Perahu yang membawa rombongan kami mendarat mulus di Pantai Mata Air Belanda. Mengapa ada embel-embel nama Belanda terjawab ketika kami menjejakkan kaki ke air…bbbrrrr dingin sekali terasa air lautnya. Mungkin penduduk menamainya untuk mengasosiasikan dengan hawa dingin Eropa atau…makjleb! Mataku melihat sebuah kuburan di belakang pohon besar. Tak jauh dari situ teman-temanku berendam di mata air tawar, bersenang-senang.  Apakah mereka tidak melihat kuburan itu, atau mereka para pemberani semua? Aku buang jauh-jauh rasa ingin tahuku dan langsung bergabung dengan mereka semua. Berendam, bercanda siram-siraman air, mencecap air tawarnya dan tentu saja ber-narsis ria dengan berfoto-foto. Kecuali temanku Icha yang kebetulan suka gendong-gendong bayi, dia menolak sering-sering foto di air tawar dan mendekati si pohon besar.
Satu jam-an kami di Pantai Mata Air Belanda. Hingga menyelusup jauh ke dalam bendung air tawar yang masih banyak pohon-pohon rindangnya. Juga ke bukit-bukit batu besar yang sayangnya sudah di-corat-coret dan berpose gila-gilaan. Yang tampak kepala doang-lah. Yang lidah melet dengan mata nanar-lah.  Gembira dan tak terjadi sesuatu apapun.
Kemudian kami menuju desa untuk menaiki puncak bukit di desa, ditemani Kepala Adat yang juga Kepala Desa. Saat bertemu, hanya kepalaku yg diusapnya. Icha diajak salaman tapi beliau  matanya tersenyum ntah kepada siapa dibelakang Icha. Dan bayi Bebe yang masih orok diberinya ikat kepala. Kami pun berjalan menuju bukit untuk menikmati keindahan Pantai Ora dari atas bukit.
Kembali ke desa, rombongan kami terpisah. Sebagian besar menikmati es kelapa di warung. Aku dan Icha memilih bergabung dengan Ibu-Ibu yang sedang menikmati senja hari di pinggir pantai. Mereka pun menanyakan kemana kami pergi hari ini. Ku jawab dengan gembira salah satunya ke Mata Air Belanda.
“Kalian tidak berendam kan?” tanya seorang Ibu tiba-tiba.
“Berendam.”jawabku dan Icha berbarengan.
HENING. SUNYI.
Ku liat ekspresi  tak percaya di wajah mereka. “Ga papa kan Bu? Kami berendam. Saya juga liat kuburan tadi. Kuburan siapa ya? Orang sini atau orang Belanda?”
HENING. SUNYI.
Ibu-ibu mendadak sibuk dengan apa yang dipegang atau diliatnya.
“Ibu… teman saya tanya, kuburan siapa Bu?” Icha dgn lembut bertanya kembali.
Dan Ibu yang paling jauh pun menjawabnya,” Tidak apa-apa. Tidak apa-apa… itu kuburan orang sini.”
Malamnya teror melanda. Dimulai dari kamar Tante Mercy yang tidak ikut menaiki bukit dan memilih tinggal di resort, malam itu Tante merasa ketakutan sekali. Dia ‘merasa’ ada ‘sosok yang hadir’ di kamar hingga perlu menghidupkan semua lampu dan sangat takut duduk-duduk di beranda yang menghadap ke laut. Hal yang sebenarnya biasa beliau lakukan.  Beberapa rumah darinya tepat pukul dua dinihari aku terbangun oleh sosok hitam tinggi besar yang berada di kamar. Dan pada saat yang bersamaan  bayi Bebe langsung menangis kencang. Hinggapun mamanya bangun menenangkan dia tetap menangis. Refleks aku berdoa dalam hati dengan ayat-ayat yang aku kuasai. Rasanya ingin menubruk Deasy yang pulas tidurnya tapi aku tidak mau mengagetkannya dan juga mama bayi Bebe. Panas. Dan waktu terasa lama sampai sosok itu pergi.
Paginya, Icha bercerita bahwa dia tak bisa tidur semalaman karena terganggu suara bisik-bisik orang-orang dan hawa sangat panas. Sebelumnya saat memasuki kamar bersama Ona teman sekamarnya,  posisi barang-barang sudah berubah dengan rapinya. Bisikan dan lalu lalang orang banyak sangat mustahil di Resort Ora yg eksklusif.
“Onaaa!!!!”teriakku saat ingat sesuatu, “Aku tanya sama kamu saat di Mata Air Belanda. ‘Itu apa Nath?’. Tapi kamu jawabnya dengan genit-genit mata muter-muter bilang kasih tahu ga ya…Ketawa ‘hihihi’ lagi!”
Ona melongo. Merasa tidak pernah ada pembicaraan itu. Dan hanya aku dan Cicik dari banyak anggota rombongan yang melihat kuburan itu.
Akhirnya Icha dengan lunglai bercerita juga bahwa dia menolak foto-foto dekat pohon besar di Mata Air Belanda karena bayi Bebe yang digendongnya selalu gelisah dan matanya kesana-kemari setiap mendekati pohon….

image

Advertisements