Pahawang semakin men-sahkan akan terbiasanya  aku akan lautan dan perairan dalam. Sesuatu yang sangat aku takuti bertahun-tahun lalu. Padahal aku cinta lautan. Padahal aku cinta lumba-lumba dan ikan-ikan! Padahal. Padahal. Tapi lihatlah setiap liburan ke pantai dan lautan aku selalu memojok ketakutan. Walau pun sudah memakai jaket pelampung dan peralatan aku tidak berani  terjun ke laut sendirian. Biasanya kemudian teman-teman atau pemandu trip akan jatuh iba melihat seorang perempuan yang sudah datang dari jauh-jauh dan mahal pula, kok hanya duduk memandang di kapal. Akhirnya  tiga sampai empat pria akan menjagaku dari depan, belakang, kiri, kanan saat ber-snorkling ria. Rasa takut tenggelam membuatku panik di lautan dan keberadaan mereka sangat menentramkan. Hehehe, nyusahin memang! Badanku cukup besar dan berat untuk ditarik kesana-kemari melihat indahnya kehidupan bawah lautan. Hingga aku memutuskan untuk belajar renang secara privat enam bulan lalu, laut dan air yang dalam bukan lagi menjadi momok yang menakutkan.
Pahawang yang tidak jauh dari Jakarta ini memberiku pengalaman banyak. Aku berani terjun dari kapal langsung. Berani tidak mengenakan pelampung, hanya ku pakai buat bantal saat tidur-tiduran di laut.  Berani menyelam hingga beberapa meter ke dalam, apalagi untuk bernarsis ria. Kudu, harus, wajib! Hahaha. Dan sama seperti pantai dan lautan Indonesia lainnya, Pahawang juga memiliki kekayaan biota lautnya, karang dan ikan-ikan beraneka ragam. Dan Pahawang ada kelebihan lain lagi selain arusnya yang tenang di spot snorkling di bulan Maret, adalah mereka mulai menata taman laut Pahawang. Di Taman Laut Pahawang ada candi-candi dan juga  pagar-pagar di kedalaman. Ikan-ikan berseliweran cantik sekali. Namun di satu sisi, ada juga ‘Ikan Hiu’ palsu yang bikin ketakutan saat pertama kali melihatnya. Apalagi yang mengira itu hiu beneran! Hiiiiii. Pemandu biasanya akan tertawa terbahak-bahak terlebih dahulu melihat wajah ketakutan kita sebelum menjelaskan hiu itu dari sterefoam! Sialan….

image

image

  Di Pahawang pula aku bertemu dengan ‘Keluarga Lautan’ yang turut serta membawa anak-anaknya terjun ke lautan semenjak dini. Ku namai keluarga lautan karena mama mereka bernama Star Sea, tantenya Cat Sea dan pamannya Leo Oceano, mereka tidak ada takut-takutnya mengenalkan laut ke anak-anaknya bahkan sampai yang masih bayi. Meski nama anak-anak mereka selazimnya nama anak-anak seperti Esther, Vira dan Hanza, aku ganti nama mereka di Pahawang menjadi Little Mermaid, Jellyfish dan Baby Fish. Hihihihi, mereka ganti juga namaku menjadi Tante Dolphin sih.

image

   Senang melihat ada keluarga Indonesia yang tidak takut anaknya menjadi hitam  karena berenang di Lautan atau pun kolam renang. Berapa banyak di kita yang dari kecil dilarang berenang biar ga iitem dan dekil? Buanyak sekali! Seorang kenalan bahkan melarang sama sekali.anak perempuannya beraktivitas yang sekiranya mempengaruhi kulitnya yang putih-mulus! Alasannya dia ingin anaknya jadi model kelak di kemudian hari. O Em Ji! Dangkal sekali.  Tapi melihat Keluarga Laut ini sungguh salut di hati. Papa dan Mama mereka membiarkan anak-anak mereka yang dua diantaranya  berkulit putih mulus berkecipak  di lautan terbuka. Si Baby Fish yang tidak sabaran melihat air laut pun juga dicemplungkannya. Dia yang sebelumnya menolak dipakaikan pelampung mini di tangan hingga harus menangis keras akhirnya pasrah di spot-spot selanjutnya saat dipakaikan. Tetap mereka memberi perlindungan ke anak-anak mereka.  Anak-anak apalagi bayi-bayi belum punya rasa takut dan lebih punya insting alami. Jadi lebih mudah mengajarkan hal-hal baru termasuk bertahan di lautan dan perairan dalam.

image

   Ya mari berenang, Indonesia! Karena ini negara kepulauan yang memiliki ribuan pulau dan lautan Andai pun kau tidak sering menggunakan, berenang adalah pelajaran basic untuk kita tetap bertahan saat terjadi bencana yang berhubungan dengan air. Jadi orang Indonesia harus bisa berenang!

image

Advertisements