“Kami makan semua yang punya kaki, kecuali meja,” demikian Ari, teman jalanku yang asli Tomohon, menjelaskan tanpa diminta dalam perjalanan menuju Pasar Tomohon. Mungkin dia ingin mengantisipasi apapun yang kami pikirkan atau utarakan setelah melihat jenis hewan apa saja yang ‘dibantai’ di pasar ini.
Pasar Tomohon adalah salah satu pasar yang terkenal karena daging yang diperjualbelikan tidak biasa. Jika kita biasanya melihat daging ayam, kambing, sapi dan jarang-jarang babi, di pasar ini kamu bisa melihat yang lebih ekstrem lagi. Daging hewan-hewan utuh dalam arti kamu masih bisa melihat wujud aslinya sebelum terpotong-potong, lengkap di sini. Ada babi, anjing, kucing, ular, kalong dan tikus sawah. Pecinta hewan pasti akan geram di pasar ini. Terlepas dari itu semua, aku coba memahami bahwa orang-orang Tomohon yang tinggal di dataran tinggi dan dingin sekali membutuhkan lebih banyak daging daripada kita semua untuk menghangatkan diri. Dan seperti kita yang terbiasa makan daging ayam yang biasa kita lihat berkeliaran di pekarangan, pun begitu dengan saudara-saudara kita dari Tomohon. Mereka bisa karena terbiasa.
Dan tidak seperti bayanganku bahwa daging ini diperjualbelikan di sembarang tempat, hanya di pasar inilah transaksi terjadi. Jadi para pecinta hewan atau  yang takut-takut sebelumnya, kalian tidak akan melihatnya di jalanan Tomohon apalagi Manado. Dan terlepas dari pernyataan bahwa orang Tomohon memakan semua yang punya kaki, Ari sendiri mengakui tak doyan daging kucing kecuali ditipu teman-temannya yang bilang itu daging babi.

image

   Dua temanku bertumbangan tak kuat meneruskan wisata pasar ini. Katanya amis dan mual. Aku yang indera penciumannya sudah tak lagi tajam tetap melanjutkan dengan perasaan ngeri-ngeri juga. Apalagi kalau melihat ‘mereka’ yang masih hidup menunggu dijagal. Hiks…kasihan…Iseng-iseng aku bertanya dibumbu apa enaknya kalong-kalong ini. Si Ibu yang sedang berbelanja menjawab,”Di kari. Enak sekali. Bagus juga jika  kamu punya gangguan napas. Apalagi kucing, lebih manjur!” Aku tersenyum, mengerti. Ada juga faktor kepercayaan bahwa hewan-hewan tertentu bisa menyembuhkan penyakit-penyakit akut.
Kami pun melanjutkan perjalanan untuk melihat tempat-tempat indah yang lebih menentramkan dan memanjakan mata kami. Tomohon juga dikenal sebagai kota bunga yang terkenal dengan festival bunganya di bulan-bulan Maret. Di setiap halaman rumah di Tomohon selalu ada kebun bunganya, warna-warni cantik sekali. Rumah-rumah tradisional Manado, rumah papan berpanggung, berjejeran di kanan-kiri jalan. Beberapa rumah tradisional tersebut bahkan di padukan dengan gaya Barat seperti cerobong asap dan kincir angin.

image

   Terakhir kami menyempatkan diri ke Danau Satonda dan Linow. Danau Satonda adalah danau besar dan berangin kencang hingga permukaan airnya membentuk gelombang-gelombang, berombak seperti halnya lautan. Banyak nelayan yang mencari ikan di sini. Kami hanya memandang dari tepian rumah tradisional saja. Tak cukup waktu untuk bermain perahu. Danau Linow mengingatkanku pada danau hijau tosca lainnya di Ternate sana, Tolire.  Danau Linow juga mengeluarkan belerang di sana-sini mengingat banyaknya gunung berapi di Sulawesi Utara. Namun Linow bisa dinikmati lebih dekat dan angin hanya sepoi-sepoi saja. Menikmati indahnya sambil meminum secangkir kopi dan pisang coklat, asyik sekali.

image

image

image

Advertisements