Sinar matahari tepat di ubun-ubun saat kami tiba di Pantai Watupurunu, Sumba. Panasnya yang menyengat membuat pasir pantai tak bisa diinjak dengan kaki telanjang. Aku dan tiga orang temanku-Marcia, Eka dan Erny, masih memilih ngadem di dalam mobil, sementara temanku ‘Duo Tak Ada Matinya’ Hening dan Ellis sudah beraksi dengan berbagai posenya di atas pasir yang panas ini. Cekrek, duduk. Cekrek, berdiri memegang topi. Hihihi, cantik sekali emak-emak ini.
Pantai Watupurunu memiliki keunikan dengan karang bolongnya yang tidak hanya satu tapi empat! Ya karang yang agak menjorok ke laut itu berdiri kokoh dengan empat lubang di tengah tengahnya. Sayang air laut sudah pasang ketika kami tiba, jadi tak bisa mendekatinya. Saat surut kita bisa memegangnya dan bernarsis ria sepuasnya.
Setengah dipaksa, baru aku mau memulai sessi foto-foto karena memang panas hawa dan pasirnya menghambatku. “Ayo, Ima! Udah sampai di sini sayang sekali! Ayo ga usah jauh-jauh, di-zoom aja biar karangnya terlihat dekat,” kata Tante Marcia menyemangati. Yup!Semangat! Cekrek, memegang topi pinjaman. Cekrek, menatap karang. Cekrek,  duduk di pasir? Oh tidaaaak. Hahaha. Takut bau hangus daging pantat terbakar!
image

    Saat makan siang di dalam mobil sembari menikmati pemandangan di pantai, ingatanku akan perjalanan ini membuatku senyum-senyum sendiri.
“Kenapa senyum-senyum, Ima?” tanya Tante Marcia.
Aku tertawa dan kemudian bilang, “Sadar nggak? Trip ini harusnya untuk semua yang sudah ga perawan! Abis dari Bali juga kita ketemunya sama yang berlubang semua!”
Hahahaha. Empat orang emak yang sudah berkeluarga mesam-mesem. Aku dan Eka saja yang single. Mencairkan suasana di tingkah hawa panas pantai.
Ya, di Bali kami sibuk mencari pantai yang ada karang bolongnya. Tidak ketemu, tapi pas di Tanah Lot sempet liat Pura dengan karang bolongnya. Cekrek! Dua jam dari Kuta, kita ketemu dengan pohon besar di tengah jalan namun akarnya membentuk lubang yang besar. Semacam gapura pohon alam dengan pintu terbuat dari akar. Saking besarnya pohon dan lubangnya mobil-mobil sejenis truk pun bisa berlalu-lalang. Bunut Bolong namanya. Keren! Cekrek,  cekrek!
image

   Di Sumba, pertama-tama kita plesiran di Pantai Watu Malandong yang juga ada karang berlubangnya! Dua lubang bahkan Keindahan pantai ini dari sisi perjalanannya saja kita harus menuruni bukit cadas. Jadi pantai berbatasan dengan bukit. Wow! Karena masih pagi, cuaca dan hawa belumlah teramat panas. Walau pun begitu kita tetap tidak bisa mendekati karang yang menjorok agak jauh dari pantai dan agak dalam. Meski tidak seganas lautan di pantai utara dan selatan Pulau Jawa, pantai-pantai di Sumba tidak bisa dibilang tenang untuk berenang atau snorkling. Ditambah belum ada fasilitas apa-apa di Sumba. Bahaya kalau terjadi sesuatu bencana.  Makanya aku juga diketawain habis-habisan saat ketahuan membawa lima set baju renang dan alat snorkling. Buaaattt apaaaa, kata kepala suku trip dan ini memastikan aku tidak membaca itenerary dengan benar. Huh, pantes berat tasku! Jadi kami menikmati keindahan pantai dengan karang bolongnya ini sambil bermain pasir. Cekrek, cekrek,cekrek!
image

   Pantai Bhawana seolah-olah melambai-lambai saat kami tiba di sisi jalan yang salah. Pantai dengan gapura karang di atas pasir pantainya ini tampak luar biasa indahnya dari atas sini. Tapi kami tidak menemukan jalan untuk turun ke bawah. Kami pun memutar arah mencoba menemukan jalan menuju ke tempatnya. Dan sempat nyasar dua kali karena ketiadaan informasi. Wisata-wisata di Sumba Barat memang belum terfasilitasi dengan baik. Padang ilang yang cukup tinggi, langit cerah dan semilir angin benar-benar ku nikmati dengan membuka kaca mobil. Pejamkan mata, inhale-exhale. Sampai kami berhenti di tepian hutan belukar. Hanya sejengkal jarak saja kami melewati hutan ini dan berhenti di tepian tebing karang yang cukup terjal. Tak ada pegangan di kiri kanan, hanya bebatuan sebagai injakan dan tempat berpegang. Kalau pun ada akar pohon, berduri susah dipegang.
Tanpa memikirkan bagaimana nanti naiknya yang ku pastikan serasa panjat tebing, aku merayap, mengesot turun ke bawah. Dibantu teman dan juga anak-anak Sumba yang kebetulan sedang bermain di pantai. Eureka! Rasanya saat aku menyentuh pasir Pantai Bhawana. Air laut yang belum pasang sepenuhnya membuat pasir dan karang bolongnya timbul. Kami bisa berlarian dari ujung ke ujungnya dan menyentuh karangnya. Saking tinggi dan besarnya karang bolongnya aku menyebutnya Gapura Karang yang bisa membuat kita serasa keluar masuk lorong waktu keajaiban Sumba. Cekrek, cekrek, cekrek, CEKREK!
image

   Kami juga ke danau Weikuri yang mengingatkanku akan Segara Anakan di Pulau Sempu, Malang. Danau terairi oleh air laut yang masuk melalui sebuah lubang di bukit karang! Tidak se-ekstrem Sempu dalam perjalanan, beberapa meter dari parkiran kita akan bertemu si Danau yang sepertinya menjadi spot menarik wisata keluarga. Dan tidak juga seperti Sempu, tak ada pantai berpasirnya disini. Melewati undakan orang-orang tinggal terjun ke danau untuk berenang-renang. Ku liat orang berenang-renang di sekitar undakan saja, tidak ada yang ke pinggir-pinggir danau. Pemanduku bilang kalo ingin berenang harus di tempat yang sama dengan mereka. Pasti ada alasan tertentu mereka tidak terlalu ke tengah atau pinggiran. Masuk akal.
Ekstrim-nya Danau Weikuri justru pada upaya orang-orang untuk mendapatkan foto terbaik!  Kami rela lecet di kaki dan tangan, robek celana, dengan memanjat bukit karang yang hitam dan tajam! Ouch! Dan sebenarnya nyawa juga taruhan kalo tergelincir jatuh. Spot dengan latar belakang Danau Weikuri dengan kamu tepat di tengah-tengah adalah dambaan orang banyak. Temanku ‘ Duo Tak Ada Matinya’ dan Erny tentu saja selalu berhasil. Eka malah asyik dengan boneka teddy bears dan minionku di sisi lain yang orang tidak berhenti. Aku dan Tante Marcia cukup di sisi yang bisa terlihat Danau  Weikuri, meski agak ke samping, dan karang bolongnya.
image

   CEKREK!  Sah sudah perjalanan kali ini memang untuk tempat yang serba bolong! Bolong juga dompetnya sih tapi impas. Hahaha.

Advertisements