Bromo? Begitu tahu aku ada rencana ke Bromo teman-teman baikku langsung meminjamiku sarung tangan, topi kupluk, jaket dan serangkaian nasehat-nasehat untuk menjaga kesehatan karena di sana dingin dan belerang di kawahnya baunya menyengat, juga berdebu pasir. Takut kalo aku sesak nafas. Nah aku-nya yang serba cuek dan males, santai-santai saja. Tiket beres, pemandu dan mobil ada, oke cabuut. Tak perlu googling! Kebiasaan!
Tapi biarpun cuek aku tahu cerita legenda suku Tengger di Bromo loh! Ih sombong. “Jadi, di jaman dahuluuu kala  banget,” ceritaku ke Chris yang seperti turis Hongkong dan lama hidup di Singapura ini, dalam perjalanan dari Surabaya ke Malang,”Gadis-gadis cantik tidak bakalan tenang hidupnya di Bromo. Karena  apa? Karena merekalah yang akan dipilih untuk dipersembahkan ke dewa-dewa. Biar Bromo ga meleduk (kompooorr kali, meleduk) maka dikorbankanlah gadis cantik dengan diceburkan ke Bromo!” Aku berharap ada ekspresi takut, terkejut atau ngeri di wajah Chris. Kan turis. Sungguh!
Komentarnya pendek saja,”Elo aman dong ke Bromo, Ma!” Hahaha, tiga orang teman perempuanku yang lainnya langsung tertawa terpingkal-pingkal. The End. Tamat cerita. Wek!
Daerah sekitar Bromo itu dingin sekali memang benar adanya! Namun aku masih baik-baik saja bahkan mandi pun pakai air dingin. Dini hari kami berangkat memakai jeep ke Penanjakan. Keren naik jeep itu! Serasa bertualang. Tapi yang lebih keren lagi ada yang berjalan kaki ke Penanjakan yang tinggi dengan ransel di punggung! Wah tidak kebayang, karena begitu sampai udara yang tipis kurasakan. Hembusan nafas pun menjadi beruap hangat. Aku mulai menahan diri karena harus mendaki undakan ke spot sunrise di Penanjakan. Huhuhu selamat-selamat kami mendapat tempat duduk sembari menunggu matahari terbit.
Sinar jingga mulai menyemburat di langit dan membuat kami berlima lari ke tepian pagar Penanjakan berdesakan dengan pengunjung lainnya. Sinarnya lembut menyapu dataran Bromo yang gelap menjadi terang sedikit demi sedikit. Sapuan pertamanya memperlihatkan Gunung Batok, terus menyisir ke dataran padang pasir, bukit-bukit, pepohonan, hingga Gunung Bromo dan kuilnya nun jauh di bawah sana…awan-awan terasa dekat sekali ketika mentari pagi menyibak Bromo dari Penanjakan…Wow..takjub! Indah sekali. Semua perjalanan yang dimulai sedari dini hari terbayarkan lunas oleh beberapa menit kejadian alam yang sering kita lewatkan. Matahari Terbit!

image

image

   Kami nikmati pagi di Penanjakan hingga matahari meninggi. Sampai-sampai Retha menemukan spot unik di sini dan aku yakin sekali dialah wanita pertama di dunia ini yang berhasil menemukan buritan kapal Titanic di Penanjakan!
“Sini-sini!” Teriaknya heboh. ,”Kita foto gaya Titanic di sini!” Kami pun heboh memanjat pagar dan membikin para pengunjung termasuk bule-bule  tersenyum simpul. Titanic di Bromo cyynnn! Hahaha.

