Setelah lima hari menjelajahi Bali, Lombok dan Madura, aku dan empat orang rekan kerjaku masih punya sisa waktu satu hari lagi di Surabaya. Sebelum balik Jakarta dan untuk memaksimalkan cuti yang telah diambil, kami memutuskan pergi ke Batu, Malang. Dessy yang memang pernah kuliah di Surabaya, sangat tahu medan dan siapa yang harus dihubungi untuk petualangan seru kali ini: Paralayang di Gunung Banyak, Batu, Malang.
Wow! Ini termasuk jenis olah raga ekstrem dan menjadi super duper ekstrem untuk penyandang obesitas seperti ku! Hicks! Dalam perjalanan ke Gunung Banyak, temanku Siska tak henti-hentinya membahas mengenai ‘Korelasi Antara Berat Badan dan Tingkat Keberhasilan Melayang di Udara’. Diakhiri kata-kata “Mengerti, mba Ima?” Wingardium Leviosa! Teorimu canggih tak terkira!!! Belum lagi mengenai kemustahilan diperbolehkannya paralayang bagi ‘Gerombolan Si Berat!’
Mules perut akibat takut gagal daftar, membuatku duduk memelas di pojokan mobil. Berasa semakin parah mulesnya tiap kali Siska bicara berat badan dan bertanya dgn mimik serius berapa sebenarnya berat badanku. Yang memang ku simpan rapat-rapat hanya untuk yang berkepentingan seperti dokter, tukang jahit dan calon suami…hicks! Ampun Jendraaallll….
Perjalanan darat menuju Gunung Banyak menemui adrenalin-nya ketika mobil harus mendaki jalan dengan ketinggian 1300dpl. Jalanan sempit hanya cukup satu mobil. Aku tak tahu bagaimana koordinasinya yang di atas dan di bawah karena kanan-kiri jurang. Sesekali ada motor yang lewat, nanti aku tahu itu adalah ojek yang naik turun mengantar para penikmat paralayang. Lebih ekstrem dari mobil, dengan ojek kalian harus melewati jalan tanah perbukitan bak titian serambut dibelah-belah, berkelok-kelok berbatas bukit di kanan, jurang di kiri. Dengan ongkos hanya ‘maribu’ perak, aku bahkan rela memeluk pinggang Kang Ojek saat naik ke Gunung Banyak lagi setelah paralayang mendarat. Disertai wanti-wanti supaya dia kasih tahu pacarnya bahwa aku kastemernya. Kasihan juga kan kalo Kang Ojek putus cinta gara-gara salah sangka. Sakitnya tuh diciniiii. Hihihi.
Sampai di Spot Paralayang, kami telah ditunggu Para Tandem. Mereka-lah yang akan menemani kami berparalayang secara tandem. Setelah ‘di-terror’ dan ‘diceramahi’ selama perjalanan betapa terkejutnya aku begitu tahu hanya aku dan Dessy yang pasti main!!! Mama Boss dengan alasan yang paling dituakan, Batal! Oke deh Yang Uyyuuut, huh! Titis si Ceking dengan alasan phobia ketinggian sambil pasang muka kasihan plus memelas, Galau! Wek! Siska si ‘Aku Memang Gendut Tapi Gak Segendut Mba Ima’ dengan alasan pengiritan buat kawin ntar-ntar, BATAL! Apppaaaa???!!! Mereka pun melipir menjauh (sambil cekikikan) melihat mataku yang melotot tak percaya. Zoom In-Zoom Out.
Satu hal yang benar, berat badan memang menjadi persoalan untuk menentukan batas patok yang boleh terbang tandem dan siapa partner-nya. Rumus ala bodohku, semakin gendut dan amatir-nya wisatawan diperlukan Tandem yang lebih kurus namun kuat dan sangat berpengalaman! Itulah mengapa olahraga ini ekstrem karena bisa berakibat fatal jika gagal terbang. Oke deh, Kakak Tandem! Kalkulasi berat badan, check! Jumlah? Rahasiaaa. Cara berlari dan menunduk yang di depan saat di tepian jurang?Check! Helm terpasang, check. Kaitan parasut, check. Cara naik-turun parasut, check. Kondisi parasut, check.Keteguhan hati, check sambil hicks!
Di antara deru angin pegunungan lamat-lamat aku mendengar instruksi ‘One Two Three Go!’ Berlari kencang bersama Sang Tandem, aku pun sempat tertegun ragu dan ngeri di pinggir jurang. Kurang dari sedetik sebuah sodokan halus di paha, suara jerit tertahan orang-orang, saat parasut kami merosot. Ku liat pohon-pohon cemara begitu dekat. Ya Tuhan…mati aku… ampuni dosaku…
Wusss….Bak film kartun, parasut kami kembali naik melewati puncak-puncak cemara oleh Sang Tandem manis dengan pengalaman dan keahliannya. Ajaib!!!!
“Aku terbang, aku TERBANG!” teriakku heboh di angkasa Batu, Malang. Campur baur perasaan karena sebenarnya aku phobia tinggi. Tapi seperti biasa aku selalu menantang diri sendiri sampai ke batasan. Dan, hei, bukankah bagus melakukan sesuatu yang mendebarkan sekali seumur hidup?
Sambil menikmati langit, angin dan panorama indah kota Batu, Sang Tandem bercerita bahwa paralayang di Gunung Banyak terbagus dan paling menantang di Indonesia. Aku tidak tahu sih karena ini pengalaman pertamaku berparalayang. Tapi memang indah pemandangan dari atas sini. Kota Batu, Malang, yang berkontur dataran tinggi terhampar indah di bawah sana.
Bergerak parasut mengikuti arah angin menuju spot untuk mendarat. Tiba-tiba sisi romantisku menyeruak dengan naif-nya, bertanya “Bisakah kita berparalayang di malam hari sambil ber-candle light dinner?”
Hahaha. Mulai deh ngaco! Ini flying bukan sekedar ‘fly’.

image

Advertisements