Hari beranjak gelap saat aku dan teman-temanku tiba di Desa Sendang Biru, Malang. Kami berencana plesiran ke Pulau Sempu esok harinya. Hanya Dessy yang menjadi tumpuan harapan karena kami berempat lainnya hanyalah sekelompok ‘hore-hore’ dengan minim pengetahuan tentang Sempu. Imbauan Dessy untuk googling Sempu sebelum pergi pun tak kesampaian ditengah-tengah kesibukan-kesibukan kerja.
Sebuah mess di tepi pantai menjadi satu-satunya pilihan kami. Mess dengan beberapa kamar luas  dan koridor panjang ini bikin merinding karena bentuknya yang kuno dan pencahayaan yang super duper remang-remang. Hiiiiii
“Ini jadi apa tidak, tak iye?”tanya Ibu-ibu tua kurus  penjaga mess bermata tajam dengan logatnya yang kental. Dia tidak sabar dengan kami yang terus menimbang-nimbang, padahal sebenarnya tak lagi ada pilihan. “Kalo dijadi yasaya bersehkan markamar termasuk sprei”, lanjutnya dengan tajam. Diambilnya sapu lidi dipojokan saat kami mengiyakan dan …. sreet…sreet..sreett… tak ada lima menit di sapunya koridor dan bilang mau pergi mengambil sprei. Kami melongo sambil berpandangan, “Begitu doang?”
Kami pun berebutan mengecek kamar-kamar dan toilet-toilet. Semut ada di mana-mana. Toilet menakutkan, dengan penerangannya yang suram dan langit-langitnya yang tinggi tanpa eternit. Sampai kami pun rela berdua-duaan di toilet. Di kamar banyak peringatan ‘awas kalo nyolong sprei, lampu dan remote!’ nah tipinya kaga ada! Air kran mati! Berebutan pula kami melapor ke Ibu Tua penjaga mess saat datang lagi dengan sprei-sprei di tangan. Kikikannya sungguh membuat kami merinding saat dia berkata, “Air mati? Kayak manusia saja bisa hidup, mati, jalan-jalan juga? Semut ada dimana-mana di kota, di desa”. Waduuhhh….
Begitu si Ibu Tua keluar dengan janji menghidupkan air mati, pake seringai mengejek lagi, tanpa dikomando kami pun langsung memindahkan kasur-kasur ke koridor mess bersama-sama. Kami harus tidur bareng-bareng! Titik! Derita tiada berakhir saat hujan deras mengguyur desa. Remang-remang, sunyi di sekitar, bayangan-bayangan berkelebatan, kengerian kalau-kalau ada nenek-nenek tua bawa sekop, bikin bulu kuduk ini berdiri saat mencoba memejamkan mata. Derasnya hujan dan gelegar guntur.
JEDER!
“Aaaaaaa tolooongggg..”,teriak temanku Chris ketakutan setengah mati.  Seekor serangga berterbangan membuatnya ketakutan, apalagi ditambah cicak-cicak yang disebutnya ‘Lizard’. Ya Tuhan, ngagetin! Ku liat Dessy ‘Wanita Perkasa nan Pemberani Bersapu Lidi’ sudah naik-naik kursi mengusir hewan-hewan itu untuk Chris. Hmmm…makasih Des…Zzzzzzzz
Hari cerah, tanah basah saat lima perempuan dan dua pria guide kami menuju Pulau Sempu. Terkejut! Itulah yang kurasakan. Jauh dari bayanganku, untuk sampai ke Segara Anakan, sebuah Laguna di tengah Pulau Sempu, kami harus menembus hutan konservasi yang lebat dan yang menurut situs resmi yang ku baca setelahnya, tempat hunian habitat Lutung Jawa, babi, rusa dan sejenisnya! Seorang teman yang mengingatkan lewat SMS apakah yakin membawa Chris masuk hutan tak menyadarkanku akan beratnya medan hanya karena tidak tahu! Chris yg sudah ragu-ragu di awal akhirnya tetap ikutan setelah ngeri mendengar argumenku ‘Ikut Sempu vs Ibu Mess Di Sebelah Lo’. Dan juga mendengar janjiku menjaganya dari monyet-monyet di hutan. Chris memang lain dari kami semua karena pembawaannya seperti turis dari Hongkong. Hihihi, kuku pun dikuteks indah bo!