image

  Dalam perjalanan turun menuju Bromo mendadak aku pengen pipis. Waduh payah ini! Perjalanan masih jauh dan kiri-kanan hanya bukit dan pohon-pohon. Takut ngompol aku pun bilang ke semua. Darurat! SOS. Mobil berhenti. Aku minta ditemani, tapi hanya Retha yang sudi. Hiks. Padahal kami baru kenal jadi aku ga enak hati dan malu juga. Tiga lainnya tak ada inisiatif sama sekali!
“Nanti kamu tutupin belakangku tapi jangan liat kearahku ya,”pintaku malu. Retha mengiyakan. Repot amat yak.
Merasa mendapatkan tempat nyaman dan tersembunyi aku pun segera beraksi cepat. Tak disangka,  tak dinyana ada suara deru motor-motor yang mendekat! Panik, Retha bergerak pindah menutup bagian depanku,pas saat motor-motor lewat. Aku menjerit kaget, malu. Retha panik tapi juga tak tahan untuk tidak tertawa. Dan dari motor pun terdengar teriakan dengan nada renyah, “Pelanggaran di Bromooo..pelanggaran di Bromooooo!”
Pemandangan yang aneh, dua perempuan satu bengong dengan muka merah sambil memegangi celana jean-nya sembari jongkok, satunya berdiri memegang jaket sambil tertawa cekakan berhadap-hadapan.
Sepanjang jalan kembali ke mobil aku memohon untuk tidak membongkar skandal ini. Tapi Retha yang susah menahan tertawa tentu saja memancing keheranan yang lainnya. Apes! Pelanggaran di Bromo pun terekspos. Habis aku semua pada tertawa tak ada simpati.
Memasuki padang pasir Bromo, derap kaki-kaki kuda mengikuti jeep kami. Keren sekali,  penunggangnya bahkan ada yang sempat menyalakan rokok.  Uh laki sekali. Jeep berhenti jauh dari kuil dan Bromo. Sejauh mata memandang,  padang pasir ini dibentengi bukit cadas. Dua pilihan, jalan kaki apa naik kuda? Naik kuda laahh, lah iya sampai dekat tangga ke Bromo!

image

  Ku pilih kuda cakep berkarton nama ‘Suparman’. Wah ini, pasti dia sekuat saudaranya Superman itu! Siipp! Kuda pun dituntun oleh si empunya. Hanya saat sok-sokan bisa berkuda saja si Bapak penuntun kami minta agak sedikit menjauh. Cekrek! Tipu! Hihihi.

image

   Ternyata naik kuda itu susah. Ntah karena punggungnya yang licin atau pantatnya yang bergerak-gerak, duduk di pelananya harus bisa menjaga keseimbangan. Berkali-kali aku merosot, miring ke kiri. Mendekati jalan terjal ke Bromo si Kuda ku elus sambil bilang,” Baik-baik ya Suparman. Jangan bandel, jangan sampai jatuh aku.”
Si Bapak penuntun kuda mendongakkan kepalanya ke arahku, sambil nyengir berkata,” Suparman nama saya mba. Kuda ini betina, namanya Raminten.” Alamaaakk. Salah lagi aku.  Siska yang di dekatku pun tertawa terbahak-bahak.
“Nah itu anaknya Raminten,” lanjutnya sambil menunjuk kuda muda dan lebih kecil yang sedang di tunggangi Dessy. Lucu sekali, Dessy yang langsing dan tinggi naik kuda kecil.  Hihihihi,adut-adutan,mental-mentul. Maaf ya Pak Suparman. Kirain yang di karton nama kudanya sih….
Sampai juga ke tepian kawah Bromo setelah mendaki ratusan undakan. Kawahnya yang masih aktif mengeluarkan asap belerang panas. Aku melongok membayangkan gadis-gadis cantik dikorbankan dulu. Berfoto- foto lantas kembali ke undakan.  Keren pemandangan dari atas sini. Hamparan padang pasir dengan kuil di tengah tengahnya. Barisan kuda-kuda, mobil jeep, orang-orang tampak kecil sedang berlalu lalang.  Tebing bukit dan pepohonan.  Gunung Batok berdiri megah di sisi lain. Maket alam ciptaan Tuhan!Asli!

image

   Kami berlima dan bung Ricky pemandu kami pun duduk berlama-lama di undakan menikmati pemandangan sebelum kami berjalan ke Sempu setelah ini. Mendadak ada serombongan anak muda berjalan melewati kami sambil cekikikan berbisik-bisik,” Inikan mbak-mbak rombongan Titanic tadi…hiihihi.”  Hahaha, kami sudah terkenal rupanya di Bromo ini.

image

Advertisements