Pulau Garaga  mulai menampakkan diri setelah satu jam-an kami duduk manis semanis-manisnya di dalam Katingting, perahu dayung tanpa cadik bermesin tunggal. Begitu manisnya, yang pasti akan membanggakan guru-guru TK jika punya murid semanis tingkah laku kami ini. Hihihi.
Tapi kami tertahan di pinggir pantai Garaga. Harus ada ijin khusus dari si empunya pulau yang khusus menernak dan memanen mutiara-mutiara laut dalam kerang ini. Ya ampun, temanku Ona  yang mencoba memotret pun langsung diberikan tatapan tajam oleh Opa-Opa dengan gestur melarang memotret. Selayang pandang, pulau ini dipenuhi karamba-karamba di sisi lautnya. Ada bangunan-bangunan dari papan yang menjorok ke lautan, dihubungkan dengan jalan kayu yang terapung-apung oleh drum-drum. Di daratnya ada bangunan-bangunan tembok besar. Sabar kami menanti pak Kadus meminta ijin.
“Ijin diberikan untuk hanya melihat-lihat di daratan dan dilarang bicara dengan para pegawai yang sedang bekerja,” kata pak Kadus jelas dan tuntas. Ya Tuhan. Ini sudah taruhan nyawa naik Katingting dan kami sungguh manis sekali! Ku liat wajah kecewa teman-temanku. Pulau ini kecil dan tidak sampai sepuluh menit kami berjalan sudah sampai ke ujung-ujungnya. Oh tidak, kami harus mendapatkan ‘pahala’ lebih!

image

    Diujung Pulau Garaga kami terhenti. Berpotret-potret asal ada kenangan kami pernah disini. Sesosok lelaki setengah baya yang selalu mengikutipun ku dekati. Ku perkenalkan diri sambil membuka peluang diijinkan memasuki sebuah bangunan yang menjorok ke laut. Adam namanya. Sempat ragu-ragu  tapi kemudian dengan tangkas memimpin kami semua menuju tempat pencucian  penambat kerang-kerang. Dengan ramah aku menyapa para pekerja yang sedang bersih-bersih yang untungnya diikuti yg lain-lainnya. Thanks God! Karena hati Adam entah kenapa menjadi luluh, oleh sikap manis dan bersahabat kami atau  ketololanku yg berpikir kerang-kerang itu akan di-barbekyu disini?

image

image

   “Mari!” ajak Adam kembali penuh bersahabat. Memimpin kami pergi lagi, menuju tempat peternakan dan pembersihan mutiara. Tepat di jantung kegiatan pulau ini. Hatiku bersorak gembira!Horrreee! Bahkan Adam mengijinkan kami berbincang dengan para pegawai, ikut-ikutan membersihkan kerang dan berjalan kesana-kemari di jalanan apung. Dan melihat para pekerja memanen kerang-kerang dari karamba. Dengan wajah jenaka, ku pinta ijin memotret dan anehnya Adam juga mengijinkan sambil tersenyum lebar. Aih untunglah namaku Ima bukan Eva atau Hawa! Dan Bapa Pendeta tak ikut serta. Bisa jadi Adam memintaku tinggal di Garaga ini.  Hahaha.

image

image

   Hanya di bangunan besar di daratan saja kami benar-benar tidak boleh memasuki. Karena di situ lah mutiara digarap menjadi produk-produk bernilai tinggi dan mahal sekali. Para pencari hidup di lautan itu akan hidup berbulan-bulan di  sini. Dan baru pulang setelah masa memanen usai. Beberapa akan tetap tinggal lebih lama  untuk memoles mutiara-mutiara. Satu ku temui dan pasti lebih banyak lagi di lautan Indonesia ini. Tuhan membagi adil rejeki bagi  yang mau berusaha di darat, laut bahkan udara.
Katingting membawa kami pergi lagi meninggalkan Pulaunya mutiara-mutiara, Garaga.
Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pulau Kadera. Pulau kecil  dan kosong, satu jam-an dari Garaga. Tempat kami akan ber-snokling ria . Air-nya jernih dan tidak terlalu dlm utk melihat karang-karang dan makhluk-makhluk manisnya. Temanku Yudi bahkan bercerita sempat berenang dengan hiu-hiu kecil. Sayang di beberapa spot tampak karang yang porak-poranda terkena bom ikan.
Halmahera Selatan, propinsi baru ini  bak mutiara, mempunyai kans untuk berkembang di wisata baharinya. Ketenangan lautnya sungguh mempesona bahkan untuk yang belum bisa berenang sekalipun. Disini pula untuk pertama kali aku mandi di sungai air tawar dalam dan lebar yang bergejolak diujung pertemuannya dengan lautan asin, Sungai Bilas.
Sebetulnya ngeri juga kalau memandang jauh ke dalamnya, pohon-pohon besar tampak dikiri-kanan melingkupi sungai dan makhluk-makhluk entah apa di jantungnya. Air sungai pun keruh. Aku hanya berkecipak-kecipak dan bermain di permukaan tak berani memandang ke permukaan bawah sungai. Walaupun pak kadus bilang tak ada buaya di sini dan Ona bilang buaya tak berani mendekat jika manusia berame-rame, aku tetap waspada dan tetap bersama-sama temanku semua.

image

   Sekembalinya ke Tabuji, beberapa teman melanjutkan bersnokling ria di pantainya. Yang konon katanya indah dengan karang-karang dan ikan-ikannya ditemani anak-anak Tabuji. Aku yang  sudah terpuaskan langsung menuju sumur Bapa Pendeta. Mandi langsung dari sumurnya karena sudah tidak kuat menimba dan mengangsur air ke kamar mandi. Satu, dua, tiga, empat  teman bergabung. Satu, dua, tiga, berbanyak anak-anak , mutiara-mutiara kecil Hamahera ini mengikuti.  Jadilah sumur di halaman rumah ini menjadi ajang mandi bareng-bareng.  Sekali lagi aku minta maaf kepada Langit dan Bapa Pendeta. Menengadah ke atas, takzim.

image

Advertisements