Berenang-renang  aku  di perairan dangkal Bunaken. Meski begitu, arusnya cukup kuat untuk membawamu ke tengahnya jika tidak berhati-hati. Bahkan palungnya yang hanya sekayuh tangan dan kaki cukup menyiutkan nyali. Tampak dalam dan gelap…. Jadi aku tetap bertahan di perairan dangkal ini, ditemani pemandu kami.

image

  Meski pun di perairan dangkalnya, aku masih bisa  melihat makhluk-makhluk manis lautan dalam jumlah yang banyak. Ikan-ikan kecil berbagai jenis dan bintang laut. Memberi makan mereka, menyentuh sayang dan serasa menari-nari dengan mereka. Beberapa karang tampak hidup dan luarbiasa indahnya. Beberapa telah mati dan porak -poranda.

image

   “Orang-orang yang tidak bisa berenang dan ngotot pengen melihat karang dan ikan di Bunaken lah yang menghancurkan tempat ini,” begitu pemandu kami menjelaskan mengapa banyak karang yang mati setelah aku tanyai.
Terbayang di mataku para pemula penyelaman, pecinta lautan yang baru bisa berenang dan bahkan tidak bisa berenang dalam kepanikannya menginjak-injak karang untuk bertahan. Apalagi mengingat derasnya arus di Bunaken. Kehidupan yang indah sejengkal dari pantai Bunaken pun porak-poranda seketika. Melihat karang-karang mati sungguh menyedihkan. Karena mereka lah rumah tinggal para ikan-ikan. Tempat ikan menari-nari, menyelusup ke sana-kemari di antara karang-karang. Harusnya kita melihat dari kejauhan keindahan harmoni alam ini, bukan memegang apalagi menginjak-injaknya. Butuh bertahun-tahun untuk menumbuhkan dan menghidupkan karang-karang kembali. Dan memanggil makhluk-makhluk manis lautan pulang kembali.
Ku nikmati yang masih tersisa dan masih tetap luarbiasa melihat ikan-ikan berlalu-lalang. Bak serasa di akuarium alam yang besar.

image

   Bunaken di masa kini mungkin harus lebih di fokuskan ke penyelaman lautan dalamnya, sehingga tetap terjaga biota laut di perairan dangkalnya. Mungkin wisata perahu berlantai kaca bisa mengurangi kerusakan-kerusakan ini. Dan hanya snorkling dan penyelaman di perairan yang lebih dalam yang diijinkan.
Di spot kedua yang lebih dalam, aku berhenti. Walau kata teman-temanku, di sini lebih indah lagi. Karang-karang lebih hidup dan jenis ikannya lebih beraneka-ragam lagi. Aku baru saja menerima pesan penting dari Jakarta. Rasa duka  kehilangan teman selamanya  membuatku lemas dan lemah. Aku tumpahkan tangisku ke Lautan dan Angin Bunaken, sendiri. Berdoa untuk temanku yang ku kasihi dan meminta maaf tidak menemuinya lagi sebelum berangkat pergi.  Dan aku akan kembali saat aku sudah berpengalaman untuk lebih menikmati lautan dalam Bunaken, yang pasti lebih eksotis lagi.

image

Advertisements