Khasiat obat tidur yang ku telan sedari Ternate mulai memudar. Seorang petualang dengan tas di punggungnya memilih mengistirahatkan jiwa dan raganya saat menuju ke Selatan, Halmahera. Lamat-lamat aku mendengar suara-suara kebisingan, khas keramaian pada sebuah angkutan umum. Orang-orang berjual-beli. Suara lalu-lalang langkah kaki. Suara anak-anak menangis, adapula yang bersenda -gurau. Obrolan-obrolan tak jelas orang-orang dewasa. Kapal seperti-nya sedang bersandar entah di mana setelah bertolak dari Ternate semalaman. Sedaya upaya ku kumpulkan nyawa yang ku simpan dengan hati-hati untuk di Dusun Tabuji nanti. Oh semesta raya, berkumpulah di kapal Sumber Raya ini segera.
Saat mata terbuka, perut langsung bersuara minta diisi. Pukul dua siang. Ku lihat wajah kelegaan teman-temanku yang cemas kalau-kalau aku tak bangun lagi. Mereka sibuk bercerita tentang pulau tempat bersandar kapal sekarang ini dengan makanan-makanan lezat-nya, terutama ciloknya yang legendaris. Tentang sekelompok bocah wanita yang habis mengikuti olimpiade sains di Pulau Bacan dan menunjukkan sudut-sudut Pulau kecil ini, Madapolo. Tentang para bocah pencari koin yang lincah berenang dan terjun dari atas kapal. Aih teman-temanku ini benar-benar petualang sejati yang tahan banting! Banyak yang ku lewatkan tapi aku bisa menebusnya kembali nanti.
Raung kapal mengingatkan para penumpang bahwa kapal akan melaut kembali. Dan perlahan-lahan kapal meninggalkan dermaga Madapolo. Aku pun berlari-lari ke buritan kapal mencari apa saja yang bisa dibeli. Melempar uang untuk mendapatkan lima buras dan…sekantong cumi? Aku tertawa. Dalam ketergesaan aku memilih cumi tint hitam dan pastinya tidak cocok dengan buras. Ku makan satu buras untuk kemudian sisa utuhnya kuberi pada gadis kecil yang tidur di kolong bersama keluarganya. Aih dia manis dan pintar sekali meminta persetujuan orangtuanya sebelum menerima pemberian orang asing, yang sebenarnya mengkonsumsi obat tidur pula. Hahaha.
Backpackeran bisa jadi karena pilihan sendiri tapi bisa juga karena kondisi sebenarnya tidak memungkinkanmu menikmati fasiltas ‘cantik’ selama dalam petualanganmu. Gunakan insting untuk menjaga diri melewati ujian-ujian di luar ekspektasi. Ukur diri sendiri.
Di kapal ini pula aku dan teman-temanku bertemu dengan anak-anak muda yang sudah tertempa dengan keadaan yang serba terbatas di pelosok Halmahera. Mutiara-mutiara awal yang kutemukan di Halmahera. Kemudaan, keriangan dan kisah luarbiasa pengabdian mereka seperti charger yang mengisi ‘baterai di punggungku’ kembali. Semangat!
Selebihnya adalah sukacita merayakan setiap momen kebersamaan kami. Bagaimana kami harus hidup dengan minim penerangan di malam hari. Aku yang takut tidur dalam gelap harus melakukan ritual ‘melihat dalam remang-remang setiap benda-benda dan makhluk-makhluk di kamar’ dan mengobrol sebelum benar-benar jatuh tertidur. Sebenarnya rumah Bapa Pendeta cukup terang benderang dan luas, tapi Beliau sdh mewanti-wanti: tak boleh ada perempuan yang tidur di rumahnya selama Beliau pergi keluar dusun berhari-hari. Hal yang biasa ku temui juga dalam agamaku, pemisahan wanita dan pria untuk mencegah dosa. Baiklah, Bapa Pendeta…tapi ampunkan aku yang tetap tidak bisa menggunakan kamar mandi berbilik papan bolong-bolong ini. Hicks. Jadi karena larangan hanya untuk tidur, aku pun dengan sadar memakai kamar mandi di rumah Beliau,setelah sebelumnya harus menimba air dari sumur di halaman depan rumah sana. Kamar mandi yang suka macet pintunya dan mau tidak mau aku harus meminta tolong teman-teman priaku membukanya dari luar.
“Bukain dong…,” pintaku memelas. Oh. Maafkan aku yang di Langit…tidak bermaksud….
Belum lagi ditambah berjibaku dengan serangga-serangga ganas seperti semut, anjing tanah (sejenis jangkrik tapi putih keperakan) dan pasukan agas (nyamuk super kecil) yang meninggalkan jejak-jejak di tubuhmu. Bentol. Merah. Gatal, yang anehnya semakin digaruk semakin nikmat namun akan meninggalkan bekas. Hanya dokter ahli yang bisa meracik obat manjur penghilang luka dan bekas gigitan serangga ini. Selama blm ada obatnya, aku liat diri sendiri dan teman-teman berubah jadi monyet garuk sana-garuk sini. Pun begitu kami masih tertawa tanpa getir dihati.

image

Advertisements