Memang benar cerita, adakalanya orang bepergian karena terinspirasi oleh film yang ditontonnya. Jadi sehabis nonton film Laskar Pelangi dan khatam novelnya, aku pingin sekali ke Belitung. Masalahnya adalah aku tidak pernah pergi jauh-jauh seumur-umur segini. Tempat paling jauh adalah Pekanbaru, itu pun bisnis trip yang semuanya serba diatur sedemikian rupa sehingga. Pokok rapi jali terima jadi, diantar-jemput ke sana-kemari. Waduh gimana ini?
Teman baikku Resi lah yang pada akhirnya mengenalkanku pada trip organizer yang mengatur liburan orang-orang dengan paket-paket dan biaya tertentu. Yaelah emang kuper saiyah ini! Dan jumlahnya ternyata  bejibun di Jakarta ini saja. Tergantung paket yang ditawarkan, uang di dompet dan waktu saja. Kombinasi ketiganya yang paling menentukan ikut tidaknya di suatu trip. Kecuali kamu sudah cinta mati sama satu trip organizer atau lihat gebetan yang bisa di-prospek di sebuah trip, kombinasi ini bisa berubah dengan sendirinya. Hihihi. Ada loh yang sengaja jebol celengan, juga rela dijutekin boss gara-gara nge-trip yang dipaksakan.
Dan karena ini merupakan perjalanan ‘hore-hore’ pertamaku aku merasa lebih aman jika mengikuti trip dengan trip organizer saja. Bersama Resi aku bergabung dengan puluhan peserta lainnya yang mayoritas  pergi ke Belitung karena film Laskar Pelangi. Yeeaayyy! Itenerary lengkap dan ‘adab tata cara nge-trip bareng-bareng’ dicantumkan. Tenggang rasa, ok. Ga egois, ok. Ga sensitif, ok. Tidak SARA, okeh!Tepat waktu, hmmm ok…. Pokok seperti butir-butir pengamalan Pancasila deh. Sip! Cari jodoh tidak direkomendasikan dalam percakapan pertamaku dengan leader trip, padahal aku ga nanya loh. Wek!

image

   Persis  seperti di filmnya aku dan rombongan mendatangi lokasi syuting Sekolah Laskar Pelangi yang memang dipertahankan untuk menarik para wisatawan. Bergaya seperti Ibu Guru Muslimah mengajarlah, bergaya menjadi Mahar yang pandai menyanyilah, Ikal yang lucu tapi galaulah dan Lintang yang encer otaknyalah. Jadi malu sendiri saat pemeran Lintang sebenarnya datang menemui, soalnya aku lagi asyik bergaya bak Sadako di sumur-sumuran di depan sekolah.  Ini sih benar-benar ga ada ceritanya di film.  Kenapa pula jadi horror beginiiiii.  Hihihi, tetep sih minta foto bareng . *Mringis*. Trip Organizer pun memberikan kejutan luarbiasa saat kami dipertemukan dengan ‘the real’ Ibu Muslimah. Asli nangis loh akoh! Soalnya kan legenda hidup ini Ibu. Aku sampai memeluk erat tubuhnya yang mungil dan kecil padahal aku ‘buesar’. Fans beratnya akoh!

image

   Di Belitung ini pula aku diramal oleh seorang Suhu di Vihara Dewi Kwan Im, kalau aku akan lebih banyak menghabiskan segala sesuatunya untuk keluarga dan membiarkan jodoh datang dengan sendirinya. Cieeee. Nah itu brondong Belitung asli, pemandu lokal kami  yang jadi gebetan aku dan cewek Pilipin gimana dong? Hahahaha. Godain habis saja dulu mumpung lagi liburan dan belum balik menunaikan tugas negara eh keluarga. *Seringai licik*. Dan aku bersama Arianne, si cewek Pilipin rela dan rukun berbagi gebetan. Hahaha
Dan juga persis seperti yang tergambar dalam film dan adegan-adegannya, aku berlari-larian di bongkahan batu-batu raksasa  di pantai-pantai  Belitung yang sungguh luar biasa indahnya. Imajinasi liarku ke masa lampau milyaran tahun lalu, saat Langit melemparkan batu-batu ke Bumi dan Belitung lah yang menerima bongkahan-bongkahan terbesarnya! Boom, boom, boom! Batu-batu berjatuhan di pantai-pantai Belitung! Semuanya mempunyai ciri yang sama, batu-batu besar dan pasir putihnya. Yang membedakan adalah tatanan batu di pantai-pantai Burung Mandi, Tanjung Tinggi atau pun di  pulau-pulau Pasir, Lengkuas atau Mercusuar, Batu Berlayar dan Kepayang. Bentuknya tidak beraturan namun tetap memberikan corak lukisan alam yang luarbiasa. Lonjong, miring, tegak, tiduran, tumpang tindih suka-suka yang di Langit dah. Batu-batu raksasa ini sungguh halus mulus dan sempurna. Tidak bocel-bocel, kasar dan ditumbuhi apapun. Semoga tidak ada yang tega merusaknya dengan mencorat-coretnya atau mencongkel-congkelnya. Awas yah!  Pantai-pantai Belitung sungguh jernih dan tenang dengan pasir putihnya. Aku yang tidak bisa berenang pun merasa aman berenang-renang gaya bebek dikasih batu karena dangkal perairannya.
Setelah bersama-sama hampir tiga hari lamanya, aku pun menjadi akrab dengan peserta-peserta lainnya. Jadi jangan anggap enteng ‘adab tata cara nge-trip bareng-bareng’. Karena kalau satu saja tidak terpenuhi, trip bisa jadi garing karena pada bete-betean. Benar! Apa gunanya jalan jauh dan mahal tapi tidak ‘happy ending’? Pengalaman trip pertamaku ini sungguh memyenangkan dan tak terlupakan. Aku jadi tahu banyak hal tentang perjalanan dan ga betah ingin mengulanginya lagi dan lagi.
Entah bagaimana cerita awal mulanya, kami sedang berenang bergembira di Pantai Laskar Pelangi atau Tanjung Tinggi  saat itu. Tiba-tiba  saja  aku didorong naik berame-rame ke sebuah batu besar di dekat pantai dan dinobatkan sebagai Miss Berhala! Adoh tholhongg kira-kira, kenapa?  Apa salah ucap dan dosaku sehingga  ‘dinistakan’ jadi Miss Berhala? Putri Pariwisata Belitung kek, Putri Belitung kek! Eh eh eh lah ini pada menyembah-nyembah Si Berhala. Ya udah…untuk seru-seruan aja kaaaan. Baiklah, ku perankan Berhala penuh totalitas! Hahaha. Lagian mana ada peran yang cocok selain jadi patung berhala, coba? Dian Sastro di salah satu iklannya ? Jaoohhh kelesss.  Hahaha.

image

image

   Wah tiba-tiba pelangi muncul di langit pantai Belitung! Itu artinya Tuhan tidak marah kami main-main soal berhala. Kan Tuhan Maha Tahu kami cuma bercandaaaa. Horeeee! Kami pun kembali ke kepercayaan masing-masing saat mengagumi Sang Pelangi. Tuhanku Maha Suci dan Besar!

image

Advertisements