Saat mereka yang tiada begitu dimuliakan, berdekatan dengan yang menjalani kehidupan. Batu kubur dan Uma Kalaga, dimana kamu bisa mengunjungi mereka yang telah tiada sejejak langkah di halaman rumah. Sumba.
Uma Kalaga menjulang tinggi seolah-olah ingin mencapai Nirwana dimana para malaikat, bidadari berada ditemani para ksatria dan Merapu yang digdaya.  Dalam harmoninya hasil ladang, manusia, ternak kerbau, babi, kuda dan anjing dalam Uma Kalaga. Sumba.
Lembah hijau berteman biru langit, terhampar padang Savana tempat bermain kuda-kuda liar. Langit adalah batas. Ditepiannya lautan memanggilmu, menyapamu dengan butiran pasir putih, pasir lada, gapura karang…. Sumba,setua alam raya melukis dan memahatnya.
Umbu dan Rambu. Para Rotu. Tetua. Para Ksatria Pasola. Nyong dan Nona Sumba.  Dari Barat ke Timur, merekalah para penjaga tradisi, padamu Sumba dititipkan Tuhan.

image

   Begitulah gambaranku dalam narasi tentang Sumba. Sumba, sebuah pulau dimana matahari akan tetap bersinar pun jika hari beranjak malam, sinarnya serasa masih tertinggal. Sumba menawarkan kepolosan panorama alam yang luarbiasa di pantai-pantainya, bukit-bukitnya dan padang-padangnya. Polos karena sebagian besar masih belum digarap dan kita harus berjuang untuk menikmati keindahannya yang tiada tara. Matahari yang enggan beranjak pulang, teriknya tidak membuat surut langkah menyusuri jalanan yang mulai dibangun hingga sudut-sudut kawasan, menjamah Sumba perlahan-lahan. Jalan menuju ke desa-desa adat di mana tradisi dipertahankan dengan Batu Kubur, Uma Kalaga, Para Umbu dan Rambu, Ksatria Pasola. Teduhkan dirimu di Uma Kalaga yg beratap rumput ilalang, inilah kearifan orang-orang Sumba berkawan dengan matahari, menyimpan hasil ladang sekaligus dengan ternak mereka. Mereka yang tiada dimakamkan di Batu Kubur di halaman rumah. Tiada berjarak, semua dalam harmoni di negeri yang mataharipun enggan pergi. Eksotis!
Perjalanan ini diawali dari Barat ke Timur Sumba. Setelah melalui penerbangan Jakarta-Bali-Tambola Waikabubak Sumba Barat. Kenapa Bali karena untuk menghemat biaya tiket. Kamu bisa melakukan trip dengan Trip Organizer, Solo atau sharing cost dengan teman-temanmu.
Sumba Barat masih dalam pengembangan dan masih sangat orisinil. Listrik biasa byar pet disini. Ibukota kecamatan Waikabubak minim pendukung infrastrukturnya seperti bank dan hotel. Lambang modernitas Sumba Barat adalah bandaranya, Tamboloka,  yang tanpa memperhitungkan bisnis Pemerintah Pusat dan Kementerian Perhubungan membangun bandara modern untuk memasuki keajaiban alam Sumba
Sumba Timur lebih maju meski masih juga dalam tahap pengembangan. Ibukota kecamatannya Waingapu lebih ‘hidup’ daripada Waikabubak. Namun sayangnya kebiasaan buang sampah sembarangan menjamur di Timur Sumba. Pantai Purukambera dengan laut yg berbatasan dengan padang savana ‘hancur’ oleh sampah yg membuat hati nelangsa. Hiks
Kesamaan baik di Sumba Barat maupun Timur adalah sanitasi di tempat-tempat wisata hampir tidak ada kecuali di Air Terjun Lapopu. Selebihnya kita harus berakrab-akrab dengan alam saat buang hajat.
Orang-orang Sumba manis-manis, mereka menunjukkan minat yang besar pada para pelancong. Kain tenun Sumba yang halus buatan tangan tak segan-segan ditunjukkan juga hasil kerajinan tangan mereka yang lainnya seperti patung, ukiran, kalung, dan gelang.
Di setiap jaln aku selalu minta ditunjukkan mana sekolah, puskesmas dan rumah sakit. Memang saling berjauhan. Tapi aku tidak miris melihat anak-anak muda berjalan kaki ke sekolah yang terik karena semangat yang tinggi mengalahkan segala hambatan. Namun sekiranya kita berbagi buku dengan mereka, pastilah mereka akan berbahagia. Yang aku miris justru adalah anak-anak muda yang kurang mendapatkan perhatian dan pencerahan. Mereka tidak tahu lagi bagaimana berakrab dengan kehidupan setelah tamat bersekolah dan menjatuhkan diri ke minuman keras. Begitu menakutkannya, hingga kami perlu dikawal aparat keamanan. Seandainya mereka mengerti potensi besar yang dimiliki negerinya, seperti matahari merekapun pasti tak kan beranjak pergi, mencari hidup di negeri sendiri.
Perjalanan ini berakhir di Waingapu – Bali- Jakarta dengan Sumba yang tak terlupa. Saat aku menjejakkan langkah kaki ke tempat-tempat ini :
✔Kampung Adat Waitabar, Tarung, Praiijing, Ratenggaro, Waigali, Rende/Prayawang (Umbu dan Rambu Mehangkunda) dan Batu Kubur Umbu Sawola
✔Pantai Watu Maladong, Pantai Batu Lobang-Bhawana, Danau Weikuri, Air Terjun Lapopu, Pantai Marosi yang berpasir bak lada, Pantai Konda Malabo, Pantai Watupurunu yang memiliki karang berlubang empat dan Pantai Purukambera
✔Gardu Pandang Lapale,   Lamboya/Lapangan Pasola,  Bukit Savana Wairinding (biasa disebut bukit pendekar tongkat sakti) dan  Padang Savana Purukambera.

Advertisements