ada yang berlari-lari kecil, ada yang berjalan santai, ada yang bersepeda kumbang dan yang mahal, bahkan ada juga yang bergaya unik dengan pakaiannya atau pun sepeda modifikasinya. Beberapa penjual juga menggelar dagangan baik makanan, minuman, kaos, sepatu dan banyak lagi, namun tetap rapi. Petugas di sana-sini, banyak sekali. Itu adalah beberapa pemandangan yang bisa kamu liat di car free day, hari bebas dari kendaraan bermotor. Udara pun segar, langit cerah bebas polusi. Ini adalah sebentuk ‘privillege’ atau keistimewaan untuk warga Jakarta menikmati ruang publik yang sangat jarang di Jakarta. Aku suka!

image

   Di tempat yang dijanjikan, aku pun bergabung dengan keluarga Inang. Kami menuju ke Bundaran HI dan berharap air mancurnya dinyalakan sambil duduk-duduk di pinggiran kolam menikmatinya, bersama warga yang lainnya. Tik tik tik bunyi ban sepeda kami melaju pelan di jalan beraspal. Di hari biasa aku pasti naik taxi hanya untuk tujuan Karet- Bunderan HI ntah mau ke Plaza Indonesia atau Grand Indonesia. Walau ini baru pertama kali bersepeda, rasanya mudah saja menuju ke HI. Tetap aku dan Inang yang terakhir tiba di HI. Sepanjang jalan kami asyik mengobrol dan menikmati suasana sambil mengayuh santai sepeda-sepeda kami.

image

   Bundaran HI memang menjadi magnet tempat berkumpulnya orang-orang. Patung ‘Selamat Datang’ dengan rupa perempuan dan lelaki melambaikan tangan memang menjadi salah satu ikon Jakarta yang khas. Patung menjulang tinggi ditengah-tengah bundaran air mancur dengan mata airnya yang memancarkan air dengan indah. Di pinggirnya gedung-gedung bertingkat baik itu mall, hotel dan perkantoran khas kota besar semakin memperindah Bundaran HI.

image

   Kami pun duduk ditepian kolam sambil mengobrol dan membeli makanan dan minuman. Istirahat sejenak. Sepanjang mata memandang orang-orang berwajah gembira dan terlihat sehat. Udara yang basah oleh cipratan tipis air mancur membuat hawa semakin segar dan bersih. Benar-benar oase bagi warga Jakart.

image
Masalah muncul saat kami hendak balik lagi ke Karet. Baru aku sadar, tadi pas menuju ke HI sangat mudah meski tanpa mengayuh sepeda karena jalanan menurun! Itu berarti jalan menanjak saat balik. Aku masih baik-baik saja melewati sebuah gedung kedutaan namun kayuhan  sepeda mulai berat. Sesampainya di Stasiun Sudirman aku ngos-ngosan. Inang ada beberapa kayuh di depan. Suami dan anak-anaknya tinggal titik-titik kecil nun jauh di depan. Oh Tuhan bagaimana ini?
Di Patung Sudirman,  aku sudah habis! Mata ‘prepet-prepet’ sebentar gelap, sebentar terang. Waduh. Ku panggil Inang dengan tenaga yang tersisa. Saat dia di dekatku, aku bilang rasanya aku mau pingsan. Aku pun dituntunnya ke taman terdekat, istirahat sejenak barang lima belas menitan. Kemudian kami berjalan lagi sambil menuntun sepeda. Keluarga Inang sudah sampai di Karet sepertinya. Mataku ‘prepet-prepet’ lagi, sebentar gelap, sebentar terang. Aku pun langsung menggelosor lagi di rerumputan, sepeda ku jatuhkan di dekatku. Aku benar-benar mau pingsan! Inang cemas antara melihat kondisiku, juga acara ke Gereja yang hampir telat. Oh Tuhan bagaimana ini? Tanyaku kedua kali kepada ‘Yang Di Atas’.
Dengan sudut mataku, aku melihat Inang pergi menjauh. Sayup-sayup ku dengar suaranya ke seseorang,”Pak, teman saya hampir pingsan. Tolong dijagain karena saya harus ke Gereja….” Waduhhh siapa pula itu orang yang disuruh menjagakuuuu. Kok Pak? Jangan-jangan om-om genit penggoda wanita mo pingsan? Bapak-bapak Tua yang…aduhh aku mau bangun tapi masih lemes! Yang benar saja Inanggg masak aku ditinggal. Dan dipercayakan kepada Bapak-bapak! Ibu-ibu kenapa?
Ku dengar langkah kaki mendekat, lega memenuhi hati saat membuka mata. Pak Polisiiii!!! Ampun Inang bikin deg-degan. Sapanya ramah,” Baik- baik di sini dulu saja mbak. Saya di dekat sini.” Aku mengangguk, Inang puas. Dia pun pergi sambil meninggalkan sebotol air putih .
“Terimakasssiiihh,  Pakkkk!” serunya, terdengar girang dan bersemangat.  Sepertinya dia langsung tancap kayuhan mengejar suami dan anak-anaknya.
Aku tetap tiduran sambil dicek si Pak Polisi beberapa menit sekali. Ditanyakan keadaanku, keperluanku. Dipegang denyut nadiku. Ada sekitar 45 menit aku mengembalikan kekuatan diriku kembali.  Melihat aku bangun, Pak Polisi bertanya apa yang bisa dibantu.
“Taksi….” jawabku lemah. Dan begitulah, walau tidak bisa dibilang gagal total hari pertama car free day-ku dengan sepeda diwarnai insiden mau pingsan! Taksi distop-kan, sepeda dimasukkan, berterimakasih ke Pak Polisi dan bilang ke sopir taksi,”Karet….”
image

Advertisements