Katingting.
Alat transportasi warga Tabuji, Halmahera Selatan dari pulau ke pulau . Digunakan saat transportasi darat tidak memungkinkan. Sepertinya ia merupakan hal yang jamak di wilayah ini.
Katingting.
Sebuah perahu dayung tanpa cadik, yang dioperasikan dengan mesin tunggal dan baling-baling kecil. Sekali naik di atasnya, keseimbangan badan akan teruji. Sekali naik berame-rame, pengaturan sesuai berat badan, koordinasi dan kerjasama para penumpang sangat diperlukan. Tidak boleh bergerak-gerak. Sekedar meluruskan kaki ataupun bergeser sedikit harus berhati-hati karena perahu akan bergoyang hebat. Tiada pelampung atau pengaman apapun. Pertama kali melihatnya aku tertegun. Menyadari akan menaikinya dari Pelabuhan Lawui di Pulau Obi menuju Dusun Tabuji, entah karena kepalang tanggung ataupun tidak  mungkin kemana-mana lagi, kami bersebelas dengan bawaan buku-buku berat, hanya berucap doa yang tak amin-amin bacaannya. Pasrah.
Di perjalanan pertama yang begitu sunyi, aku usir ketakutan dengan mempermainkan lidah di bibir. Dengan begitu dekatnya permukaan laut, air serasa menampar-nampar muka hingga terasa asin jika bibir dijilat. Mendadak salah satu teman yang merupakan guru relawan di pelosok Halmehera dan duduk didekatku berbisik, “Yang bawa katingting ini bisu dan tuli”. Maaakkk…. Ku tenangkan diri dan kusimpan rapat rahasia ini.
Perjalanan kedua saat plesiran ke pulau-pulau terdekat. Menjauhi agas-agas aku pun ikutan naik lagi.  Langsung naik bersama tiga orang teman perempuan lainnya ditemani Pak Kadus (Kepala Dusun), aku lega karena yang membawa Katingting kali ini bukan si bapak Bisutuli (senyata-nyatanya bisu dan tuli).  Apalagi dia memakai kaos kampanye bertuliskan ‘Pilih!Coblos BIS4! Ah amaaan. Katingting BIS4 kami selalu kalah dengan BisuTuli yg entah kenapa selalu ngebut dan rajin bermanuver. OMG! (Kelak dikemudian hari aku tau, pak Bisutuli yang mengandalkan gerakan bibir lawan bicara mengartikan teriakan-teriakan kami sebagai bentuk kegembiraan! Ampun Dijeeee!).
Untunglah katingting BIS4! normal-normal saja meski lambat.  Sampai kemudian di Pulau Kadera pak Kadus bilang bahwa si pak BIS4! tidak bisa berenang! Maaaakkkk! Dua teman perempuan di depanku nyata-nyata tak bisa berenang! Si Butet yang paling depan entahlah. Maaakkkk! Teman seperahu sampai memastikan dengan bertanya langsung dan si bapak BIS4! dengan malu-malu mengiyakan! Kalo digoda mau diseret kelaut si Bapak BIS4! lari-lari menjauh. Atuuuttt.  Maaaaakkk!
Di hari terakhir kondisi jalan darat tetap tidak memungkinkan. Naiklah kami Katingting yang ketiga dan terakhir kali. Hujan gerimis tiba saat kami hendak berangkat. Kami terus berdo’a. Ketingting BIS4! bertugas membawa barang-barang bawaan kami minus buku-buku dan hadiah-hadiah sekalian lima orang lain yang bisa berenang. Kalo ada apa-apa toh barang-barang ini. Paling pak BIS4! yang kudu diselamatkan.
Katingting pak Bisutuli  membawa delapan orang  semua! Dengan segala kelebihan berat badannya dan kekurangannya yang tak bisa berenang. Sejauh ini perjalanan lancar namun tetap sunyi. Hingga kami melihat Katingting BIS4! berbelok ke dermaga sebelum Lawui. Katingting Bisutuli tetap melaju dengan gagahnya membawa delapan orang yang sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga saat pelabuhan Lawui terlihat, suara yang aku takutkan terdengar. Det…deett..  deeettt…dettt. Maaaakkk maaaakkk! Jangan sekarang! Please, please…. Katingting Bisutuli mati mesin karena kehabisan bensin! Panik!
Tapi ada yang bercanda dengan menggoyangkan badan dan mendayung dengan sendal jepit. Aku yang biasanya doyan bercanda mendadak jadi marah dan dengan tegas mengomeli si pembuat onar sembari menenangkan orang-orang agar tidak panik. Teman di depanku sudah mewanti-wanti semisal ada apa-apa minta diselamatkan. Teman di depannya yang juga tak bisa berenang lupa kalo yang bawa bisu dan tuli terus merepet menyesalkan kenapa si Bapak Bisutuli tidak bilang-bilang kalau bensin kurang dan menyebut nama Tuhan setiap perahu bergoyang. Setiap yang bercanda ku bentak sambil tetap meminta orang-orang mengatur keseimbangan. Entah berapa lama kami terombang-ambing hingga Katingting BIS4! melaju dengan anggunnya sambil melempar segalon bensin. Mak…aku selamat…
Katingting Bisutuli pun melaju lagi menuju Lawui. Aku yang terakhir turun. Dan sambil tersenyum sebelum benar-benar turun dari Katingting aku pun mempersembahkan Tari Lenso diiringi derai tawa kelegaan teman-teman semua

🎶🎵 Tari Lenso, Tari Lenso so tari dari Ambon.Tarian asli…tarian asli anak Maluku.
Lenggang ke kiri, lenggang ke kanan, putar badan sama-sama
Untuk menghibur, untuk menghibur hati yang pilu 🎼🎵🎻.

image

Advertisements