Dalam setiap perjalanan, biasanya aku akan bertanya mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di suatu tempat kepada pemandu lokal trip kami. Ini penting supaya kita tidak kualat atau pun meninggalkan masalah di suatu tempat. Ini juga buat berjaga-jaga, keamanan diri sendiri. Sejauh ini Pak John, pemandu dan sopir trip Sumba kami tidak mengutarakan hal-hal khusus kecuali larangan menginjak batu dan patung Merapu yang ada di tiap-tiap Kampung Adat. Merapu adalah dewanya orang-orang Sumba dan bercampur dengan kepercayaan kristen yang menjadi mayoritas di sana. Dan berhubung banyak sekali  batu, lebih arif jika kita bertanya sebelum mengambil foto. Selebihnya dia hanya menyediakan seorang aparat keamanan saat kami memasuki  daerah-daerah tertentu dan parang ada di mobilnya.  Jika ditanya  untuk apa, dia hanya akan menjawab ramah,”Untuk berjaga-jaga saja.”
Jadi saat memasuki wilayah air terjun  Lapopu yang merupakan wisata alam dan salah satu sumber listrik di Sumba Barat, kembali aku bertanya ada pantangan atau tidak. Tidak ada katanya. Kecuali kami harus berhati-hati karena tanah licin sehabis hujan gerimis. Jalan menuju ke jantung Lapopu pun bukanlah jalan yang sulit dan hanya berjarak pendek sektar 300 meter  dari pintu masuknya.  Setelah meniti pinggiran sungai yang cukup bergolak karena sehabis hujan dan meniti jembatan bambu ke seberang akhirnya kami sampai ke spot yang nyaman untuk melihat Lapopu.
Air seperti ditumpahkan dari atas bukit-bukit. Memahat  air pada punggung bukit:  lurus, berkelok dan jatuh ke bidang datar sebelum bersatu dengan air sungai. Derasnya kucuran air dari atas bukit semakin memperindah dan menghidupkan air terjun Lapopu. Di hari yang lebih cerah dan tenang, air yang terjun  ke sungai itu akan memberikan fantasi warna hijau tosca dan kita bisa berenang-renang di dalamnya. Namun situasi kali ini tidak memungkinkan.  Hujan memberikan curahan air yang cukup membuat sungai bergolak. Kami pun mengagumi Lapopu dari tepian sungai saja.
Saat hendak pulang aku bilang  ‘Aku ingin melihat air terjun Lapopu terakhir kali ah’  sebanyak tiga kali. Karena rasanya sayang sekali mau pergi dan tak tahu kapan kesini lagi. Kali ketiga, sebongkah batu besar dilempar lurus dari atas melewati kepala seorang teman, meluncur tepat di depan mataku dan jatuh di dekat kaki teman yang lainnya. Terkejut kami bertujuh mendongak ke atas takut ada bebatuan yang runtuh. Sepi.
Ada yang percaya seseorang melempar dari atas, ada yang percaya itu batu yang runtuh. Aku sendiri saat itu ingin segera pergi dan sibuk komat-kamit baca doa-doa dalam hati. Meminta maaf kalo ada yang salah ucap,  mohon pamit baik-baik dan berterimakasih telah diijinkan melihat air terjun yang indah ini kepada siapapun yang mau mendengarkannya, terutama yang kasat mata.
Air terjun ini terlindungi bukit dan pohon-pohon rapat. Seandainya batu runtuh hanya Tuhan  yang bisa selamatkan kami karena pasti batu berjatuhan banyak sekali. Jika ada orang yang iseng melempar semoga sadar diri  karena ini bahaya dan bisa bikin orang mati! Tapi lemparan batu tegak lurus di daerah dengan pohon-pohon yang rapat? Malamnya ubun-ubunku disembur oleh Bapak Tua pemijit refleksi di hotel. Wa’allahualam….
Cuaca mendadak berubah di perjalanan menuju Timur esok harinya. Sepagian cuaca cerah dan kami melihat pemandangan Sumba yang indah di kiri-kanan dan depan kami. Langit bersih, biru cerah, bukit-bukit, padang savana, hewan-hewan berkeliaran dan rumah adat di sana-sini. Kami beberapa kali berhenti untuk berfoto-foto dan menikmati jagung rebus Sumba yang pulen sekali (saking pulennya kulit bulirnya tidak mengotori gigi!). Entah kebetulan atau tidak kami yang di mobil meminta sopir kami mengganti lagu yang bernuansa pop jadul dan mendayu era delapan puluhan menjadi lagu-lagu pesta masa kini. Mobil mulai menanjak jalanan di dataran tinggi saat kami mulai menyanyi dan bergerak-gerak mengikuti irama lagu. JUMP! JUMP! Dengan mike handphone dan sisir di tangan. Riuh dan asyik sekali! Ya Tuhan…awan pekat beriringan di atas menuju jalanan berbukit kami  dan byuuuurrrr menumpahkan air sederas-derasnya. Jarak pandang sangat terbatas dan berkabut hingga mobil-mobil menghidupkan lampu hazard. Mobil merambat di jalanan gelap karena hujan dengan bukit di kanan, jurang di kiri.
“Ima apa baiknya kita  memutar lagu rohani?” saran tante Marcia arif kepada kami. Tanpa berpanjang-panjang aku dan Eka, teman lainnya, langsung menyetujui. Sambil mewanti-wanti kepada sopir kami untuk tidak ngebut karena kami tidak terburu-buru. Ngeri dan takut sekali.  Dan dengan takzim aku mengikuti lirik lagu rohani ‘Dalam doa ibu ku dengar namaku disebut’. Tante Marcia tersenyum-senyum di kursi depan. Dan senyum kami semakin melebar saat tiba di Bukit Wairinding tanpa hujan yang menyeramkan.

image

Advertisements