Kembali dari Selatan menuju Utara, aku pun menebus apa yang terlewatkan di perjalanan ke Selatan sebelumnya. Semakin ke Utara semakin lengkap dan berkembang sarana dan prasarana. Semisal rumah sakit atau tempat-tempat penting lainnya seperti bank,  toko, restoran dan lain-lain. Jadi aku sepenuhnya sadar dengan ‘baterai di punggung full charge’.
Tentu saja ada rasa sedih di hati. Malam sebelumnya warga Tabuji mengadakan pesta perpisahan yang sungguh meriah. Kami disuguhi pentas drama mengenai ‘Pentingnya Bersekolah’, kolaborasi anak-anak SD dan SMP Peduli Bangsa Tabuji. Tari-tarian dan nyanyian. Juga sebongkah Batu Obi! Kami persembahkan Tari Lenso sebagai balasan, yang kami pelajari mati-matian. Menari sambil menyanyi sungguh berat buat aku, apalagi pas bagian duduk dengan lutut menyentuh tanah.  Amboi encok nian….  Dilanjut dengan Tari Poco-Poco diiringi ‘salon’ (sejenis pemutar musik dengan tenaga batu baterai) kepunyaan Seera si anak paud. Mantap lah kami bergoyang pica-pica, mangana body, poco-poco. Hahaha. Dalam sejarah baru pertama kali pula aku ditembak untuk ‘Standup Comedy’.  Sial bener Jim A dikerjain Jim B!
Tapi kami harus pergi untuk melanjutkan mimpi-mimpi kami. Perpisahan memamg tak pernah menyenangkan. Hicks. Sedih.
Perjalanan pulang sudah ditunggu dengan peristiwa alam spektakuler- Gerhana Matahari Total! Aku bersyukur mengalaminya sendiri walapun tidak benar-benar gelap total di Halmahera. Melihat matahari tertutup bulan dan alam di pagi pukul 10 seperti halnya waktu maghrib sungguh luarbiasa. Hal yang sama hanya akan terjadi 300 tahun kemudian di orbit yangg sama! Jadi nikmat mana lagi yang hendak kau dustakan? Di sini di Pelabuhan Lawui, Pulau Obi 09.03.2016.
Di Pulau Madapolo aku pun turun kapal untuk menikmati Cilok Legendaris yang ternyata racikan priyagung dari Nganjuk! Dalam bahasa jawa, Ibu Cilok bercerita terdamparnya di Halmahera untuk bertani tapi hasilnya tak memadai. Ibu Cilok pun alih profesi sebagai tukang gorengan untuk biaya-biaya anak-anaknya kuliah di Jogja. Khas Jawa sekali, istilahnya jual pintu pun dijalani yang penting sekolah,sekolah,sekolah. Kapal singgah sebentar disini…tidak sempat berfoto kami hanya bersalaman dan saling mendoakan.
Kapal Obi Permai yg kami naiki mirip-mirip dengan kapal pertama kami. Tapi kami ada sewa kamar ber-AC jadi tidak terlalu backpackeran sekali. Aku termasuk yang memanfaatkan fasilitas ini. Di persinggahan terakhir sebelum sampai Ternate, Pulau Bacan,  kami tidak banyak meng-eksplorenya. Sesorean kami asyik bicara tentang dunia pendidikan dengan Kepala Diknas dan Kepala Sekolah dari Tabuji. Wah serius sekali!
Ada istana  Kesultanan Bacan tapi kami tidak bisa masuk karena hari sudah gelap. Kami hanya berfoto-foto di depan Istana dan memotret sebongkah besar batu bacan di halaman istana. Kami juga pergi ke Jembatan Batu Bacan, sebuah jembatan yang lantainya dari Batu-Batu Bacan. Temanku bercanda kalo ini di Jakarta pasti sudah habis dicongkel orang! Hu hu hu. Bener sih!
Selamat Tinggal Selatan dan Utara. Mutiara-mu, Seribu Keindahan di Lembaran Alammu telah terpatri dihati. Kami ingin kembali menikmatimu lagi. Karena Tidore, Maitara bahkan belum kami jamahi.
Ijinkan kami pergi ke atas, ke Timur lagi. Di mana berada Negeri Tuhan Raja,   ‘Si Tou Timou Tumou Tou’. Manusia Hidup utk Memanusiakan Orang Lain. Menado.

image

Advertisements