Uhhhh sampai juga akhirnya aku di Derawan, Kalimantan! Lega rasanya. Sebelumnya kami harus menginap di hotel yang ‘rada-rada gimana’ gitu deh. Bayangkan saja ini hotel tua seperti tak terurus  dengan dinding mengelupas di sana-sini dan karpet usang, berdebu di sepanjang koridor lantai duanya. Toiletnya model bak dengan gayung.  Penerangannya pun juga remang-remang. Untunglah aku pernah tinggal di Mess yang setali tiga uang kondisinya di Sempu. Jadi ga begitu kaget. Tapi aura hotel ini juga ngeri-ngeri sedap begitulah. Nince sebagai ketua suku pun berinisiatif untuk ganti hotel pas pulang nanti. Tararengkyu, peyuk-peyuk! Sudah begitu dalam perjalanan berangkatnya, speed boat yang kelihatannya masih baru ini beberapa kali mati mesin di lautan! Ngeri betul! Tanya punya tanya kenapa, kata Kang Kapalnya bensin yang dia beli dicampur penjualnya dengan air. Alamak jahatnyaaa.
Di Derawan pun sempat terjadi masalah. Mama Monce yang baik hatinya tidak tega melihat sepasang remaja bule yang belum punya tumpangan kapal untuk ikutan saweran bersama kami saja. Aku sih senang-senang saja, selalu asyik bertemu dengan orang baru apalagi asing. Seru kan punya teman banyak dan diceritain tempat-tempat asyik di negara asal mereka. Di sini aku juga baru tahu hal-hal begini bisa menjadi hal yang sensitif. Ada para pemuda yang tidak suka dan memperingatkan Mama Monce. Untungnya ga diapa-apain setelah si Mama minta maaf. Kalau sampai ada apa-apa pasti dong kita belain si Mama!Huh, ciaaat! Nah para pemuda itu disamping mempermasalahkan ajakan kami ke si Bule-Bule juga komplain soal kami yang tidak memakai jasa mereka. Perut oh perut! Bikin orang tidak berpikir panjang cara bersaing yang sehat dan benar. Dengan tarif sewa yang begitu tinggi orang akan mencari yang lebih murah dengan fasilitas sama. Kami pun memandang penuh iba dan meminta maaf si Bule harus membayar berkali-kali lipat. Mereka mungkin  sama saja dengan kita belum tentu kaya raya dan berhemat-hemat demi bisa berjalan-jalan. Hal-hal begini bisa jadi cerita tak mengenakkan. Huh! Moga-moga mereka bercerita tidak semua orang Indonesia begitu.
Rumus bahagia dalam perjalanan, ‘Lupakan dan Terus Jalan’. Apapun! Kata atau perilaku ga enak  teman seperjalanan kah, kejadian-kejadian menyebalkan kah, lupakan! Jangan sampai hal-hal ga penting mempengaruhi mood-mu dalam perjalanan. Segala sesuatu masuk kuping kiri, keluar kanan. Kalau pun mau mampir ke hati stop sampai di tenggorakan balik lagi ke kuping kanan, keluar. Jadi segala masalah sebelumnya dan ditambah saat hoping island ke Pulau Sangalaki tidak bisa melihat para manta berenang-renang, rasanya tidak begitu sesak dihati. Sesak ga, sesak ga. Hehehe. Saat air laut pasang, konon kabarnya plankton-plankton akan menyebar mengundang manta-manta berdatangan. Konon kabarnya pula, manta sejenis ikan pari ini sangat besar dan dalam jumlah banyak. Namun mereka tidak berbahaya dan kita bisa  berenang-renang bersama mereka.  Hmmm kalo ada sih tetap harus jauh-jauh kali ya…ekornya yang panjang dan tajam itu…. Aku hanya bisa memandang dermaga yang jadi tinggi sekali karena air laut sudah surut dan mengucapkan selamat tinggal buat manta-manta di manapun mereka bersembunyi kini. Hu hu hu. Pengen balik kesini lagi ah….

