Perlu perjalanan panjang untuk menemui surga ketenangan  yang syahdu di Maluku, Pantai Ora. Kami harus menempuh daratan Ambon terlebih dahulu. Jalanan menuju ke pelabuhan sangat mulus dan rasa senang di hati menginjak kota ‘pacar’ ku Glen Fredly. Hahaha. Dari pelabuhan kami masih harus lanjut mengarungi Lautan Maluku dengan kapal Ferry. Sepanjang perjalanan kami disuguhi alunan lagu-lagu berbahasa lokal dengan klip yang lumayan ber-budget rendah sepertinya. Hihihi, tidak apa-apalah…Glen mana Glen? Setelah hampir tiga jam, kami pun mendarat di Masohi, Pulau Seram. Butuh beberapa jam di darat dan diakhiri dengan speedboat menuju Ora Resort. Jalanan darat di Pulau Seram sendiri terhitung mulus hanya sedikit yang kilometernya harus pelan-pelan saat menembus hutan menuju sisi lain Pulau Seram.

image

image

   Pantai Ora yang diapit pulau-pulau sangat teduh dan tenang. Surga buat snorkling karena dengan jarak yang pendek kedalaman pantai kamu bisa melihat satwa-satwa lautan yang manis-manis.  Bahkan dari Pondokan pun kami bisa melihat mereka berenang-renang bebas. Kata temanku di perairan yang tenang ikan-ikannya jenis yang kecil-kecil saja bukan yang besar-besar seperti lumba-lumba atau paus. Pun demikian asyik juga melihat ikan-ikan kecil berlalu-lalang. Apalagi aku belum bisa berenang jadi asyik bermain di Pantai Ora dan spot-spot snorkeling di sekitarnya hanya bermodalkan jaket pelampung dan dikawal pemandu trip dan teman-teman priaku.Uhuuyyy serasa Little Mermaid saiyahhh.

image

image

image

   Resort Ora yang eksklusif menambah kesyahduan tempat ini. Paling pas sebenarnya kalau dengan pasangan hehehe. Berhubung masih jomblo ya mari tetap bersenang-senang dengan teman-teman. Resort Ora ada beberapa yang di darat berbatas bukit dan beberapa yang berdiri di atas laut, ini yang menjadi incaran banyak orang. Siang-malam bisa duduk-duduk di beranda dengan halaman lautan luas yang tenang dan angin laut yang asin, basah. Di bawahnya ikan-ikan berkeliaran. Jika beruntung kamu bisa melihat Ikan Terbang. Surga!

image

image

   Kamu juga bisa menikmati Pantai Mata Air Belanda yang dinginnya minta ampun dan dekat dengan pantai terdapat telaga air tawar. Ingat kamu tidak boleh berendam di Telaga ini. Aku baru tahu kemudian kalau penduduk mengeramatkan telaga ini. Dan ada pohon besar di pantai ini yang di belakangnya ada sebuah pusara. Lain dari perkiraanku, menurut penduduk pusara itu milik orang lokal bukan orang Belanda.
Mencari kesunyian yang syahdu bukanlah tujuan utama setiap traveler tapi mengenal lebih dekat alam dan penduduknya. Maka kami pun menyempatkan diri berkunjung ke daratan terdekat. Bersilaturahmi dengan penduduk niscaya kita akan mendapatkan kearifan lokal yang unik sekaligus keluarga baru. Di Desa Saleman yang ku plesetkan menjadi ‘Sleman’ (dan diterima dengan senang hati saat ku bilang jauh-jauh ke Maluku ketemunya Yogya juga haha), ibu-ibunya mencuci bareng-bareng di sebuah kali yang cukup lebar. Sayang pakaian kotorku ku tinggal di Resort, pasti asyik ‘nyuci bareng dan bergosip sana-sini’. Hihihi. Anak-anak sangat banyak mungkin karena hari libur dan sibuk mengintil kami kesana-kemari. Khas anak-anak yang pengen tahunya besar. Untung kami bawa permen untuk dibagikan. Salah satu anak yang cantik sekali bercerita kakaknya tinggal di Jakarta. Dia hidup dengan neneknya karena yatim piatu. Dia ingin kelak menyusul kakaknya dan menjadi model. Amin adik cantiiikkk.

image

image

   Di desa Saleman pula kami mendaki bukit untuk melihat Ora dari ketinggian. Kami ditemani khusus Bapa Kepala Desa dan Adat beserta Ibu. Keberadaan mereka penting sebagai penunjuk jalan dan laku spiritual karena kami berendam di Telaga Mata Air Belanda tadi, juga ada bayi. Bukit ini sebenarnya tidak terlalu tinggi dan tidak sulit ditempuh. Hanya 300 meter tingginya. Tapi buat orang yang tidak berolahraga dan sehari-harinya hanya duduk di belakang meja plus usia, mendaki bukit sungguh perjuangan yang luar biasa! Aku merepet tak kuat sepanjang jalan dan menangis di satu kelokan, menyerah. Ibu Kepala Desa tahu bahwa aku harus ‘terus’. Bersama Icha, ditungguinya aku sampai kuat kembali.

image

   Sampai di puncak ada sebuah dangau yang muat untuk empat orang dewasa. Aku pun langsung tepar, tertidur selama limabelas menit pas! Terbangun saat terdengar orang-orang cekikikan. Kata mereka tidurku enak sekali sampai ngorok. Waduh, gimana lagi udah terlanjur malu. Aku pun turut menikmati Ora dari atas bukit. Di darat maupun di atas Ora tetap cantik!

image

   Oh anak muda, lakukan perjalanan saat muda biar kau bisa menikmati suasana sepuas-puasnya. Tidak seperti aku yang telat sekali melakukannya. Ada uang tapi tak bisa membeli waktu yang semakin tidak bersahabat dengan usia. Bahagia lihat Ora dari Bukit tapi encok juga. Hahaha.

image

Advertisements