Perjalanan ini bukan untuk yang tidak tahan banting! Perjalanan ini benar-benar backpacker-an dengan minim fasilitas. Perjalanan ini hanya butuh tiket pesawat dan selebihnya biaya ditanggung bersama. Harus bawa obat-obatan pribadi, P3K dan dilarang membawa perhiasan. Semuanya  jelas tertulis di Itenerary. ‘Sekelam dan Sekelabu’ apakah perjalanan para petualang dengan tas di punggung ini?
Dan tahu-tahu aku sudah berkelana di dini hari dari bandara ke bandara  bersama  7 (tujuh) orang temanku dari berbagai kota:  Jakarta, Bandung, Kupang dan Kuala Lumpur menuju ke kota Ternate di Maluku Utara. Hanya singgah beberapa jam di Ternate untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke destinasi akhir Pulau Obi di Halmahera Selatan.
Fleksibilitas dan ketahanan teruji pertamakali  di bandara dengan mandi di tempat umum yang tentu kita harus bertenggang rasa terhadap pengantri lainnya. Juga apapun ‘barang-barang’ yang mungkin ditinggalkan mereka. Jika tidak ada fasilitas toilet untuk mandi, terpaksalah membersihkan diri di wastafel. Alakadarnya.  Sementara untuk tiduran, hanya mengandalkan bangku-bangku bandara atau pun duduk selonjoran di lantai. Aku masih bisa!Hahaha.
Ujian yang kedua adalah saat tiada tempat dituju seperti hotel untuk sekedar istirahat dan membersihkan diri. Kami hanya beberapa jam di Ternate, malamnya kami bertolak dengan kapal laut ke Obi. Di kali kedua ini aku merasakan manfaatnya menyumbang PMI. Bak durian runtuh, sopir kami juga bekerja di PMI dan mengijinkan kami membersihkan dan menyegarkan diri di kantornya.  Badan sudah lengket dan bau pastinya. Makasih.Makasih.Makasiih! Tapi terus terang aku mulai layu. Hahaha. Bisa…aku masih bisa kok….
Di malam harinya dengan sisa-sisa kekuatan yang ada dan  ditambah beban barang yang kami bawa, aku sudah lunglai sebenarnya. Hanya ‘baterai’ terpasang di punggungku bermerek  ‘suka cita ‘ masih ‘menghidupkanku’.  Namun perlahan-lahan padam seiring aku memasuki kapal laut. Kapal besar ini adalah kapal antar pulau tempat mengangkut manusia dan barang-barang, segala barang. Kau bisa temui sepeda motor terbaru, furniture, pendingin-pendingin ikan, seng-seng,  semua ada. Manusia-nya ditempatkan di sebuah dek dengan tempat tidur atas – bawah. Sempat panik, syukurlah kami semua di bagian atas beratap langit-langit rendah kapal bukan di bagian kolong yang bikin sesak nafas. Ada yg ‘eksklusif’ sebenarnya, ber-AC dan tersekat kamar-kamarnya, tapi sudah habis dan jelas menyalahi ruh atau spirit jalan-jalan kali ini: Tahan Banting! Tas Di Punggung!
Penjual berbagai barang dan makanan lalu lalang. Kau mau beli kain sepanjang 5 meter, selebar 5 hektar pun ada.  Oh my…aku…aku tidak bisa…hiks. Semua ruangan di kapal dibikin tempat tidur tanpa sekat. Sendal harus diselipkan di kasur jok, kecuali mau hilang sebelah atau dua-duanya. Kami harus ganti-gantian menjaga barang (untunglah para cowok so sweet mo ngeronda trusss). Pastikan tidur dengan baju tertutup karena ini ruangan benar-benar terbuka dan semua berkumpul, pria dan wanita. Jangan lasak, jangan banyak gerak. Soal ngorok,  wassalam. Malu ditanggung belakangan! Janjiku untuk melihat bulan dan bintang di laut, melihat segala suasana di hari terang, gombal semua. Teringat cerita kondisi dusun yang akan ku datangi tidak akan lebih baik , aku pun menelan obat tidurku untuk menjaga kondisi tubuhku. Dan memilih untuk membawa segenap energiku di Dusun Tabuji nanti. Aku tidur hingga Pulau Obi dan dibangunkan oleh Katingting yang menyegarkanku lagi.
Petualang dengan tas di punggung, ternyata tidak hanya jiwa tahan banting saja tapi juga kepandaian utk menyiasati keadaan untuk tetap bertahan! Catet! Hahaha. Masih ada esok hari saat aku pulang nanti, aku akan menebusnya kembali.

image

Advertisements