Beep…beep… sebuah pesan dari seorang kawan baik tiba di hapeku. “Ada anak-anak luarbiasa di Halmahera. Mereka suka bersekolah dan ikut pramuka. Tapi mereka belum punya seragam pramuka. Mo ikutan?” tulisnya. Kujawab “Siippp!”
Beberapa bulan kemudian mereka membalasku dengan manisnya sambil mengenakan seragam pramuka. Oh mereka sangat manis dengan senyum lebarnya yang tulus. Mata mereka yang ‘tersenyum’, membuatku jatuh hati pada pandangan pertama. Dalam hati aku berucap semoga bisa menjumpai mereka suatu saat, suatu cara.
Beep…beep…beep. Tahun berganti, kawan baikku mengirim pesan lagi. “Saya mau ke Halmahera. Tepatnya ke Tabuji menemui anak-anak Pramuka. Mari kita sharing cost. Kita akan bawa buku-buku untuk menggalakkan gemar membaca. Wanna join?’
Bertujuh kami dari berbagai kota dari Jakarta, Bandung bahkan Kupang dan Kuala Lumpur tahu-tahu sudah berada di atas kapal laut menuju tempat yang tiada di peta sambil membawa banyak buku dari kawan-kawan lainnya. Ini bukan sekedar jalan-jalan biasa. Tapi kami mempunyai misi! Di kapal pula kami bertemu dengan para adik-adik Pemuda Penggerak Desa (PPD) yang akan menuju Dusun Tabuji juga.
Dengan cepat kami belajar bahwa kami yang ingin memberi inspirasi, ternyata justru musti belajar lebih banyak lagi di awal-awal. Dari adik-adik PPD yang masih muda-muda dengan semangatnya yang luar biasa. Mereka yang bertugas dalam setahun untuk menggerakkan desa-desa di Halmahera untuk lebih cerdas pun,  mengajarkanku akan kecintaan akan pendidikan, anak-anak pelosok Indonesia, tentu saja Ke-Indonesian kita semua. Meninggalkan keluarga dan kenyamanannya, mereka mengabdikan diri dengan sungguh-sungguh. Aku pun belajar cara mereka mendidik anak-anak supaya tertib, disiplin dan belajar dalam suasana menyenangkan.
Di Dusun Tabuji, belum pula kami turun dari Katingting (perahu dayung tanpa cadik, bermesin tunggsl), warga sudah menyerbu di bibir pantai menyambut kami. Hilang takut kami setelah satu jam menaiki Katingting terobati. Namun kejutan-kejutan lain berentetan yang meruntuhkan bulir-bulir airmata ke pipiku di menit-menit pertama menginjakkan kaki di Tabuji.  Oleh keramahan dan kebaikhatian warga dan anak-anak Tabuji.
Saat menuju rumah Bapak Kepala Dusun, beberapa anak berbaju seragam sekolah dan pramuka berbaris rapi menyanyikan lagu ‘Selamat Datang di Tabuji’ ciptaan dadakan Ibu Kepala SD Tabuji. Kagetku tiada terkira karena kami tiada berharap apapun. Kami hanya orang-orang biasa yang suka jalan-jalan! Berbelok arah, beberapa anak perempuan berbaju kebaya dan berdandan cantik menyambut dengan Tari Lenso, menari dan bernyanyi dengan anggunnya. Amboiii niiaan! Berbelok lagi, kami ditunggu Anak-Anak Pramuka yang (lagi-lagi) bernyanyi lagu tentang Tabuji dan berharap kami mengerti mereka dengan segala kondisinya. Ah adik-adikku berkah melimpah di negerimu….
Hingga saat akan tiba di rumah pak Kadus, tarian Cakalele disuguhkan Ibu Bidan, Bapak ‘Tua Parang’ dan sepasang muda-mudi sebagai pamungkasnya. Aku benar-benar menangis karena tidak menyangka akan disambut sedemikian rupa. Berulang-ulang kali ku ucapkan terimakasih kepada setiap yang ku temui.
Keesokan harinya kami bertemu dengan anak-anak di Sekolah. Sebuah ruangan sempit yang di sekat-sekat dengan lemari buku dijadikan tempat belajar secara bergantian oleh anak-anak Tabuji dari kelas 1SD hingga 2 SMP. Tapi lihatlah, di bawah bimbingan Para Kepala Sekolah, Bapak Guru Glen, Bapak Guru Jhon, Ibu Guru Yola, Bapak Guru Immanuel dan Ibu Guru Sartika yang kebetulan menggantikan Immanuel adik PPD yang sedang sakit, bakat-bakat bermunculan dari ruangan kecil ini. Elka yang ikut konferansi sastra di Bandung, semangat merajut mimpinya menjadi penyair dan sastrawan. Yusti memenangkan lomba penyuluhan kelautan dan bertemu langsung Menteri Susi. Levi, Olivia dan dua orang temannya mengikuti Olimpiade Science di Ibukota Kabupaten, Prisker si jago puzzle, dan banyak lagi jagoan-jagoan lainnya. Semuanya berniat mempunyai mimipi setinggi-tingginya, menggenggam erat dan menyimpan di hati.
Luarbiasa, karena Tabuji sangat terbatas. Jauh di pelosok negeri, tiada listrik disana dan transportasi terbatas. Air hanya didapat dari sumur dan sungai. Banyak serangga yang bikin gatal badan. Orang tua bekerja di ladang jauh di hutan atau bukit bisa berhari-hari,  berbulan-bulan. Sungguh semua bekerja keras dari anak-anak hingga orang tua.
Kembali aku belajar banyak dari mereka tentang semangat dan tetap bersuka cita.
Dengan kerendahatian, buku-buku pun kami serahkan. Dihadapan semuanya kami berkata bahwa buku-buku ini adalah sebagai pengingat kami pernah disini. Jika nanti membaca buku-buku, ingatlah kami juga melakukan hal yg sama. Anak-anak yang gemar membaca dan orangtua yang mendukungnya adalah harapan kami. Dan ikut mendoakan semoga sekolah baru, polindes(poliklinik desa) dan juga Taman Baca yang dlm proses pembangunan segera terselesaikan.
Kehidupan di Tabuji adalah kehidupan bersama orang-orang yang luarbisa hati dan semangatnya. Sepanjang di sana kami belajar, bermain, bernyanyi, menari di kesehariannya. Diantara pasir-pasir pantainya, di lautnya, di daratnya. Kami saling menyapa dan mengasihi sebagai sesama anak bangsa. Hatiku tertinggal disana bersama mutiara- mutiara kecil Halmahera Selatan.Kelak ku kan kesana kembali, menemui mereka kembali. Anak-anak manis dan para orang tua yg memanggil kami SABETA, Sahabat Beta.
Tabuji-2016.

image

Advertisements