Tulisan ini saya dedikasikan untuk Adik-Adik PPD (Pemuda Penggerak Desa) dan Para Guru di daerah-daerah pelosok negeri. Bertujuh yang kami temui, salut kami untuk semuanya yg tak sempat kami kunjungi.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
OASE. Demikian aku mengibaratkan mereka, anak-anak muda  penggerak desa. Ditengah dahaga akan pendidikan yang bernas berkualitas, anak-anak muda lulusan universitas-universitas terbaik di Indonesia ini mengajukan dan mengabdikan diri untuk mencerdaskan desa-desa di pelosok Halmahera. Oase ilmu pengetahuan yang rela diregukkan ke anak-anak pelosok negeri.
Tantangan alam jangan ditanyakan lagi! Perjalanan darat yang berakhir buntu mau tak mau harus diteruskan dengan perahu-perahu kecil  bernama Katingting. Yang seperti  sudah saya ceritakan,  ‘Sekali naik, keseimbangan badan teruji. Sekali naik berame-rame,  pengaturan berat badan dan kerjasama penumpang diperlukan’. Katingting mati mesin di tengah laut,  hanya Lautan dan Tuhan yang tahu selanjutnya. Serangga-serangga menunggu dengan ganasnya untuk mencecap kulit-kulit kita. Badan bentol, mata bengkak. Dan teman-teman yang menertawakan kebengkakan kita, untuk kemudian gantian kita tertawakan dia di lain hari. Hihihihi. Impas! Makanan hanya ada yang enak dan enak sekali, karena apapun yang tersedia atau ditawarkan para warga adalah berkah tersendiri dan sangat spesial. Dalam hitungan jam jika kamu ingin bertahan, kemampuan menimba air dan mengangkut air, bergelap-gelapan di malam hari  harus meningkat berkali-kali lipat. Typhus, korengan, dehidrasi, infeksi, adalah jenis penyakit yang biasa menghinggapi. Seperti Immanuel yang harus dilarikan ke Jakarta karena terkena infeksi. Belum fakir sinyal membuatmu menahan rindu setengah mati kalo tak mau naik genteng atau pun pohon yang tinggi. Itupun sinyal hidup mati. Krasak kresek krusuk…kangeeenn sama pacar, teman,  ibu bapak belum jua terobati
Juga tantangan non fisik yang tak kalah beratnya. Lucu dan seru saat diceritakan, takut, deg-degan, kesal campur aduk saat mengalami.  Butet yang harus lari-lari sembunyi saat ‘Pak  Tua Mantan Kades Tapi Masih Punya Gigi’ terus nongkrong di depan rumah Bapak Piara kepincut paras mudanya yang manis. Tika  yang harus berakting bak putri siap dilamar, dadakan memamerkan cincin berkaratan menghadapi ‘Cassanova from Pelosok, Beristri Banyak, Berlagak Penyair – Wajahmu bak bulan menyinari hati’. Hahaha. Kami tertawa,  tapi Tika dan Butet pastinya takut setengah mati. Salah minum atau makan, mereka bisa ngiler dan melamun, tertawa sendiri merasakan rindu setengah mati kepada para tua-tua keladi! Paraahhh cuuyyy.  Ryan yang super polos pun tak lepas dari godaan eljibiti, mengajaknya plesiran hingga asyik berselfie. Teman-teman  pun buru-buru mengingatkan biar Ryan menjaga diri. Si Jimbe yg bertahan lama sebagai penguasa  harus mengaku kalah saat Jim A datang tak disangka-sangka. Hahahaha. Duo Jimbe dan Jim A! Yang terakhir sih akur-akur membuat ‘keonaran’.
Tapi lihatlah tunas-tunas yang mereka siangi sepanjang hari dengan penuh kasih dan kesabaran. Bersama para guru-guru lokal yang juga mengabdi.  Akar-akarnya mereka kuatkan dengan ilmu dan budi pekerti. Tika bisa menertibkan murid-murid dalam hitungan detik dan kembali berkonsentrasi. Jika bandelnya tak terkirakan cukup dia mengingatkan tak akan bicara seharian dengan si Kepala Angin (istilah untuk anak bandel di Halmahera), malamnya ikan kerapu  sebesar lengan orang besar lagi gemuk diberikan sambil berlari oleh si Kepala Angin tanpa berucap apapun. Itulah bentuk permintaan maaf paling menyentuh, karena besoknya si Kepala Angin menjadi anak yang lebih baik lagi.  Butet Shinta  tahu cara  belajar dan bersenang-senang, tetap semangat walau panas menyengat. Dia pandai membuat yel-yel dan tak segan-segan menyentuh sayang anak-anak murid di ubun-ubunnya  saat datang dengan keluh kesahnya.  Ryan yang sangat sabar suka mengajar sambil tebak-tebakan. Membuat anak-anak aktif berinteraktif. Jimbe dengan kekuatan gelegarnya mampu menerbangkan angan-angan anak-anak tentang apa yang sedang diajarkannya. Immanuel yang tidak berkesempatan bertatap muka, mampu menghasilkan bibit-bibit unggul di dusun penugasannya, hingga ke level nasional sebagai juara pertama Penyuluhan Kelautan.
Apapun yang telah mereka lakukan, para orang tua  mau meninggalkan anak-anak di rumah untuk bersekolah saat mereka berladang jauh di bukit atau hutan. Saat Pemuda Penggerak Desa dan para guru lokal  bersinergi, OASE ini akan menjadi Telaga yang tak kan habis-habisnya direguk nikmatnya oleh anak-anak pelosok negeri.
Dengan segala tantangan dan pengabdian yang mereka jalani, semoga membuka hati para petinggi negeri. Pun demikian Tika dengan rendah hati menulis pesan bahwa tugas para terdidik untuk mendidik yang belum terdidik. Sumpah sejati para sarjana Indonesia, Pengabdian. Merekalah harta tak ternilai bangsa yang layak dihargai mahal sekali! Tetaplah Merah dan Putih adik-adikku. Kamulah penjaga nyata ke-Indonesia-an kami semua. Para Guru engkaulah sebenar-benar pahlawan walau tanpa tanda jahasa. Terimakasih.

image

Advertisements