Melangkahkan kaki ke Rumah Sakit, apalagi ke Poli Gigi itu sangat menggentarkan hati! Pertarungan batin antara rasa senut-senut di gusi yang sampai ke kepala nyerinya versus deru ngilu mesin bor di meja prakter dokter gigi, memperlambat langkah kaki. Semakin menang si cenut-cenut semakin cepat langkah kaki. Semakin mengiris bayangan bor-bor itu, semakin berhenti langkah kaki. Tak peduli dokternya wanita atau pria, tua atau muda, cakep atau biasa, mereka tetap yang berkuasa melakukan apapun atas gigi-gigi kita dengan bor-bor, catut  gigi, alat suntik di tangannya. Alamaaaak! Huaa hik hik, ngilu beud….
Dan demikianlah, dua gigi geraham atasku menerima vonis yang berbeda dari Sang Paduka Maharaja Dokter Gigi hari ini. Gigi geraham atas sebelah kanan masih bisa diselamatkan dengan memberikan tambalan. Sementara yang satunya di kiri atas harus dicabut segera! Sebetulnya sudah semenjak akhir Agustus tahun lalu dokter yang berbeda menyarankan hal yang sama. Tapi aku masih memaksanya untuk menambalnya saja. Dokter pun menjalankan dengan syarat aku datang lagi di Desember untuk dicabut dan diganti dengan implan.
Ya gigi yang hilang harus diganti dengan yang implan. Walaupun harga implan mahal setengah mati. Bisa belasan hingga puluhan jeti! Karena gigi punya fungsi dan cerita sendiri. Tugasnya bukan sekedar mengerat, memotong dan melumat-lumat makanan yang masuk  di mulut manusia saja. Secara estitika, gigi bertugas menunjukkan senyum yang indah berseri, juga ketulusan hati. Dia menunjukkan kebahagian hati saat si empunya tertawa terbahak-bahak kegirangan tanpa harus menutup mulut. Gigi juga bisa meningkatkan kepercayaan diri. Semakin putih berkilau rapi, jelas kamu bisa jadi model pasta gigi bertarif tinggi. Hihihi. Dan hei, berapa kali kau memikat pasangan dengan gigi? Hahaha. Gigi juga menjadi ‘barikade’ apa saja mungkin bisa keluar dari mulut manusia. Bayangkan mulut tanpa gigi, muncratlah semua yang ada tanpa kendali. Wong ada gigi saja orang suka sumpah serapah seenaknya sendiri toh? Kecuali gigi bungsu yang tidak jelas fungsinya namun nongolnya saat gusi sudah tebal dan menua. Bikin pusing seperti anak bungsu yang kolokan saja! Oh gigi…. Tapi saat gigi ngambek, ampun dah lebih baik sakit hati daripada sakit gigi cuyyyy.
Ngiiingggg….ngiiingģgg, buuurr buurrrr suara bor gigi bikin ngilu di hati ditingkah perintah dokter untuk miring kiri, mangap lebar-lebar, disemprot-semprot mulut, kumur-kumur dan disuntik, di bor lagi. Ritual ini akan diulang-ulangi sampai tambalan terpasang dengan rapi. Ngeri! Dan dokter pun asyik mengobrol dengan asistennya yang sepertinya baru, ditanyai asal-usul dan dicap kolokan karena anak bungsu. Mau ku protes tapi sang asisten sendiri sudah meluruskan dia tidak kolokan semenjak ayah-ibunya bercerai. Tanpa sadar aku mengangguk-angguk . Ouch!
Tinggal si Geraham  kini yang harus dicabut malam nanti. Seluruh upacara penambalan gigi cukup menggentarkan dan melemahkan sistem sarafku. Jadi tidak mungkin menggarapnya dalam satu waktu. Terbayang si Geraham yang telah menemaniku berpuluh-puluh tahun lamanya ini. Dijalankannya tugasnya dengan baik untuk melumat-lumatkan makanan dengan baik. Ntah berapa kali lumatan dari berbagai jenis makanan dia lakukan. Memudahkan tugas si Usus menghaluskan makanan sebelum darah memompanya ke seluruh tubuh. Tergantung dari tangan dan selera sang Tuan, kadang dilumatnya makanan sehat tapi sering pula makanan sampah. Las gilas, mat lumat, Gigi Geraham bertugas sambil bernyanyi.
Dan seusai maghrib, tunai sudahlah tugas si Gigi Geraham.  Sang Malaikat Pencabut Gigi membutuhkan waktu tak kurang dari lima belas menit untuk mengakhirinya. Sebuah suntikan di tiga titik, sebuah alat menekan gigi, terasa saat digerak-gerakkan dan krek! Sudah begitu saja.  Dokter menulis resep antibiotik dan pereda nyeri dan menyuruhku pulang setelah menunggunya sejam-an. Aku bahkan tidak sempat melihat si Gigi terakhir kali karena prosesnya cepat sekali. Hiks.

Advertisements