image

   Tak bertemu para manta dibalas dengan kesempatan melihat ubur-ubur jenis langka di Danau Kakaban!  Uhuy, hanya ada dua tempat di dunia ini di mana kamu bisa berenang dengan ubur-ubur tanpa disengatnya sama sekali, Indonesia dan Republik Palau sebuah negara kepulauan di Lautan Pasifik sana. Ubur-ubur adalah salah satu jenis satwa laut yang harus dihindari oleh para pecinta lautan. Hewan yang bening tembus pandang seperti permen jelly ini, mempunyai tentakel beracun yang bisa menyebabkan gatal-gatal di sekujur tubuh. Konon kabarnya hanya air kencing yang bisa meredakan gatal dan nyerinya sebelum dibawa ke dokter. Tapi di Danau Kakaban ubur-uburnya manis-manis sekali. Dipegang, disentuh  dia tidak beraksi dengan menyengat sama sekali. Aku yang belum bisa berenang pun dengan memakai pelampung masih bisa berenang dengan mereka yang jumlahnya banyak sekali.

image

image

   Danau Kakaban berada dalam cekungan bukit karang kalau bisa aku bilang. Jadi, sebuah bukit karang dengan pohon-pohon besar, kurang tahu juga kenapa pohon-pohon besar bisa tumbuh di karang, membentuk cekungan di dalamnya. Dan pada suatu tempat ada lubang yang membuat air laut dan ubur-ubur mengalir masuk dan terperangkap di dalamnya selama ribuan tahun. Air laut dan para ubur-ubur itu menjadi tenang dan jinak seiring waktu. Mungkin ketenangan Kakaban dan berlimpahnya sumber makanan menjadikan ubur-ubur tumpul daya bersaingnya dan hilanglah sengatnya di Kakaban. Mungkin loh yaaaa..

image

image

   Puas bermain bersama ubur-ubur masalah justru muncul saat mau naik ke daratan. Dermaga di Danau Kakaban adalah papan yang membentuk  bidang miring disamping kiri dan kanannya sebelum mencapai bidang datar di tengah-tengahnya. Sungguh berat menjangkau bidang datarnya dengan berat tubuh berlebihan, ketakutan kecebur lagi dan papan yang licin! Uh berkali-kali mencoba eh merosot lagi, merosot lagi. Pasrah, aku pun teronggok di tepian bidang miring menunggu pertolongan. Huaahiks hiks. Ga lucu kalau aku di tinggal pergi sendiri di sini. Giliran datang pertolongan eh para penolong itu gagal maning, gagal maning gara-gara menertawakanku. Dikiranya aku penyu raksasa bahkan anak ikan paus yang terjebak di Kakaban. Diseret, eh pada ketawa, merosot lagi. Huh! Puas,puas, puasss?
Malam saat kami mengagumi foto-foto narsis kami, aku pun mempunyai kesempatan ‘membalas’ koh John yang telah mem-videokan usaha gigihku terselamatkan dari Danau Kakaban. Koh John kecewa saat membuka kamera bawah airnya ternyata rusak! Padahal dia sudah promosi seharian betapa murah dan bagusnya kamera yang dia beli.  “Ini kamela andel wotel bagus lhoh! Lhapan latus libu aku beli di klamat jati lah,” kataku dan Nince berulang-ulang kali. Koh John ga cadel sih tapi pembawaanya seperti tauke ganteng di Pasar Pagi Mangga Dua boleh juga. Dua peristiwa yang sungguh membuat kami tertawa terbahak-bahak sesudahnya.

image

   Hoping Island di Derawan memang indah dan mengasyikkan. Sama seperti tipikal pantai-pantai di Timur Indonesia, Sangalaki, Maratua, Derawan lautnya sangat tenang. Di Maratua bahkan pasirnya putih dan lembut sekali. Apalagi jika bersama teman-teman yang asyik. Segala rintangan justru jadi hiburan menyenangkan! Yeeayyy!
https://youtu.be/1vI0THLWTVc

Advertisements