Dalam lelap tidurku, lampu mati atau gerakan sesuatu sekecil apapun bisa membangunkanku. Pun demikian malam ini, aku merasakan ada  sesuatu bergerak di belakang punggungku. Dingin menjalar lebih dingin  dari  AC yang ku pasang dan tengkuk terasa merinding pula. Dengan malas ku naikkan selimut berharapkan hangat dan ku balikkan badan dengan mata mengantuk, setengah sadar. 

 Aku terkejut saat bertatapan dengan gadis kecil usia lima tahunan. Gadis kecil berwajah bule ini diam mematung dan menggandeng tangan seseorang yang lebih tinggi darinya di pinggir tempat tidurku.

image

   Refleks aku bangun dan bergerak mundur ke belakang di pinggir tempat tidur, bersandar di dinding kamar. Ku tutup mulutku  dengan satu tangan untuk meredam jeritan keterkejutanku akan kedatangan ‘tamu istimewa’ ini. Dua orang Noni Belanda yang sepertinya Ibu dan Anak,  berbaju dengan warna  biru dan model yang sama dengan bagian bawah rok menggelembung, mengenakan sarung tangan putih. Sang Ibu membawa payung putih kecil yang dikembangkannya. Keduanya berambut diulir panjang sebahu, jika sang Anak diam mematung dengan wajah pucatnya, sang Ibu mengekspresikan kemarahan di wajahnya.
  Ku pejamkan mata sambil berdoa gemetaran, doa agar dijauhkan dari jin dan makhluk-makhluk halus lainnya. Saat ku buka sedikit mata mereka sudah beralih  tepat lurus di depanku. Keringat dingin bercucuran di tengah hawa dingin kamar. Percuma aku menjerit meminta pertolongan, teman sebelah kamar sedang pulang ke Bandung dan hanya kami berdua yang tinggal di rumah bawah. Sang Ibu tetap memandangku dengan tatapan marahnya. Ya Tuhan, ku pejamkan mata terus berdoa.  Hawa lebih dingin menjalar dan ku rasakan mereka berdua sudah di sebelahku lagi. Aku bergerak cepat menghindar ke tengah sambil terus membaca surah An-Nas dengan keras-keras. Jauhkan aku dari gangguan jin dan manusia, jauhkan aku dari jin dan manusia.

image

image

 Ku buka mata dan Sang Ibu itu masih masam mukanya walau tidak segarang sebelumnya. Aku terus komat-kamit baca doa dan terus mengingat apa yang telah ku lakukan sehingga ‘mengundang’ kehadiran mereka. Keringat dingin terus mengucur. Nafasku tercekat saat Sang Ibu mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang tidak ku mengerti. Dia marah terhadap sesuatu sambil menunjuk ke anaknya…. Aku menjawab lirih, sambil menggelengkan kepala dan menutup kupingku dengan kedua tanganku,”aku tidak mengerti, aku tidak mengerti”.
  Mereka tetap tidak mau beranjak pergi, seperti menuntut sesuatu. Aku mulai ketakutan. Selama ini aku hanya mengalami ‘pertemuan-pertemuan’ sekelebatan atau merasakan kehadiran sosok lain di sekitar. Jika doa dibacakan mereka ‘pergi’. Ini hanya meredakan amarah mereka tapi tidak mengusirnya. Aku takut kerasukan tanpa ada  yang menyelamatkan. Oh Tuhanku.
 Siang tadi aku pergi Museum Fatahillah dengan teman-temanku. Kami berkeliling di seputarannya terlebih dahulu. Berfoto-foto narsis dan bercanda seperti biasa. Di meriam si Jagur-nya, di patung-patungnya, di dapurnya bahkan di depan sumurnya. Kami berhenti di penjara bawah tanahnya, aura-nya langsung membuatku mual, ingin muntah juga merinding tak karuan. Tak kuat, aku ajak teman-temanku pindah ke bagian dalamnya. Melihat barang-barang bersejarah VOC, benda-benda purbakala, ruang kerja dan ruangan-ruangan tidur para Gubernur Jendral. Meski dilarang memotret kami mencuri- curi kesempatan bahkan di tangga penghubung ruang atas dan bawah aku bergaya bak suster ngesot! Padahal sebelumnya aku sudah merinding melihat senjata-senjata, alat gantung, pedang-pedang pemotong kepala dan foto para gubernur jendral. Muram, gelap, wingit.

image

 Aku terkesiap teringat sesuatu, airmataku jatuh oleh penyesalan dan juga ketakutan. Aku tidak boleh lemah dan lemas sekarang ini walau pun aku sempat diserang diare yang mempercepat acara jalan-jalanku siang tadi. Di suatu ruangan yang besar sekali, ada tempat tidur kuno yang besar dan berkelambu. Di sebelahnya ada  tempat tidur ayunan bayi dari kayu jati. Aku tidak mengingat dengan jelas siapa si empunya tempat tidur itu, tapi ditulis tahunnya dan dilarang keras memegangnya.

image

 Ku tengadahkan wajah dengan jantung berdegup kencang dan keringat dingin bercucuran memandang wajah pucat si anak kecil dengan sayang dan ke Sang Ibu penuh penyesalan ketika mengucapkan,”Maafkan saya….” Menunduk lagi tak berani memandangnya  dan terus berdoa.  Aku telah dengan santai dan tertawa-tawa mengguncang-guncang ayunan bayi itu padahal sudah jelas dilarang keras memegangnya.  Hingga temanku Resi menegurku karena takut tempat tidurnya patah. Lebih dari itu sebenarnya, ia ada pemiliknya dan aku harus menghormati segala benda. Apalagi aku cuma tamu di situ untuk rumah berusia ratusan tahun dengan segala ceritanya.
 Hawa dingin mulai mencair, aku tetap tertunduk dalam doa dan penyesalan. Keringat masih mengucur deras. Sebuah kalimat dalam bahasa yang tak ku mengerti terdengar, aku lega tiada nada marah di dalamnya. Aku tetap dalam posisi dudukku dan doa-doaku hingga azan Subuh terdengar. Mereka meninggalkanku dalam damai.
  Sampai hari ini, aku belum berani kembali ke Museum Fatahillah. Dan saat aku googling memang ada Gubernur Jendral VOC yang istri dan anak perempuannya mati muda….

Advertisements