Haru. Itulah yang ku rasakan, saat pesawat yang membawaku mendarat di bandara Sepinggan, Balikpapan. Terharu, bahkan hingga menitikkan airmata karena pulau ini mengingatkanku pada seorang lelaki. Cinta pertama kali ku di dunia ini, Bapakku. Bukan…bukan karena kami pernah tinggal di sini atau Bapak punya pekerjaan di pulau ini. Senyatanya ini juga kali pertama aku menyentuh utuh tanah Kalimantan.
   Ya. Ialah Bapakku yang pernah sekali waktu mengajakku berpetualang di Kalimantan. Seusai purna tugas sebagai punggawa keadilan dan juga dosen di sebuah Institut Negeri, olah raga semacam tenis dan bulutangkis dirasakannya masih belum cukup mengisi hari-harinya. Lelaki tua yang sangat aktif ini memang memerlukan banyak kegiatan untuk mengisi hari-harinya selain olahraga, mengajar mengaji dan bermain bersama cucu-cucu.
 “Nak, bagaimana kalau kita bepergian ke Kalimantan dengan kapal laut? Ga usahlah pake pesawat! Pasti asyik berhari-hari di laut. Lihat suasana baru, ketemu orang-orang baru. Kita berangkat dari Tanjung Priok. Sampai Kalimantan kita ke darat sebentar, trus kita balik lagi. Gimana?” ujarnya antusias sekali saat itu. Aku tidak tahu mengapa Bapak mengajak anak perempuannya yang paling bungsu ini dibandingkan anak-anak lainnya. Apa mungkin karena dilihatnya anaknya ini cukup berani keluar dari tradisi keluarga yang mayoritas berkecimpung di dunia pendidikan, tapi ini lebih menyukai bekerja di multi-national company yang bergerak di bidang ekspedisi? Entahlah. Tapi aku mengiyakan ajakan beliau dengan syarat pas di waktu luangku.
 Namun hingga Bapak meninggalkanku selama-lamanya, aku tidak pernah mewujudkan mimpinya yang satu ini. Kesibukan kerja  di Ibukota menenggelamkanku teramat dalam hingga melupakan hal-hal penting di kehidupan pribadiku. Janji seorang putri bersama bapaknya pergi berpetualang.             Itulah arti tangisku dan semakin sesenggukan ketika membayangkan wajah Bapakku yang seolah tersenyum padaku, begitu aku tiba di Kalimantan. Lelaki berparas ganteng inilah yang dengan setia memegangi sadel sepeda roda duaku, saat aku belajar mengendarainya. Dan tersenyum bangga saat aku melapor sudah bisa sendiri keesokan harinya. Lelaki yang selalu bertanya padaku terlebih dahulu jika ada permasalahan terjadi antara aku dan orang lain. Mengantarku ke sekolah hingga SMA, menemaniku saat di wisuda dan bilang untuk tidak membawa lelaki ke rumah jika tidak serius. Lelaki yang mahir bermain alat musik gitar, seruling, harmonika dan piano, bersuara merdu saat bernyanyi dan mengaji. Cinta pertama kali dalam hidupku yang begitu sempurna. Yang tak pernah lelah dan berkeluh kesah menghidupi istri dan ke delapan anak-anaknya. Kami keluarga sederhana dan cinta kasih Bapak memudahkan kami semua dalam melangkah. Meneladani setiap tindakan dan perkataannya, menjalani hidup dengan memberikan yang sebaik-baiknya.

   Bapak…. Airmata ini tak berhenti menetes pun ketika aku memasuki pesawat menuju Tarakan. Tepekur aku di sisi jendela pesawat, berdoa oleh rindu yang perih oleh penyesalan. Seandainya waktu bisa ku putar kembali.
 Seorang ibu di sebelahku sepertinya memperhatikanku. Karena dia kemudian menanyakan apakah aku baik-baik saja. Berbohong, aku mengatakan baik-baik saja. Kami pun terlibat dalam pembicaraan lanjutan tentang ini pertamakali aku ke Kalimantan, tentang tujuanku berlibur ke Derawan. Tentang Ibu tersebut dan suaminya yang merantau di pelosok pulau Kalimantan.  Sampai pada satu titik percakapan yang membuat kami berdua terkejut!
   “Hah? Anak dari Salatiga? Dari kampung kota? Anak kenal Pak Dosen?” tanyanya bertubi-tubi antusias sekali saat menyebut nama Bapak. Tentu saja aku kenal! Itu nama Bapakku! Ibu yang ku tahu kemudian bernama Nurhayati ini pun memelukku dengan erat sekali. Dia bercerita Bapak adalah dosen dia dan suaminya dan dia juga berasal dari pinggiran Salatiga.  

   Bapak terkenal tegas, disiplin dan pintar sekali. Dosen favoritnya. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan anak dosen favoritnya di atas langit Kalimantan. Seusai kuliah dia dan suaminya memilih mengabdikan diri di pelosok Kalimantan. Kami pun menangis bersama-sama saat ku kabarkan Bapak sudah tiada….
   Segalanya seperti sudah di atur oleh Tuhan. Aku memilih pesawat paling pagi, sendiri,  sementara teman-temanku memilih siang dan sore hari. Jika saja aku memindahkan jadwalku, mungkin cerita pertemuan ini tak akan terjadi. Yang dilakukan Ibu Nurhayati pertamakali saat mendarat di Tarakan adalah menelpon suaminya dan memintaku berbicara kepada anak murid Bapak yang lainnya. Dicarikannya aku taksi dan bersama kami menuju ke Hotel yang aku tuju sembari menunggu teman-temanku. Dia menolak keras saat aku ingin membayar taksi dan memintaku untuk menjaga diri. Kami berpelukan lama sebelum benar-benar berpisah.
  Bapak, di Surga kini kau berada tapi tak pernah berhenti menjaga gadis bungsu ini yang tidak takut pergi kesana-kemari. Ku pandang langit putih bersih Tarakan, berterimakasih kepada Bapak dan Tuhan di langit sana yang telah menjagaku hingga sekarang pun nanti. Gadis kecil, tetaplah seorang gadis kecil bagi seorang Bapak, bukan? Ku habiskan waktu dengan kenangan indah akan Bapakku. Berdua kami sendiri, sampai nanti teman-temanku tiba.
❤❤❤
In Memoriam : Bapak
18 April 2008 – 18 April 2016

image

Advertisements