Malam begitu tenang dengan bulan dan bintang-bintang. Langit sangat cerah terlihat dari jendela kamarku ini. Mendadak angin berhembus sangat kuat menembus kisi-kisi kaca nako kamarku, bahkan desirannya jelas terdengar saat aku berucap lirih sambil menitikkan airmata, “Nungki, jika ini benar kamu temanku tolong kasih tahu aku siapa yang telah membunuhmu. Datang dan kasih tahu kami.”  Mataku terpejam mengharapkan sebuah ‘pertemuan’.
Berita tentang terbunuhnya seorang sekretaris muda di sebuah rumah susun yang dekat dengan kos-kosanku tidak begitu menyita perhatianku pada awalnya. Prihatin dan kasihan. Itu yang kurasakan dan berdoa semoga dijauhkan dari bencana serupa. Karena seperti dia, aku pun juga anak perantauan yang mengadu nasib di Jakarta. Kami harus tinggal di kos-kosan atau pun rumah susun dengan orang-orang asing yang kita harap bisa menjadi teman.
Tapi liputan televisi kali ini benar-benar menggugah perhatianku. Berbeda dengan media-media lain,  Trans TV memakai nama panggilan si sekretaris yang sangat familiar bagiku ‘LACAK: Nungki – Tewasnya Sekretaris Anggota Dewan’. Jantungku berdegup kencang. Aku pernah punya kenalan bernama Nungki yang kebetulan juga menjadi sekretaris anggota dewan. Dan bertemu terakhir kali tanpa sengaja dengan dia dan dua orang temannya di Mangga Dua. Kami saling bertukar sapa dan kabar. Nungki adalah teman sekosan rekan kerjaku yang kini sudah pindah ke Sukabumi. Kami bahkan pernah ke Sukabumi menghadiri pernikahannya. Sambil mendengarkan liputan televisi, aku cari kartu nama Nungki. Ketemu. Dan menurut ulasan di televisi sampai detik ini kasus ini masih gelap.
Aku coba telpon hape temanku di Sukabumi tapi tak ada nada sambung sama sekali. Mungkin dia sudah berganti nomor. Aku hanya ingin memastikan kabar Nungki. Ku bolak-balik kartu nama Nungki, berharap ini tidak ada kaitannya dengan dia. Ini Nungki yang lain, sekretaris yang lain.
Aku pun berlari turun menuju ke wartel di sebelah kos-kosan.  Rasa ingin memastikan kabarnya membuatku ingin menelponnya tapi tidak dari hapeku.  Sambungan pertama, tak ada nada sambung. Kali kedua, juga sama. Kali ketiga, mailbox.
“Nungki, ini Ima temannya Novi. Ingetkan? Apa kabar? Umm…Kamu baik-baik sajakan? Telpon aku balik ya…Umm. Terimakasih.” Kuletakkan ganggang telpon dengan gundah dan balik ke kosanku.
Yah, aku mengharapkan pertemuan ini dan berharap pelakunya yang sangat keji ini tertangkap segera. Hembusan angin berhenti dan aku jatuh tertidur.
Esok paginya seorang teman kosan bercerita tumben-tumbennya dia merinding dan ketakutan ke kamar mandi semalam. Aku pun bercerita tentang temanku Nungki dan aku ‘memanggilnya’ ingin bertemu.
“Ampun Ima! Jangan lagi begitu! Jangan lagi begitu!”racaunya ketakutan. Aku juga takut sih sebenarnya tapi berbulan-bulan kasus ini belum terungkap hingga masuk ‘Lacak’.  Ku bayangkan kesedihan dan menderitanya keluarga temanku ini.
Ku telpon suami temanku yang ‘lebih pintar’ soal beginian dan jawabnya Nungki sebenarnya ‘datang’ tapi tidak bisa menampakkan diri karena aku sedang ‘berhalangan’. Terkejut aku karena aku tidak bercerita tentang kondisiku namun dia tahu. Katanya kasus ini akan terungkap tak berapa lama lagi.
——————————–
Koran pagi ini datang ke kosan. Headline dibawahnya menggugah perhatianku ‘Pembunuh Sang Sekretaris Dewan Tertangkap’. Airmataku menetes membaca tiap-tiap paragrafnya.
Di malam yang kelam di tengah derasnya hujan dan gelegar guntur, penjaga rumah susun yang mempunyai kunci serep kamar Nungki menyelinap masuk ke dalam melakukan aksi kejinya….Hanya oleh karena satu alasan, ” Saya sakit hati pinjam tiga juta diberi hanya enam ratus ribu….”
Sebegitu murahnya harga sebuah nyawa….Padahal mungkin temanku tidak ada uang atau dia memberinya seikhlasnya tanpa berharap kembali….
Betapa rentannya kita hidup di perantauan, di kota besar dengan orang-orang asing. Orang-orang yang kita harapkan menjadi teman bahkan saudara kita. Tapi bisa berbalik menjadi sejahat-jahatnya orang. Terbayang wajah cantik Nungki yang ramah meski cukup pendiam sebenarnya. Temanku yang di Sukabumi juga sudah memastikan bahwa ini Nungki,  teman kami. Aku berdoa semoga dia tenang di alam sana dan diampuni semua dosa-dosanya. Selamat jalan, kawan. Doa kami untukmu selalu.

In Memoriam :
Nungki, seorang kawan di perantauan yang lembut dan baik hatinya.

Advertisements