Jatuh bangun kami menembus hutan lebat yang basah oleh hujan semalaman dan pohon-pohon besar bertumbangan. Guide lokal kami harus bersabar dan mengerem langkahnya oleh kami yang kepayahan. Tak sanggup memenuhi janjiku menjaga Chris, sahabatku ini dibantu para pria dan Retha, temanku lainnya. Sandal copot, tanah basah, medan berat benar-benar membuatnya cranky berat.
“Ini lantai licin Imaaa! Bisa-bisa aku sliding!!!” jawabnya cranky saat ku tunjukkan jalan yang lain buat melangkah. Yah.. tanah hutan lebat begini dibilangnya lantai. Perlu ‘super pel’ ga yaaa. Bechek2 gha adha ozekkk. Hihihi. Dessy dan Siska pun mendekatiku sambil berbisik takut dan merasa tidak enak hati apakah kami telah mengajak org yang salah.
Dengan mimik prihatin aku berucap “Tidak apa-apa teman. Palingan aku tidak akan diajak bicara sama dia selama enam bulan”. Hihihihi.
Beauty is pain, right? Segala derita dan daya upaya terjawab saat tiga jam kemudian kami mendengar deburan ombak di kejauhan. Tirai alam berupa daun-daun pepohonan rendah yang kami sibakkan memberikan pandangan spektakuler dari atas dataran tinggi hutan. Segara Anakan. Surga! Laguna yang diapit bukit-bukit karang itu sungguh jernih dalam sunyi syahdunya. Deburan ombak Pantai Sendang Biru disebaliknya teredam ganasnya oleh bukit-bukit karang yang menyisakan sebuah lobang karang tempat air laut dan telaga berpadu. Karang Bolong. Pohon-pohon besar di seputaran Laguna membuatnya semakin terasa eksklusif, tersembunyi, hanya untuk mereka yang sudi melihatnya setelah melalui percobaan beratnya….
Berlari-lari kami menuruni dataran tinggi hutan menuju tepian Segara Anakan dengan pasir putihnya. Berenang-renang, bergembira ria meluapkan keberhasilan kami. Sedikit nakal, bahkan aku, Dessy dan Retha ditemani Bung Ricky guide kami, menaiki karang-karang untuk melihat Lautan Selatan yang ganas. Tetap waspada dan hati-hati karena angin sangat kencang sekali. Teringat cerita Ibu Mess tentang banyaknya yang jatuh dan mati di karang-karang ini. Walau sosoknya dan ceritanya tidak menakutkan lagi, kami tetap berhati-hati.
Lautan di balik karang bergelora menakjubkan. Tak henti-hentinya ia menabrakkan diri ke bukit-bukit karang. Dan nun jauh di sana sebuah batu karang, sendiri muncul di tengah-tengah lautan.
Puas. Kami banyak tersenyum di sini. Merayakan pertemanan kami. Indah sekali Sempu. Indah dan sangat berkesan karena aku menjalaninya dengan teman-teman terbaikku.

NOTE:
Beberapa tahun belakangan ini saya mendengar keindahan Sempu telah dirusak oleh para pelancong dengan meninggalkan sampah-sampah disana-sini. Sangat sedih rasanya mendengarnya. Larangan dan imbauan mendatangi Sempu pun ramai dikumandangkan di Jagat Dunia Maya. Dan saya mendukungnya sebelum ijin yang memang harus dikeluarkan aparat desa setempat diperberat dan dicek barang-barang pelancang. Sempu sendiri sebenarnya daerah konservasi dan konon kabarnya tempat latihan TNI AL. Saya membayangkan ‘pemilik’ Sempu yang asli, yakni para satwa hidup di alamnya yang asli bak surga tanpa gangguan manusia.

Advertisements